Ceramah#5
📖 Menuntut Ilmu Itu Bukan Tren, Tapi Jalan Hidup
🖊️ Ust. Nuruddin Abu Faynan
🗂️ Dinukil dari Khulashah Ta’dzimil ‘Ilmi karya Syaikh Dr. Shalih Al-‘Us...haimi حفظه الله
---
🎙️ Pembukaan: Ilmu Itu Trendy, Tapi Jangan Cuma Tren!
Jamaah yang dirahmati Allah…
Sekarang ini, semangat ngaji lagi naik daun.
Ada yang rajin ikut kajian, ada yang share quote ustadz di story, bahkan ada yang baju dan tasnya udah bertuliskan “pejuang ilmu.”
Bagus sih. Tapi…
Apakah semua itu karena cinta ilmu? Atau cuma biar keliatan ‘islami’?
Syaikh Shalih berkata:
> “Sedikit atau banyaknya ilmu tergantung sejauh mana kita mengagungkannya.”
Jadi bukan soal berapa kitab yang kita baca, tapi seberapa serius hati kita menghormati ilmu.
---
🌱 1. Bersihin Hati Sebelum Diisi Ilmu
Ilmu itu kayak air jernih.
Kalau dituang ke gelas kotor, airnya ikut keruh.
Kalau masuk ke hati yang kotor karena maksiat, dengki, sombong—ilmu pun gak akan menetap.
YukNgaji Ibadah
🌿 Talbiyahmu, Jawaban Cinta...
Nuruddin Abu Faynan
Assalamu’alaikum warahmatullah, jamaah yang dimuliakan Allah...
Saat kita mengenakan ihram n...anti di tanggal 8 Dzulhijjah, lisan ini akan terus mengucap:
> "Labbaikallahumma labbaik..."
Tapi...
sudahkah hati kita ikut menyambut panggilan-Nya?
Talbiyah itu bukan sekadar bacaan.
Ia adalah jawaban cinta,
dari seorang hamba yang berkata:
> “Aku datang, ya Allah… aku penuhi panggilan-Mu…
Bukan karena kuatku, tapi karena Engkau memilihku.”
Dalam talbiyah ada janji suci:
> “Lā syarīka laka.”
“Tiada sekutu bagi-Mu.”
Itu adalah tauhid,
itu adalah keikhlasan,
itu adalah sumpah penghambaan.
Jangan biarkan talbiyah hanya tinggal di lisan,
sementara hati kita masih sibuk dengan selfie, belanja, atau ingin dilihat manusia.
Ingatlah...
ketika kita mengucap Labbaik,
kita sedang menjawab panggilan Allah yang dulu diserukan oleh Nabi Ibrahim `alayhis salam:
> “Dan serukanlah kepada manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu...”
(QS. Al-Hajj: 27)
Dan... kita datang!
Dari tanah air yang jauh. Dari segenap penjuru dunia.
Kita datang karena Allah yang memanggil.
Maka, penuhilah panggilan itu dengan hati,
bukan hanya langkah kaki.
Jadikan setiap talbiyah sebagai bisikan rindu kepada Allah.
Bukan sekadar bacaan, tapi pengakuan bahwa kita ini hanya hamba.
> Labbaikallahumma labbaik...
Semoga Allah menerima kedatangan kita,
dan menjadikan haji ini mabrur. Āmīn.
#YukNgaji Ibadah
"Rahasia Pahala Maksimal di 10 Hari Pertama Dzulhijjah" – Bagian #2
Ust. Nuruddin Abu Faynan
3. Puasa di 9 Hari Pertama Dzulhijjah
.../>
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa di hari-hari mulia ini. Dalam sebuah hadits disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ
“Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa sembilan hari Dzulhijjah.”
(HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i; dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud no. 2437)
Gak harus puasa full dari hari pertama sampai kesembilan. Lakukan sebisanya. Yang penting ada niat dan ikhtiar.
4. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah): Jangan Lewatkan!
Sehari puasa, dua tahun ampunan? Iya, ini bukan slogan promo akhir tahun, tapi janji langsung dari Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
“Puasa Arafah itu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR. Muslim, no. 1162; Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 8/43)
Ini hadiah tahunan dari Allah, bukan diskon tahunan. Rugi banget kalau dilewatkan.
5. Hari Raya: Bertakbir Sepanjang Jalan
Idul Adha bukan sekadar hari daging—ini hari syiar!
“Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam keluar menuju tempat shalat dengan bertakbir.”
(HR. Al-Bukhari secara mu’allaq, disambungkan sanadnya oleh Al-Baihaqi; lihat Shahih Al-Jami’ no. 4934 oleh Al-Albani)
Ibnu ‘Umar radhiyallāhu ‘anhuma bahkan terus bertakbir dari rumah sampai ke lapangan, hingga imam datang.
(Lihat: Irwā’ul Ghalīl oleh Al-Albani, 3/122)
Dan Allah berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah. Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu sesungguhnya berasal dari ketakwaan hati.”
(QS. Al-Hajj: 32)
Penutup: Gak Ada Waktu Lebih Berkah dari Ini
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah itu istimewa. Amal sekecil apapun bisa jadi luar biasa. Dzikir, puasa, sedekah, takbir—semuanya dilipatgandakan.
Jangan tunda. Jangan lewatkan. Ayo maksimalkan!
Selesai
Semoga Allah mudahkan langkah kita, kuatkan ibadah kita, dan terima semua amal kita.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
🧭 Sandaran Hati: Kepada Siapa Kita Gantungkan Harapan?
Oleh: Ust. Nuruddin Abu Faynan
1. Introspeksi: Ke Mana Kita Bersandar Saat Resah?
Saat menghadapi kegelisahan,... sering kali kita mencari pelarian ke hal-hal duniawi: membuka media sosial, mencari "solusi instan" seperti jimat, bacaan tertentu yang dianggap sakti, atau bahkan mendatangi orang pintar. Padahal, Rasulullah ﷺ telah memperingatkan:
"Barangsiapa menggantungkan diri pada sesuatu, maka dia akan diserahkan kepadanya."
(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim)
Artinya, jika kita bersandar pada selain Allah, maka Allah akan membiarkan kita bergantung pada hal tersebut tanpa pertolongan-Nya.
2. Makna Mendalam di Balik Hadits
Kata "شيئًا" (sesuatu) dalam hadits tersebut bersifat umum, mencakup segala bentuk benda atau makhluk yang dijadikan sandaran selain Allah. Ini termasuk:
Jimat, seperti gelang, kalung, atau benda lain yang diyakini membawa keberuntungan.
Doa-doa atau bacaan yang tidak ada tuntunannya dalam syariat.
Keyakinan terhadap benda pusaka atau makhluk lain yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
Menggantungkan diri (ta'alluq) bisa terjadi dalam tiga bentuk:
Dengan hati, misalnya meyakini bahwa suatu benda dapat menolak bala.
Dengan perbuatan, seperti mengenakan jimat.
Gabungan keduanya, yaitu percaya dan juga menggunakan benda tersebut.
3. Tauhid: Bukan Sekadar Teori
Tauhid bukan hanya pelajaran di buku, tetapi harus tertanam dalam hati. Kita harus menyandarkan harapan, rasa takut, dan cinta hanya kepada Allah. Firman Allah:
"Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Allah cukup baginya."
(QS. At-Talaq: 3)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Taufik adalah ketika Allah tidak menyerahkanmu kepada dirimu sendiri. Namun kehinaan adalah ketika Allah membiarkanmu mengurus dirimu sendiri."
(Al-Fawaid, hal. 90)
4. Peringatan Rasulullah ﷺ
Dari Ruwaifi‘ bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
"Wahai Ruwaifi‘, mungkin kamu akan hidup lebih lama dari sekarang. Maka sampaikanlah kepada manusia bahwa barangsiapa mengikat jenggotnya, atau menggantungkan tali (jimat), atau beristinja dengan kotoran atau tulang, maka Muhammad ﷺ berlepas diri darinya."
(HR. Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya)
Penjelasan:
Mengikat jenggot: Bisa jadi karena kesombongan, pamer, atau mengikuti ritual tertentu.
Menggantungkan tali (jimat): Termasuk syirik kecil karena menggantungkan perlindungan pada selain Allah.
Beristinja dengan kotoran atau tulang: Dilarang karena tulang adalah makanan para jin muslim, dan menggunakan kotoran tidak sesuai dengan adab bersuci dalam Islam.
5. Menghilangkan Kemungkaran
Diriwayatkan dari Sa‘id bin Jubair rahimahullah:
"Barangsiapa memotong (melepaskan) tamimah (jimat) dari seseorang, maka itu sebanding dengan pahala memerdekakan seorang budak."
Ini menunjukkan bahwa menghilangkan kemungkaran, terutama yang berkaitan dengan tauhid, adalah amalan yang sangat mulia. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman."
(HR. Muslim)
6. Penutup: Kembali kepada Tauhid
Di era modern ini, dengan segala kemudahan dan kecepatan informasi, jangan sampai hati kita mudah bersandar kepada selain Allah. Tauhid adalah pondasi utama dalam Islam. Keselamatan umat bukan karena banyaknya dzikir tanpa pemahaman, tetapi karena lurusnya tauhid dan kuatnya tawakal kepada Allah.
Semoga kita termasuk orang-orang yang hanya menggantungkan diri kepada Allah, bukan kepada benda, manusia, atau keyakinan tak berdasar.
---
Catatan:
Disarikan dari Bugyatul Mustafid, hlm. 111–115, karya Dr. Mansur Asy-Syaq‘ub, dengan penyesuaian dan penambahan ringan agar lebih mudah dipahami.
Presentasi PowerPoint
Sandaran Hati: oleh rifaldi khodijah"
target="_blank"
class="ppt-download-btn">
Buka di Tab Baru
“Rahasia Pahala Maksimal di 10 Hari Pertama Dzulhijjah”#1
Ust. Nuruddin Abu Faynan
Assalamu’alaikum, teman-teman!
Per...nah nggak sih, ngerasa ibadah udah rutin, tapi kayak nggak nambah “bobot” di timbangan akhirat? Tenang, bisa jadi kamu belum kenal momen spesial ini: 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.
Ini bukan sekadar sepuluh hari biasa—ini waktu paling mahal dalam setahun. Amal kecil bisa jadi besar, amal besar bisa jadi luar biasa. Yuk, kita kupas bareng-bareng!
1. Perbanyak Amal Shalih, Apa Saja!
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Tidak ada hari di mana amal shalih lebih dicintai Allah dibanding sepuluh hari ini."
Para sahabat bertanya: "Bahkan jihad, ya Rasulullah?"
Beliau menjawab:
"Bahkan jihad pun tidak, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan apa-apa."
(HR. Abu Dawud; dinilai shahih oleh Al-Albani, Shahih Sunan Abi Dawud no. 2438)
Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
“Semua amal di sepuluh hari ini dilipatgandakan... Sa’id bin Jubair sampai berkata: ‘Kalau bisa, jangan matikan lampu di malam-malam ini. Saya suka banget lihat orang giat ibadah.’”
(Lathaaiful Ma’aarif, hlm. 367)
2. Perbanyak Dzikir: Bikin Hati Hidup, Langit Tersenyum!
Allah Ta’ala berfirman:
{...dan agar mereka menyebut nama Allah di hari-hari yang telah ditentukan...}
(QS. Al-Hajj: 28)
Mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa hari-hari yang ditentukan itu adalah 10 hari pertama Dzulhijjah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
"Tidak ada hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah untuk beramal selain 10 hari ini. Maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid."
(HR. Tirmidzi & Abu Dawud; hasan)
Bahkan Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar khusus untuk menghidupkan takbir!
“Sakit Itu Bukan Hukuman, Tapi Tiket Naik Kelas”
Oleh Ust Nuruddin Abu Faynan
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,
Sobat-sobat yang Allah cintai…
K...ita hari ini bahas hal yang relate banget: ujian hidup, khususnya sakit. Siapa sih yang seneng sakit? Tapi tahu nggak? Dalam pandangan Islam, sakit itu bukan cuma derita—tapi bisa jadi bentuk cinta Allah yang lagi ngajak kita naik level.
Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili hafizhahullah pernah bilang dalam Syarh Al-Washiyyah Ash-Shughra, hlm. 81
"فإذا نزل بك البلاء فانظر إلى نِعَم الله عليك..."
Saat kamu ditimpa ujian, coba lihat lagi nikmat-nikmat Allah yang masih kamu punya.
Misalnya kita sakit. Oke, badan lemes, demam naik-turun. Tapi... jantung masih berdetak, mata masih bisa lihat, tangan masih bisa bergerak. Nikmatnya banyak banget, cuma kadang kita lupa karena fokusnya cuma ke yang sakit.
Terus beliau lanjut:
"فالذي ابتلى هو الذي أنعم بلا انتهاء"
Yang ngasih ujian itu, adalah Allah yang juga ngasih nikmat tanpa henti.
Allah nggak pernah kejam. Justru ujian itu bisa jadi penghapus dosa dan jalan naik kelas. Seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan:
"ما يصيب المسلم من نصب ولا وصب ولا همٍّ ولا حزن ولا أذى ولا غمٍّ، حتى الشوكة يُشاكها، إلا كفَّر الله بها من خطاياه"
"Nggak ada musibah yang menimpa seorang Muslim—baik rasa capek, sakit, sedih, atau luka—bahkan duri kecil sekalipun, kecuali Allah akan hapus dosa-dosanya karenanya."
(HR. Bukhari & Muslim)
MasyaAllah…
Dan jangan lupa juga ayat ini, yang jadi pegangan saat hati lagi goyah:
﴿وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ﴾
﴿الَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ﴾
﴿أُو۟لَـٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌۭ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۭ ۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ﴾
"Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yaitu yang ketika tertimpa musibah mereka berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Mereka itulah yang mendapat keberkahan dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
(QS. Al-Baqarah: 155–157)
Jadi kalau kamu lagi diuji, jangan langsung merasa ditinggalin. Justru bisa jadi Allah lagi ngajak kamu makin dekat. Ujian itu bukan tanda Allah benci—tapi cara Allah bilang:
"Aku nggak mau kamu stuck di sini. Aku mau kamu naik kelas."
Penutup:
Jangan cuma lihat lukanya...
Lihat juga semua yang masih utuh.
Allah nggak pernah asal-asalan ngasih ujian. Di balik semua rasa perih itu, ada maksud baik yang belum kita pahami.
Semoga Allah kuatkan kita semua buat sabar, dan semoga setiap ujian yang kita hadapi jadi sebab naiknya derajat kita di sisi Allah. Aamiin.
YukNgaji Ibadah
Kenapa 10 Hari Pertama Dzulhijjah Itu Spesial?
Tagline: Ini Jawaban dari Qur’an dan Sunnah!
Oleh: Ust. Nuruddin Abu Faynan
Pembuka
...Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm...
Sahabat yang dirahmati Allah,
Pernah kepikiran nggak, kenapa pas masuk bulan Dzulhijjah banyak orang tiba-tiba jadi lebih rajin? Yang biasanya jarang puasa, mendadak puasa. Yang biasanya sibuk, tiba-tiba rajin sedekah, dzikir, bahkan nambah tilawah. Ada apa dengan 10 hari pertama Dzulhijjah?
Jawabannya: karena hari-hari itu istimewa banget di sisi Allah. Bukan katanya ustadz, tapi langsung dari dalil Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
[1] Dalil dari Al-Qur’an
a. QS. Al-Ḥajj: 28
> لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan...”
(QS. Al-Ḥajj: 28)
Para sahabat dan ulama salaf menafsirkan “الأيام المعلومات” sebagai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Di antaranya:
Ibnu ‘Abbās
Ibnu ‘Umar
Abu Mūsā al-Asy‘arī
Qatādah
Mujāhid, dan lainnya.
Ini juga merupakan pendapat dari madzhab Ḥanafī, Syāfi‘ī, dan Aḥmad.
Dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī disebutkan:
> وقال ابن عباس: "أيام معلومات": أيام العشر، و"الأيام المعدودات": أيام التشريق.
Ibnu ‘Abbās berkata: “Hari-hari yang dimaklumi” adalah 10 hari pertama Dzulhijjah, dan “hari-hari yang dihitung” adalah hari-hari tasyriq.
Artinya:
“Tidak ada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (yakni 10 hari pertama Dzulhijjah).”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bahkan jihad di jalan Allah pun tidak lebih utama?”
Beliau menjawab, “Bahkan jihad pun tidak, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali sedikit pun darinya.”
(Lihat penjelasan dalam:
Al-Jāmi’ li Aḥkām al-Qur’ān 2/4
Tafsīr Ibnu Katsīr 4/154
Fatḥul Bārī 2/589
Tafsīr Aṣ-Ṣaḥīḥ 3/411)
Kesimpulan: Waktunya Gas Ibadah!
Kalau kita bisa semangat di 10 malam terakhir Ramadan, kenapa kita lewatkan 10 hari pertama Dzulhijjah — padahal ini waktu yang paling dicintai Allah untuk beramal?
Mulai dari sekarang:
Niat puasa Arafah, Senin-Kamis, atau Yaumul Bidh
Tambah dzikir: istighfar, takbir, tahlil
Sedekah walau recehan
Tilawah Qur’an
Dan bagi yang mampu: berqurban
Jangan tunggu nanti, karena Allah sudah buka “celengan pahala” besar-besaran!
Tarbiyah Itu Nggak Cuma Ngajar, Tapi Numbuhin Jiwa
Ust. Nuruddin Abu Faynan
Assalamu’alaikum warahmatullāh…
Kalau dengar kata ...tarbiyah, apa yang langsung kebayang? Mentoring? Ngajar anak-anak? Kelas pekanan?
Padahal, tarbiyah itu maknanya jauh lebih luas. Bukan cuma ngajarin ilmu, tapi membentuk jiwa—secara perlahan, bertahap, dan berkelanjutan.
Makna Bahasa Tarbiyah
Secara bahasa, tarbiyah berasal dari kata kerja rabba—yang artinya: menumbuhkan, memelihara, dan mengembangkan.
Ar-Rāghib al-Aṣfahānī menjelaskan dalam Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān:
الرَّبُّ: هو المُنْشِئُ لِلشَّيْءِ حَالًا فَحَالًا إِلَى أَنْ يَبْلُغَ إِلَى كَمَالِهِ
“Ar-Rabb adalah yang membentuk sesuatu dari satu keadaan ke keadaan berikutnya sampai mencapai kesempurnaan.”
(Al-Mufradāt, hlm. 184)
Makanya Allah disebut Ar-Rabb, karena Dialah yang mendidik dan membina makhluk dari nol sampai sempurna.
Ibnu Manzhūr juga berkata dalam Lisān al-‘Arab:
رَبَّ الوَلَدَ: أَدَّبَهُ وَقَوَّمَهُ، وَرَبَّاهُ، أَيْ سَاسَهُ وَقَامَ بِمَصَالِحِهِ
“Rabba al-walad berarti mendidik anak, mengajarinya adab, membimbing, dan mengurus semua urusannya.”
(Lisān al-‘Arab, 1/399)
Jadi jelas, tarbiyah bukan sekadar ngajarin pelajaran, tapi membentuk akhlak, mengarahkan hati, dan menemani pertumbuhan jiwa.
Tarbiyah dalam Islam
Dalam buku Asās at-Tarbiyah al-Islāmiyyah fī as-Sunnah an-Nabawiyyah dijelaskan:
“Tarbiyah adalah proses pembentukan kepribadian manusia secara menyeluruh dan seimbang—ruhiyah, aqliyah, dan jasadiyah—agar mampu menjalani kehidupan dengan nilai-nilai Islam.”
Artinya, tarbiyah bukan cuma transfer ilmu, tapi juga transformasi jiwa.
Tarbiyah Harus Bertahap
Ulama salaf sangat paham pentingnya tarbiyah yang bertahap. Tidak bisa instan.
Mujāhid rahimahullāh berkata:
الرَّبَّانِيُّونَ: الَّذِينَ يُرَبُّونَ النَّاسَ بِصِغَارِ العِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ
“Rabbāniyyūn adalah orang-orang yang mendidik manusia dengan ilmu-ilmu kecil sebelum ilmu-ilmu besar.”
(Tarbiyat an-Nabiyy li Aṣḥābih, hlm. 12)
Artinya, proses pendidikan harus sesuai levelnya. Jangan buru-buru ngajarin yang berat kalau yang dasar aja belum paham.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan:
وَلَمْ يَكُنْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ رَبَّانِيُّونَ، لِأَنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْرِفُونَ دِينًا مِنْ عِنْدِ اللهِ
“Pada masa jahiliyyah, tidak ada rabbāniyyūn karena mereka belum mengenal agama yang diturunkan dari sisi Allah.”
(Majmū‘ al-Fatāwā, 1/63)
Jadi keberadaan rabbāniyyūn itu ciri khas umat yang punya wahyu dan misi kenabian.
Penutup
Tarbiyah itu bukan program mingguan. Tapi misi seumur hidup.
Mulai dari diri sendiri. Lanjut ke keluarga. Lalu ke lingkungan.
Mulailah dari yang kecil tapi penting:
Pelajari ilmu dasar.
Perbaiki akhlak dan lisan.
Jaga hati, rawat iman.
Karena tarbiyah itu bukan sekadar tumbuh...
Tapi juga menumbuhkan.
Bukan Hanya Cinta, Anak Butuh Doa yang Menjaga
Oleh: Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Pembuka
Cinta orang tua kepada anak itu fitrah. Tapi cint...a yang sejati bukan hanya tentang pelukan hangat dan kata-kata manis. Cinta yang sejati adalah yang memikirkan keselamatan anak—bukan cuma di dunia, tapi juga di akhirat. Dan salah satu bentuk cinta paling tulus dan ampuh adalah doa yang menjaga.
Di dunia yang penuh fitnah ini, anak-anak kita bukan hanya butuh pendidikan, perhatian, atau fasilitas yang baik, tapi juga butuh perlindungan spiritual. Sebab ada hal-hal yang tak terlihat oleh mata, tapi nyata mengintai: gangguan setan, mata hasad, dan penyakit hati. Maka, mari kita jaga mereka dengan perlindungan terbaik yang diajarkan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam.
1. Doakan Anakmu, Bukan Hanya Ucapkan Kata-Kata
Islam mengajarkan agar kita membacakan ruqyah syar’iyyah untuk anak-anak, yakni ayat-ayat Al-Qur’an yang berfungsi sebagai penjaga dan pelindung. Terutama pada pagi dan sore hari—atau kapan pun sempat.
Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam terbiasa membaca al-Mu‘awwidzat (tiga surat terakhir Al-Qur’an):
Surat Al-Ikhlash
Surat Al-Falaq
Surat An-Naas
Caranya: dibaca masing-masing tiga kali, ditiupkan ke telapak tangan, lalu diusapkan ke tubuh anak.
Rasulullah sendiri rutin melakukan ini. Bahkan bila ada sahabat atau keluarga yang sakit, beliau juga membacakan ayat-ayat ini untuk mereka.
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ كَانَ إِذَا اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَفَثَ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ
“Dulu Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam ketika sakit, beliau meniupkan ke tubuhnya dengan bacaan al-Mu’awwidzāt.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan beliau pun melakukan ini setiap malam untuk diri beliau sendiri, sebelum tidur.
2. Doa Perlindungan Khusus untuk Anak-Anak
Satu doa yang sangat istimewa pernah dibacakan langsung oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam untuk cucu-cucu beliau: Hasan dan Husain. Doa ini sangat indah dan padat makna:
«أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ»
“Aku mohon perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, binatang berbisa, dan dari pandangan mata yang jahat.”
(HR. Bukhari)
Ini bukan sekadar rangkaian kata—ini pelindung yang kuat. Doa ini bisa kita bacakan untuk anak-anak kita, setiap hari. Dan lebih dari itu, ajarkan juga kepada mereka, agar mereka terbiasa melindungi dirinya dengan izin Allah, terutama saat kita tak lagi bisa menjaga mereka secara langsung.
Kesimpulan: Cinta Sejati Itu Mengantar Sampai Surga
Cinta orang tua sejati adalah cinta yang tak pernah putus, bahkan setelah anak-anak tumbuh dewasa, bahkan saat kita sudah tak ada di dunia. Maka, jangan biarkan anak kita hanya tumbuh dengan kasih sayang lisan, tapi tumbuhkan mereka dengan doa-doa penuh kekuatan iman.
Doa-doa ini akan jadi selimut tak kasat mata, penjaga di saat gelap, tameng dari marabahaya yang tak terlihat. Doakan mereka dengan sepenuh hati, sebagaimana Nabi mencintai cucu-cucunya. Semoga dengan itu, Allah menjaga anak-anak kita, lahir dan batin.
Referensi:
Shahih Bukhari no. 3371 dan Shahih Muslim no. 2192
Tafsir Ibn Katsir dalam penjelasan surat Al-Falaq dan An-Naas
Fiqh Tarbiyatul Abna’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi
Hisnul Muslim – Doa dan Dzikir dari Al-Qur’an dan As-Sunnah
Bismillah.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan kepada kita anak-anak, sebag...ai amanah sekaligus ladang amal yang besar. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, teladan terbaik kita dalam semua aspek kehidupan—termasuk dalam mendidik generasi penerus umat ini.
Sahabat yang dirahmati Allah,
Setiap orang tua pasti punya satu doa besar dalam hidupnya: ingin punya anak sholeh. Anak yang taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, jadi penyejuk mata dan penentram hati.
Makanya, kita berikhtiar keras:
Mencarikan sekolah terbaik, mendaftarkan ke TPA, menitipkan ke pesantren, bahkan banting tulang siang malam demi masa depan mereka.
Tapi, ada satu hal penting yang kadang kita lupa:
Hidayah tetap milik Allah.
Kita bisa mengantar anak-anak kita ke pintu kebaikan, tapi hanya Allah yang bisa membukakan pintu itu. Kita bisa menanamkan nilai-nilai, tapi hanya Allah yang mampu menumbuhkan iman di dalam hati mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi."
(QS. Al-A'raf: 178)
"Kalau Kami menghendaki, tentu Kami beri petunjuk kepada setiap jiwa."
(QS. As-Sajdah: 13)
Artinya, sehebat apa pun usaha kita, kalau Allah belum memberikan taufik, hasilnya bisa tak sesuai harapan.
Sebaliknya, kalau Allah menjaga seorang anak, meski tanpa fasilitas lengkap, tanpa lingkungan ideal, dia tetap bisa tumbuh menjadi anak sholeh yang luar biasa.
Biar makin mantap, yuk kita lihat kisah-kisah nyata dari Al-Qur’an:
1. Nabi Nuh ‘alaihissalam: Anak Tak Selalu Ikut Orang Tua
Nabi Nuh berdakwah lebih dari 900 tahun, tapi anak kandungnya sendiri menolak iman.
Saat banjir besar datang, Nabi Nuh memanggil anaknya:
"Wahai anakku, naiklah bersama kami dan jangan bersama orang-orang kafir."
(QS. Hud: 42)
Tapi apa jawabannya?
"Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang bisa menyelamatkanku dari air bah."
(QS. Hud: 43)
Akhirnya, anak itu tenggelam bersama orang-orang yang ingkar.
Pelajaran:
Bahkan seorang nabi pun tidak mampu memberikan hidayah kepada anaknya. Hidayah sepenuhnya hak Allah.
2. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam: Anak Sholeh dari Ayah Kafir
Ibrahim tumbuh menjadi pejuang tauhid, padahal ayahnya penyembah berhala kelas berat.
Allah berfirman:
"Maha Suci Allah, yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan yang mati dari yang hidup."
(QS. Ar-Rum: 19)
Pelajaran:
Lingkungan keluarga yang buruk bukan halangan kalau Allah sudah menanamkan iman dalam hati.
3. Nabi Yusuf ‘alaihissalam: Tanpa Orang Tua, Tapi Tetap Mulia
Yusuf kecil dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, digoda wanita bangsawan, lalu dipenjara.
Hidupnya jauh dari orang tua, penuh ujian berat.
Tapi apa yang terjadi?
Yusuf tetap tumbuh menjadi lelaki sholeh, sabar, dan penuh hikmah.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik penjaga, dan Dia Maha Penyayang dari segala penyayang."
(QS. Yusuf: 64)
Pelajaran:
Tanpa dukungan keluarga pun, kalau Allah menjaga, anak bisa tumbuh luar biasa.
4. Nabi Musa ‘alaihissalam: Dibesarkan di Tengah Kezaliman
Musa kecil dihanyutkan di sungai, lalu diambil oleh keluarga Fir'aun—penguasa yang zalim dan kejam.
Tapi siapa sangka?
Justru di lingkungan itulah Musa tumbuh menjadi nabi yang tangguh.
Pelajaran:
Lingkungan seburuk apapun tidak akan mempengaruhi, kalau Allah yang menjaga.
5. Bocah dalam Surah Al-Kahfi: Anak Kafir dari Orang Tua Mukmin
Dalam kisah Khidhir dan Musa, ada anak dari keluarga beriman.
Sayangnya, anak itu ditakdirkan tumbuh menjadi kafir dan durhaka.
Allah berfirman:
"Kami khawatir ia akan menjerumuskan kedua orang tuanya ke dalam kekafiran dan penderitaan. Maka Kami ingin Allah menggantinya dengan anak yang lebih baik..."
(QS. Al-Kahfi: 80–81)
Pelajaran:
Anak orang baik belum tentu baik. Hidayah itu urusan Allah, bukan sekadar keturunan.
6. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: Yatim, Tapi Jadi Rahmat Alam
Nabi Muhammad lahir dalam keadaan yatim, hidup sederhana, tanpa orang tua yang lama membersamainya.
Siapa yang membimbing beliau?
Allah-lah yang langsung menjaga.
Allah berfirman:
"Dan Allah mendapati engkau dalam keadaan bingung, lalu Dia memberikan petunjuk."
(QS. Adh-Dhuha: 7)
Pelajaran:
Tak ada ayah atau ibu yang sempurna. Tapi penjagaan Allah yang menjadikan beliau rahmat bagi seluruh alam.
Penutup
Maka, wahai para orang tua...
Tetaplah berikhtiar.
Tetaplah mendidik.
Tetaplah berdoa.
Tapi jangan lupa:
Hidayah itu mutlak milik Allah.
Yang membolak-balikkan hati anak-anak kita hanyalah Dia.
Bukan sekadar usaha kita, bukan sekadar sekolah bagus, bukan sekadar lingkungan baik.
Mari kita akhiri dengan doa:
"Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak-anak yang sholeh dan sholehah, yang berbakti kepada-Mu dan kepada kami. Jadikanlah mereka penyejuk mata kami di dunia dan di akhirat."
Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
Sedikit catatan:
Tulisan ini disarikan dari buku Fiqh Tarbiyatul Abna’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi (hlm. 7–10), dengan sedikit penyesuaian bahasa supaya lebih akrab di telinga kita.
Teman-teman yang Allah muliakan,
Coba kita tarik... napas sebentar… dan renungkan:
Dari seluruh tubuh kita, bagian mana yang paling sering bikin masalah?
Bukan tangan yang nempel di keyboard.
Bukan kaki yang suka nyasar ke mall.
Tapi… lisan.
Yes, si kecil yang satu ini ternyata paling banyak “rekam jejak dosa”-nya.
Pernah ada yang tanya ke seorang ulama besar bernama Fudhail bin ‘Iyadh:
“Wahai Imam, apa itu wara‘?”
Beliau jawab singkat, padat, dan mengena:
"Tarkul haram" — meninggalkan yang haram.
Lalu beliau lanjutkan:
"Dan wara‘ yang paling berat itu… ada di lisan."
(Siyar A‘lām an-Nubalā’, 8/434)
Masya Allah. Dalam banget.
Artinya, teman-teman, kalau kita pengen jadi orang yang hati-hati, yang menjaga diri dari dosa, yang ingin dekat dengan Allah…
Mulainya bukan dari lemari makanan atau rekening bank.
Tapi dari mulut.
Dari kata-kata.
Dari apa yang kita posting, komentari, forward, atau becandain.
Karena banyak orang bisa nahan tangan dari nyuri,
tapi nggak kuat nahan lidah dari nyinyir.
Bisa tahan mata dari lihat yang haram,
tapi gak kuat tahan mulut buat gibahin.
“Seseorang bisa tergelincir ke dalam neraka karena satu kata yang dia ucapkan,
yang dia anggap remeh, tapi ternyata berat di sisi Allah.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Serem ya?
Satu kalimat. Satu update status. Satu komen toxic.
Kalau nggak dijaga, bisa jadi tiket neraka.
Makanya, teman-teman, orang yang wara‘ itu bukan cuma yang pakai gamis, pakai peci, atau hafal dalil.
Tapi yang paling kelihatan itu: yang lisannya bersih.
Ngomongnya jujur, halus, bermanfaat, dan… hemat.
Kenapa hemat?
Karena orang bijak itu sadar:
Semakin banyak bicara, semakin besar peluang dosa.
Ada pepatah Arab bilang:
إذا تم العقل، قل الكلام
"Kalau akal seseorang sempurna, bicaranya jadi sedikit."
Jadi, kadang diam itu bukan berarti gak tahu.
Tapi justru tanda orang yang paling tahu:
Kapan bicara, kapan tahan diri.
Tips Simpel Biar Lisan Aman
Tanya dulu sebelum bicara:
“Kalau saya ngomong ini, Allah ridha nggak ya?”
Latih zikir di lisan.
Karena mulut yang sibuk dengan istighfar, shalawat, atau doa,
nggak punya waktu buat gibah, nyinyir, atau ngata-ngatain.
Kalau emosi, tahan dulu.
Tutup mulut, buka wudhu.
Karena lisan saat marah itu kayak pedang—dan yang kena bisa orang yang kita sayang.
Penutup
Teman-teman,
Kalau kita mau dekat dengan Allah,
mau jadi orang yang berkelas di sisi-Nya,
maka latih diri kita untuk jadi orang yang wara‘—minimal mulai dari lisan.
Jangan biarkan lisan yang kecil itu jadi sebab kegagalan besar di akhirat.
Mari kita tutup dengan doa:
اللهم اجعلنا من الذين يحفظون ألسنتهم، واملأ قلوبنا بورعٍ يحجزنا عن معصيتك.
“Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang menjaga lisannya,
dan penuhi hati kami dengan wara‘ yang menahan kami dari maksiat kepada-Mu.”
Yuk Ngaji Tarbiah
📌 Keluarga, Titik Awal Semua Kebaikan
🟢 Oleh: Nuruddin Abu Faynan
Kenapa kita harus bahas keluarga?
Karena kalau keluarga rapuh, masyarakat ...ikut goyah.
Kalau keluarga kuat & taat, masyarakat ikut sehat.
💬 “Perbaikan bangsa dimulai dari rumah.”
Islam sangat perhatian sama urusan keluarga.
Dari keluarga lahir:
👶 Anak shalih
🌱 Calon ulama
👩👧 Ibu tangguh
💫 Pejuang akhirat
Makanya, Islam kasih panduan lengkap soal rumah tangga.
Apa itu keluarga?
👨👩👧👦 Bukan cuma hubungan darah
Tapi juga tempat:
🤝 Tanggung jawab
💛 Cinta
📿 Tumbuh dalam iman
Tujuan keluarga:
✅ Melahirkan generasi shalih
✅ Belajar cinta & tanggung jawab
✅ Menjadi tempat tenang
✅ Membangun peradaban
Gimana cara bangun keluarga kuat?
🔹 Pilih pasangan karena agama
🔹 Nikah karena ibadah, bukan gengsi
🔹 Komunikasi jujur
🔹 Rawat cinta pakai sabar & doa
Rahasia keluarga bahagia itu:
❤️ Bukan rumah mewah, tapi...
🌿 Taqwa & jujur
🗣️ Komunikasi hangat
🙌 Saling bantu
🕊️ Doa yang terus mengalir
💬 "Keluarga yang kuat itu bukan yang tanpa masalah, tapi yang tahu cara menyelesaikannya secara Islami."
Mulai dari rumahmu.
Semoga Allah berkahi setiap keluarga kita.
🌿 Aamiin ya Rabbal ‘alamin
YukNgaji Tarbiah
🟢 Gak Harus Galak
🗣️ Nuruddin Abu Faynan
“…Orang-orang yang menahan amarah, memaafkan sesama, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat... baik.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)
Syaikh Ibnu Baz رحمه الله dikenal sebagai sosok yang dakwahnya lembut, sabar, dan menyejukkan. Beliau pernah berkata:
“Lunaklah dalam bicara. Jangan kasar, kecuali kalau memang terpaksa.”
(Majmū‘ Fatāwā 7/322)
📌 Nabi ﷺ juga bersabda:
“Sikap lembut itu menghiasi sesuatu. Tapi kalau dicabut, justru bikin rusak.”
(HR. Muslim)
🌱 Dakwah itu ngajak, bukan ngegas.
Kalau kita keras, orang bisa kabur.
Tapi kalau kita lembut, siapa tahu hatinya luluh.
Karena dakwah itu… soal hati-hati. 🤲🏻
Wallahul muwaffiq.
YukNgaji Tarbiah
Kembali ke Akar Dakwah yang Lurus
Nuruddin Abu Faynan
Saudaraku,
Syaikh Bin Baz rahimahullah, salah satu ulama besar abad ini, pernah mengi...ngatkan fondasi utama yang harus jadi pijakan setiap orang dalam mengajar, berdakwah, atau mendidik.
Beliau berkata:
> “Wajib bagi para penuntut ilmu dan para da’i, di mana pun mereka berada, untuk menyampaikan dakwah kepada Allah. Mereka harus sabar dalam perjuangan itu, dan dakwah mereka harus bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi ﷺ yang sahih, mengikuti jalan Nabi dan para sahabatnya, serta manhaj salafus shalih.”
(Majmū‘ Fatāwā, 3/123)
Artinya apa?
Kalau kita mau ngajak orang ke jalan Allah, jangan ngawur. Jangan asal semangat tapi gak sesuai tuntunan. Kita harus kembali ke kitabullah dan sunnah Rasulullah ﷺ, bukan hawa nafsu atau tren sesaat.
Dan yang penting: sabar. Karena ngajak orang ke kebaikan itu kadang gak langsung berhasil. Tapi selama jalannya benar—yakni di atas jalan Nabi dan para sahabat—pasti ada berkah dan pertolongan dari Allah.
Semoga kita semua istiqamah berdakwah dengan ilmu, akhlak, dan kesabaran.
YukNgaji Ibadah
Naik Haji: Bukan Cuma Ganti Nama, Tapi Ganti Jiwa
Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Setelah haji atau umrah, yang biasanya paling cepat berubah itu... nama. ...
Bapak Fulan jadi Haji Fulan. Bu Fulanah jadi Hajjah Fulanah.
Dan itu nggak masalah. Bahkan di beberapa tempat, yang belum haji aja kadang nggak berani nyalon RW!
Tapi, yang lebih penting ditanya:
Apakah yang berubah cuma nama?
Atau juga hati dan cara hidup?
Karena haji mabrur itu bukan soal status, tapi soal perubahan diri yang jujur.
Allah Ta‘ala berfirman:
"لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ"
"Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka…”
(QS. Al-Hajj: 28)
Manfaat haji bukan cuma oleh-oleh dan selfie.
Tapi ampunan, penyucian jiwa, dan kedekatan dengan Allah.
Rasulullah bersabda:
"الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ"
"Haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali surga."
(HR. Bukhari & Muslim)
Ciri Orang Pulang Haji dengan Jiwa Baru
1. Hatinya Lebih Lembut
Ia pernah berdiri di Arafah, menangis, bermuhasabah.
Ia sadar: "Aku ini banyak dosa, tapi Allah masih mau undang aku ke rumah-Nya."
2. Lisannya Lebih Terjaga
Belajar dari pengalaman diam di tengah kerumunan,
menahan diri dari debat dan kata-kata tak perlu.
Pulangnya?
Lebih banyak dzikir, lebih sedikit komentar.
3. Ibadahnya Naik Level
Yang berubah bukan cuma baju, tapi juga hati.
Shalat lebih tepat waktu. Tilawah makin rutin. Tahajud tetap jalan.
Ibadahnya bukan lagi rutinitas, tapi kebutuhan.
4. Makin Membawa Damai
Pulang haji itu bukan makin galak, tapi makin tenang dan bijak.
Karena haji mengajarkan kita:
"Yang penting bukan terlihat suci, tapi makin rendah hati."
Wallahu a‘lam.
Semoga Allah jadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diberi kesempatan berhaji dan pulang dengan jiwa yang baru.
“Kalau Kamu Butuh Manusia, Aku Butuh Allah”
Oleh: Ust. Nuruddin Abu Faynan
Yahya bin Mu‘adz rahimahullah dikenal sebagai seseorang yang gemar menyendiri—lebih memilih men...gasingkan diri dari keramaian manusia.
Suatu hari, saudaranya menegur dan berkata kepadanya:
"إن كنتَ من الناس، فلا بد لك من الناس."
"Kalau kamu ini bagian dari manusia, ya kamu pasti butuh manusia!"
Tapi apa jawab Yahya?
"إن كنتَ من الناس، فلا بد لك من الله."
"Kalau kamu memang bagian dari manusia, maka kamu justru lebih butuh Allah."
(Majmū‘ Rasā'il Ibn Rajab, 1/330)
Subhanallah, teman-teman...
Kadang kita terlalu sibuk mencari pengakuan dari manusia, validasi dari manusia, perhatian dari manusia...
Sampai kita lupa, bahwa kebutuhan terbesar kita bukan untuk dilihat manusia, tapi untuk diperhatikan oleh Allah.
Bersosialisasi? Boleh.
Ngobrol, kerja bareng, kumpul? Silakan.
Tapi jangan sampai hati ini lebih condong ke makhluk daripada ke Sang Khaliq.
Karena kalau semua orang meninggalkan kita, tapi Allah dekat... itu cukup.
Tapi kalau semua orang hadir, tapi Allah jauh... hati tetap akan terasa kosong.
"إن كنتَ من الناس... فلا بد لك من الله."
"Kalau kamu bagian dari manusia... maka kamu lebih butuh Allah."
YukNgaji Mutiara Salaf
🕋 Ampunan Allah Lebih Mudah dari yang Kita Kira
🎙 Fudhail bin ‘Iyadh – rahimahullah
📝 Nuruddin Abu Faynan
Bayangin…
Di ...Arafah, orang-orang menangis, menengadahkan tangan minta ampun.
Fudhail bin ‘Iyadh melihat mereka, lalu berkata:
"Kalau semua orang ini datang ke satu orang dan minta recehan, serupiah aja… kira-kira ditolak nggak?"
Mereka jawab, “Enggak mungkin…”
Beliau berkata:
"Demi Allah, ngasih ampunan itu jauh lebih mudah bagi Allah,
daripada seseorang ngasih serupiah ke orang yang minta."
😭 MasyaAllah…
Kita ini cuma perlu satu hal:
datang dengan hati yang sungguh-sungguh.
📍Arafah itu momentum. Tapi pintu taubat Allah…
Selalu terbuka, kapan pun.
#YukNgajiIbadah
Tata Cara Haji: Persiapan di Miqat – Biar Gak Kaget di Garis Start!
Ust. Nuruddin Abu Faynan
Sampai di miqat (titik awal ihram), jangan asal niat...! Ada beberapa amalan sunnah yang disarankan. Ibaratnya, ini warming up sebelum masuk ke ibadah terbesar seumur hidup.
1. Mandi dan Pakai Wewangian (Tapi Bukan di Kain Ihram)
Disunnahkan mandi seperti mandi junub, lalu pakai wewangian di tubuh, bukan di kain ihram.
Dalil:
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
"Aku memakaikan minyak wangi ke tubuh Nabi sebelum beliau berihram."
(HR. Bukhari no. 1539)
2. Bersih-Bersih Sebelum Niat
Sebelum masuk ihram, dianjurkan:
Potong kuku
Cabut bulu ketiak
Cukur bulu kemaluan
Biar lebih bersih, segar, dan siap total ibadah!
3. Pakaian Ihram: Beda Cowok-Cewek
Laki-laki:
Pakai 2 kain: izar (bawah) & rida’ (atas)
Tanpa baju berjahit, tanpa tutup kepala, dan pakai sandal
Dalil:
"Berihramlah dengan izar, rida’, dan sandal."
(HR. Bukhari no. 1542)
Perempuan:
Pakai baju biasa yang menutup aurat
Jangan berdandan mencolok (tabarruj)
Gak wajib warna putih
Gak boleh pakai cadar dan sarung tangan
Dalil:
"Wanita berihram tidak boleh bercadar dan tidak boleh memakai sarung tangan."
(HR. Bukhari no. 1838)
4. Nutup Wajah, Boleh Gak?
Boleh, asal bukan pakai cadar. Cukup julurkan jilbab dari atas kepala kalau ada laki-laki non-mahram lewat.
Dalil:
Asma’ bintu Abu Bakar radhiyallahu ‘anha berkata:
"Kami tutup wajah dengan jilbab saat ada laki-laki lewat, dan membukanya lagi setelah mereka pergi."
(HR. Abu Dawud no. 1833 – Hasan menurut Al-Albani)
Catatan Penting
Ini baru start line. Persiapan di miqat penting banget buat memastikan ibadah haji kita dimulai dengan niat yang benar dan sesuai sunnah.
Bersambung ke bagian selanjutnya: Niat & Talbiyah, Masuk ke Zona Ibadah!
Kalau bermanfaat, jangan lupa share ya!
#HajiItuIlmu #JanganAsalBerangkat #ManasikKekinian
YukNgaji Parenting
🧼 Jangan Biarin Anak Kita Kumuh: Bersih Itu Bagian dari Iman
Nuruddin Abu Faynan
🌟 Menjaga kebersihan anak — bajunya, badannya, penampilannya ... bukan cuma soal gaya. Tapi bagian dari ajaran Islam, ibadah yang dicontohkan para orang saleh zaman dulu.
📖 Allah ﷻ berfirman:
> يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ
"Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian terbaik kalian setiap kali ke masjid."
(QS. Al-A‘rāf: 31)
> وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
"Dan pakaianmu, maka bersihkanlah."
(QS. Al-Muddatsir: 4)
🕊️ Rasulullah ﷺ juga bersabda:
> إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
"Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan."
(HR. Muslim)
---
📌 Tapi faktanya… masih banyak yang cuek.
Anak dibiarkan lusuh, baju kotor, wajah penuh debu, rambut jadi sarang kutu, tubuh dikerubungi lalat, dan mulut belepotan ingus atau air liur.
💔 Ini bukan soal “gak punya gaya”, tapi soal kurangnya perhatian dari orang tua.
---
📚 Catatan penting:
Ini bukan cuma soal fisik. Tapi soal harga diri, kesehatan, dan tanggung jawab iman.
Sumber: Fiqh Tarbiyatul Abna’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hlm. 56–57, dengan penyesuaian bahasa.
---
🎯 Menjaga kebersihan anak = mendidik dengan cinta.
Biar anak tumbuh bukan cuma beriman, tapi juga percaya diri dan rapi.
🧼 Yuk, rawat anak-anak kita.
Karena bersih itu bagian dari iman — dan anak-anak kita adalah cerminan siapa kita sebagai orang tua.
#YukNgajiIbadah
Kenapa Harus Kurban? Ini Bukan Sekadar Potong Hewan!
Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Kurban itu bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah ibadah agung, sarat m...akna spiritual dan sosial. Di balik sembelihan itu, tersimpan banyak hikmah yang bernilai besar:
[1] Hikmah Kurban
1. Mendekatkan diri kepada Allah
Sebagaimana firman-Nya:
“Maka dirikanlah salat untuk Rabbmu dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
2. Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, sang imam para ahli tauhid.
“Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar.”
(QS. As-Saffat: 107)
3. Menumbuhkan kebahagiaan dalam keluarga
Kurban adalah momen berkumpul, berbagi, dan mensyukuri nikmat Allah bersama orang-orang tercinta.
4. Berbagi dengan yang membutuhkan
“Makanlah sebagian darinya, dan berikanlah kepada orang fakir yang sangat membutuhkan.”
(QS. Al-Hajj: 28)
5. Tanda syukur atas nikmat hewan ternak
“Demikianlah Kami tundukkan hewan-hewan itu untuk kalian, agar kalian bersyukur.”
(QS. Al-Hajj: 36)
(Disarikan dari Minhājul Muslim karya Syaikh Abu Bakar Al-Jazā’irī, hlm. 366–367)
[2] Ancaman bagi yang Mampu tapi Enggan Berkurban
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
> “Siapa yang punya kelapangan (mampu berkurban), tapi tidak melakukannya, maka jangan dekat-dekat tempat salat kami.”
(HR. Ibnu Mājah. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Mājah, 2/82, no. 2549)
Masih ragu untuk berkurban?
Ingat, ini bukan sekadar soal menyembelih hewan.
Ini bukti cinta kepada Allah, wujud syukur atas nikmat, dan tanda kepedulian terhadap sesama.
Kurban bukan beban.
Ia adalah ladang pahala dan tanda keimanan.
---
Ingin ikut Qurban Patungan Sapi Mahad Safeera tahun ini?
Cukup Rp 3.600.000/orang
Konfirmasi via WhatsApp:
+62 813-9439-2976
Transfer ke rekening:
BSI 714 5462 392
a.n. Yayasan Fattahul Khair / Peduli
Nggak Viral, Tapi Bernilai di Langit
Oleh: Ust. Nuruddin Abu Faynan
Teman-teman,
Ngaji itu nggak digaji. Nggak dikasih nilai di atas kertas. Nggak dapet gelar DR juga. Tap...i kita berharap… nilai kita datang dari Allah langsung.
Kenapa? Karena yang kita kejar adalah warisan Nabi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ"
“Sesungguhnya para ulama itu pewaris para nabi.”
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya)
Warisan itu sekarang ditebar di majelis-majelis ilmu. Di masjid, musholla, atau tempat belajar sunnah yang tersebar di banyak tempat. Dan Nabi juga pernah bersabda:
"وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ... إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ"
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya bersama-sama, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, rahmat meliputi mereka, para malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk-makhluk-Nya yang ada di sisi-Nya.”
(HR. Muslim)
Dan taman surga itu, nggak harus selalu di Masjid Darul Fityan.
Selama antum duduk di majelis ilmu yang benar, dari guru yang terpercaya, itulah taman surga… yang menumbuhkan iman, menenangkan hati, dan memperbaiki arah hidup.
Jadi, yuk semangat!
Kita kejar ilmu bukan buat viral,
bukan buat gelar,
tapi buat ridha-Nya.
Karena ngaji itu bukan cuma soal duduk bareng, tapi soal tumbuh bareng. Menuju surga bareng.
YukNgaji Parenting
“Cinta dan Sentuhan Nabi untuk Anak-Anak” 🍼👣
Bayangkan ini...
🌟 Rasulullah ﷺ — manusia paling mulia, pemimpin seluruh anak Adam... — dengan penuh kasih menyeka ingus Usamah bin Zaid dan membersihkan kotoran dari wajahnya. Subhanallah... Seorang Nabi, tapi tetap lembut, perhatian, dan penuh cinta.
📖 Dalam riwayat Bukhari, Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita:
> “Nabi ﷺ ingin menyeka ingus Usamah. Aku berharap akulah yang melakukannya. Tapi beliau berkata:
‘Wahai Aisyah, cintailah dia… karena aku mencintainya.’”
❤️ Betapa dalam cinta Nabi ﷺ kepada anak-anak...
📚 Dalam riwayat Abu Syaibah, Aisyah juga meriwayatkan:
> *“Usamah pernah tersandung ambang pintu hingga wajahnya terluka. Nabi ﷺ berkata padaku,
‘Bersihkan lukanya.’
Lalu aku bersihkan. Beliau sendiri mengisap darahnya, lalu meludahkannya perlahan dari wajah Usamah sambil berkata:
*‘Andai Usamah ini perempuan, pasti aku dandani dan hiasi agar cepat dilamar orang…’” 😄
Dan bukan hanya beliau...
🌹 Fatimah az-Zahra — putri Nabi, wanita paling mulia di surga — pun merawat anaknya dengan penuh cinta dan kelembutan.
📖 Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
> *“Suatu siang Nabi ﷺ keluar. Beliau diam, dan aku pun tidak mengajak bicara.
Sampai di rumah Fatimah, beliau duduk dan bertanya:
‘Apakah si kecil ada?’ (maksudnya cucunya, Hasan atau Husain).
Ia tertahan sebentar — aku kira sedang dipakaikan kalung manik-manik atau dimandikan.
Lalu si kecil datang berlari, Nabi ﷺ memeluknya, menciumnya, dan berdoa:
اللَّهُمَّ أَحِبَّهُ وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُ
‘Ya Allah, cintailah dia, dan cintailah orang yang mencintainya.’”
---
💬 Pelajaran buat kita semua:
🔹 Gak usah gengsi membersihkan anak kita.
🔹 Gak usah jijik menyeka ingus atau darah luka kecil mereka.
🔹 Gak usah pelit ciuman dan pelukan — karena itu sunnah Nabi ﷺ!
Karena… mendidik anak bukan cuma soal kata-kata, tapi soal cinta dan sentuhan. ❤️
---
🖋️ Ditulis dengan cinta dan harapan, agar kita semua meneladani kasih sayang Nabi ﷺ dalam mendidik generasi.
📌 Nuruddin Abu Faynan
📚 Sumber: Fiqh Tarbiyatul Abna’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hlm. 57–58 (dengan penyesuaian dan bahasa kekinian).
YukNgaji Tarbiah
🏡 "Rumah Tanpa Pelukan, Anak Tumbuh Tanpa Empati"
🖋️ Nuruddin Abu Faynan
Anak lahir seperti benih murni.
Kalau tiap hari disiram ...teriakan, dibentak, atau
dibiarkan larut dalam layar,
maka jangan heran kalau ia tumbuh keras kepala,
cuek, dan minim empati.
Nabi ﷺ bersabda:
"Setiap anak lahir di atas fitrah..."
(HR. Bukhari-Muslim)
Tinggal orang tuanya yang akan membentuk—menuju surga atau sebaliknya.
🫂 Maka peluklah sebelum terlambat.
Jangan hanya sibuk mendidik lisan, tapi lupa merawat hati mereka.
🎙 “Biar Katanya Kuno, yang Haq Tetap Nomor Satu”
🗣Nuruddin Abu Faynan
---
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله و...صحبه أجمعين.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang masih menjaga kita di atas iman dan Islam, serta memberi kesempatan untuk duduk dalam majelis ilmu—tempat turunnya rahmat dan ketenangan.
Sahabat sekalian yang dirahmati Allah…
Kita hidup di zaman yang berubah sangat cepat.
Teknologi berkembang, budaya silih berganti, dan nilai-nilai hidup pun terus bergeser. Tapi ada satu hal yang tidak boleh berubah, yaitu kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.
Sering kali hari ini, yang disebut "kuno" justru hal yang benar, dan yang "kekinian" kadang malah jauh dari tuntunan.
Padahal dalam urusan agama,
✅ ukuran kita bukanlah zaman atau selera mayoritas,
melainkan apa yang sesuai dengan wahyu.
---
🧭 Tema Kita Hari Ini:
> “Biar katanya kuno, yang haq tetap nomor satu.”
Karena kebenaran itu tidak akan lekang oleh waktu.
Ia akan tetap indah dan lurus, meski dipandang aneh atau asing oleh zaman.
---
🟡 Tentang Tradisi: Pelan-pelan, Tapi Pasti
Saudaraku yang dirahmati Allah…
Dalam kehidupan kita, banyak hal diwariskan turun-temurun.
Termasuk dalam beragama.
Sebagian dari kita lahir dan tumbuh dengan kebiasaan tertentu:
cara beribadah, cara memperingati hari besar Islam, bahkan bentuk doa-doa yang sudah familiar sejak kecil.
Ini semua tentu tidak bisa langsung kita salahkan.
💡 Karena banyak dari tradisi itu lahir dari niat yang baik: ingin menghormati, ingin mendekatkan diri kepada Allah, ingin menjaga nilai-nilai.
Tapi di sisi lain, kita juga perlu menyadari bahwa niat baik saja tidak cukup.
Dalam agama, yang terpenting adalah sesuai atau tidak dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.
Dan di sinilah tugas kita sebagai penuntut ilmu:
➡️ bukan untuk langsung menyalahkan,
➡️ tapi untuk menyaring: mana yang sejalan dengan sunnah, dan mana yang perlu diluruskan dengan lembut.
---
🟢 Kisah Al-Qur’an yang Relevan
Allah sebutkan dalam Al-Qur’an bahwa banyak umat terdahulu menolak kebenaran hanya karena tidak sesuai dengan kebiasaan mereka.
> 📖 "Kami tidak pernah mendengar ini dari nenek moyang kami…"
(QS. Al-Mu’minun: 24)
Kalimat ini bukan hanya milik kaum Nabi Nuh,
tapi juga sering kita dengar hari ini…
“Masak maulid disebut bid‘ah? Dari dulu kampung saya begitu.”
“Ziarah rame-rame, bacaan khusus — itu tradisi dari kakek saya.”
“Aturan begini? Kuno amat.”
Padahal…
✅ Tradisi bisa baik, bisa juga perlu diperbaiki.
✅ Yang jadi standar kita adalah wahyu, bukan warisan budaya.
---
🧠 Yuk Kita Renungkan...
Kalau semua diukur dari tradisi:
> Maka tidak ada bedanya umat ini dengan umat-umat terdahulu yang enggan berubah meski sudah datang kebenaran.
Dan kita tidak ingin termasuk orang yang menolak petunjuk hanya karena "tidak biasa".
Allah mengutus Nabi ﷺ bukan untuk ikut kebiasaan manusia,
tetapi untuk meluruskan kebiasaan yang tidak sesuai dengan petunjuk-Nya.
---
🔴 Menyikapi Tradisi: Jangan Kasar, Tapi Jangan Diam
Sahabatku...
Ketika kita menemukan suatu kebiasaan yang belum sesuai dengan sunnah,
jangan langsung menghakimi.
Tapi juga jangan membiarkannya tanpa ilmu.
✅ Sampaikan kebenaran dengan tenang,
✅ Bawakan dalil dengan adab,
✅ Ajak dengan kasih sayang.
Karena kita bukan sedang berdebat,
tapi sedang mengajak pada cinta yang sejati — yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
---
📌 Penutup: Jangan Takut Dibilang “Kuno”
Saudaraku…
Jangan ragu mengikuti yang benar, meski itu membuatmu berbeda.
Jangan takut disebut aneh, hanya karena kamu memilih sunnah.
Karena di akhirat nanti, yang akan Allah tanyakan adalah:
> “Apa yang kamu ikuti? Wahyu-Ku, atau sekadar kebiasaan keluargamu?”
Maka...
> “Biar katanya kuno, yang haq tetap nomor satu.”
Semoga Allah tetapkan hati kita di atas kebenaran,
dan lembutkan lisan kita dalam menyampaikannya.
YukNgaji Tarbiah
🕊️ Ilmu yang Bikin Kita Patuh, Bukan Cuma Paham
✍️ Nuruddin Abu Faynan
🗣️“Pernahkah kita bertanya...
Kenapa sih kita diciptakan? ... />
Apa tujuan kita sekolah? Ngaji? Bahkan hidup?”
📚 Al-Imam Ibnu Baz رحمه الله menjawab dengan tegas:
🎙️> "Tujuan manusia diciptakan adalah untuk mengagungkan Allah...
menaati perintah-Nya, meninggalkan larangan-Nya…
curhat hanya pada-Nya, dan bergantung hanya kepada-Nya..."
(Majmū‘ al-Fatāwā 2/11)
📖 Ilmu, kalau nggak bikin kita makin tunduk,
berarti belum nyentuh hati.
🎯 Para pakar pendidikan Islam juga sepakat:
Belajar itu bukan buat keren, tapi buat jadi hamba.
Kata Maajid ‘Arsān:
> “Pendidikan Islam bertujuan membentuk pribadi muslim.”
📖 Ahdaaf at-Tarbiyah al-Islamiyyah, hlm. 45
Dan Miqdād Baljin bilang:
> “Tujuan akhirnya: lahirnya manusia yang benar-benar ibadah kepada Allah.”
📖 Ahdaaf at-Tarbiyah al-Islamiyyah, hlm. 38
🕊️Karena belajar sejati itu…
Bukan bikin kita banyak bicara,
Tapi bikin kita berani taat.
📌 Bukan sekadar paham dalil, tapi patuh kepada Pemilik dalil.
✍️ Nuruddin Abu Faynan
#IlmuYangMengubah
#TujuanHidup
#PendidikanIslam
#NgajiYuk
#TauhidDulu
Usia 40: Titik Balik atau Titik Lengah?
Oleh: Nuruddin Abu Faynan
buka Power Point
https://marhabantv.my.canva.site/usia-40
Pembukaan
Momen unik ini ...disebutkan dalam QS. Al-Ahqaf: 15, di mana pada usia empat puluh tahun manusia dipacu untuk:
Mensyukuri nikmat Allah,
Memperbanyak amal saleh,
Memohon kebaikan bagi keturunan.
Usia 40 sebagai Alarm Ilahi
Usia 40 bukan sekadar angka, melainkan panggilan sadar:
"Siapkan bekal, sebab ajal semakin dekat."
Refleksi Diri
"Sudahkah saya punya bekal akhirat?"
"Atau masih asyik mengejar dunia, seakan hidup seribu tahun?"
Titik Balik vs Titik Lengah
Titik Balik: Memperbaiki niat, memfokuskan hidup pada amal saleh.
Titik Lengah: Terus tertipu rutinitas dunia, menunda taubat dan amal.
Realitas di Usia 40+
Banyak orang tetap terjebak dalam kebiasaan lama:
Pelit amal, menunda taubat, dan sibuk mengejar dunia.
Pentingnya Amal Ringan Konsisten
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tips:
Mulailah dari amal kecil yang mampu dikerjakan setiap hari.
Kesadaran Kematian
Allah berfirman dalam QS. Al-Jumu'ah: 8:
"Kematian yang kalian lari darinya, pasti akan menemui kalian."
Mengingat kematian mendorong kita untuk segera mempersiapkan bekal akhirat.
Ajakan Aksi
Perbaiki niat,
Perkuat taubat,
Tetapkan target amalan harian atau mingguan.
12 Amalan Ringan tapi Berdampak Besar di Usia 40
1. Bantu Korban Bencana
Dalil: "Siapa yang menghilangkan satu kesulitan..." (HR. Muslim)
YukNgaji Tarbiah
🟢 Tarbiyah Itu Proses, Bukan Perlombaan
Nuruddin Abu Faynan
---
📌 Tarbiyah itu bukan cuma transfer ilmu, tapi transformasi jiwa.
Bukan cuma bi...kin pintar, tapi bikin sadar.
Bukan cuma tahu, tapi tumbuh. 🌱
---
⚠️ Tapi ingat…
Tarbiyah itu harus bertahap.
Gak bisa instan, apalagi diseret-seret biar “cepet paham.”
---
📖 Kata Mujāhid رحمه الله:
> الرَّبَّانِيُّونَ: الَّذِينَ يُرَبُّونَ النَّاسَ بِصِغَارِ العِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ
“Rabbāniyyūn adalah orang-orang yang mendidik manusia dengan ilmu-ilmu kecil sebelum ilmu-ilmu besar.”
📚 Ulama salaf paham banget:
Gak bisa langsung loncat ke ilmu berat,
kalau dasar-dasar ilmu aja belum kokoh.
---
🎯 Jadi, jangan buru-buru nuntut orang harus cepat “dalam.”
Dan jangan minder kalau kita masih belajar yang dasar.
Karena proses tarbiyah yang benar itu bertahap dan penuh kesabaran.
Yang penting: jalan terus.
Bukan cepat-cepat nyampe, tapi istiqamah melangkah.
---
👐 Yuk, saling bantu tumbuh…
bukan saling buru-buruin. 🤝
“Jangan Jadi Contoh yang Terbalik”
Oleh: Ust. Nuruddin Abu Faynan
Bismillah...
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang Maha Membuka hati-hati yang ingin kembali. Shalaw...at dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sang teladan sejati dalam segala sisi kehidupan.
Saudara saudariku yang dirahmati Allah...
Kadang kita ini semangat banget nyuruh anak kita berbuat baik:
“Sholat sana!”
“Ngaji dulu sebelum main!”
“Jangan suka bohong, dosa!”
Tapi, di balik layar... kita sendiri malah jadi contoh yang kebalik. Anak disuruh sholat, eh kitanya masih sibuk nonton bola. Anak dilarang bohong, tapi pas ada tamu datang, kita bisikin anak, “Bilang Ayah nggak di rumah ya...”
Nah, inilah yang pernah dikatakan oleh seorang ulama:
"عار عليك عظيم أن تنهى أولادك عن خلق سيئ وتفعله أنت!"
“Sungguh memalukan, aib yang besar, jika engkau melarang anak-anakmu dari akhlak yang buruk, sementara engkau sendiri melakukannya.”
Gimana mungkin anak mau jujur kalau yang ngajarin malah nyontohin dusta?
Gimana mau ngajarin akhlak kalau ayahnya sendiri rajin marah-marah, teriak-teriak di rumah, nyumpah-nyumpah istri dan anak?
Kita bilang, “Jangan nonton yang haram, Nak.”
Tapi HP kita penuh dengan yang haram. Kita bilang, “Jangan merokok, Nak.”
Tapi tangan kita masih bau asap. Kalau anak tanya,
“Lho, Ayah aja ngerokok. Kenapa aku nggak boleh?”
Nah loh... jawab apa coba?
Padahal Allah sudah kasih peringatan keras dalam Al-Qur’an:
"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ، كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ"
(“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Sungguh sangat besar murka di sisi Allah, jika kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.”)
[QS. Ash-Shaff: 2-3]
Nabi Syu‘aib pun pernah berkata kepada kaumnya:
"وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ"
(“Dan aku tidak bermaksud menyelisihi kalian terhadap apa yang aku larang. Aku hanya ingin perbaikan sebisaku.”)
[QS. Hud: 88]
Dan lebih ngeri lagi, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyampaikan sebuah hadits yang bikin merinding...
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
"Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Akan didatangkan seseorang pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka. Usus-ususnya terburai di neraka, dan ia berputar-putar seperti keledai yang berputar di penggilingan. Penduduk neraka pun berkumpul dan berkata: Wahai Fulan, bukankah dulu engkau menyuruh kami kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran? Dia menjawab: Benar, aku memang menyuruh kalian kepada kebaikan, tapi aku sendiri tidak melakukannya. Dan aku melarang kalian dari kemungkaran, tapi aku sendiri malah melakukannya.”
Na’udzubillah... jangan sampai kita jadi seperti itu—ngajarin kebaikan, tapi malah jadi contoh keburukan.
Makanya, wahai para orang tua, wahai para guru, wahai siapa pun yang jadi panutan... yuk, mulai dari diri kita dulu. Bukan sempurna, tapi jujur dalam berproses. Karena anak itu nggak selalu nurut omongan kita, tapi mereka pasti akan meniru perbuatan kita.
Semoga Allah jadikan kita orang-orang yang qaddarallahu bisa jadi teladan, bukan sekadar tukang ceramah. Dan semoga setiap langkah kecil kita dalam memperbaiki diri jadi wasilah hidayah untuk keluarga kita.
Barakallahu fiikum.
Catatan:
Tulisan ini disarikan dari kitab Fiqh Tarbiyatul Abna’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi (hlm.25-27), dengan sedikit penyesuaian bahasa agar lebih akrab di telinga, serta penambahan penjelasan ringan agar lebih mudah dipahami.
🕌 YukNgaji Parenting
“Malam Datang, Setan Lepas: Sunnah yang Dilupakan”
🗣️ Nuruddin Abu Faynan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Al...hamdulillah, segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat.
Saudaraku yang dirahmati Allah…
Ada satu sunnah Nabi ﷺ yang banyak dilupakan orang, padahal isinya sangat praktis dan sangat melindungi — terutama untuk keluarga dan anak-anak — yaitu adab ketika malam mulai datang.
Nabi ﷺ bersabda:
> «إِذَا جَنَحَ اللَّيْلُ، أَوْ أَمْسَيْتُمْ، فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ...»
“Kalau malam mulai datang, atau kalian sudah masuk waktu petang, tahan anak-anak kalian di rumah. Karena saat itu setan sedang menyebar.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Kenapa anak-anak? Karena mereka masih polos, belum bisa menjaga diri. Kata para ulama, anak-anak itu lebih rentan terhadap gangguan gaib, lebih terbuka terhadap bisikan jin dan setan.
Lalu Nabi ﷺ melanjutkan:
> «فَإِذَا ذَهَبَتْ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ، فَخَلُّوهُمْ»
“Kalau sudah lewat satu jam dari malam, baru boleh dibebaskan.”
Artinya, sekitar 30–60 menit setelah maghrib itu waktu rawan. Saat itulah para setan menyebar. Maka tahan dulu anak-anak di dalam rumah. Jangan langsung main di luar, apalagi lari-larian di halaman atau keliling komplek. Karena saat itu, para setan sedang “keluar kandang”.
Setelah itu, Nabi ﷺ memberi petunjuk perlindungan yang sangat praktis:
> «وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا»
“Tutuplah pintu-pintu rumah kalian, dan sebutlah nama Allah. Karena setan tidak bisa membuka pintu yang ditutup sambil menyebut nama Allah.”
Masya Allah…
Sesederhana itu. Hanya dengan mengatakan Bismillah saat menutup pintu, kita sudah membuat benteng spiritual untuk rumah kita. Tapi sayangnya, banyak yang masih menutup pintu tanpa dzikir, tanpa menyebut nama Allah.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:
> «وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ»
“Ikatlah tempat air kalian, sebut nama Allah. Tutup wadah makanan kalian, sebut nama Allah—walaupun hanya dengan sepotong kayu atau tutup seadanya. Dan padamkan lampu kalian sebelum tidur.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Inilah adab malam hari yang diajarkan Nabi ﷺ:
Tutup wadah makanan dan minuman — karena setan bisa ikut “numpang”.
Ucapkan Bismillah — sebagai kunci penjagaan dari gangguan makhluk halus.
Matikan lampu sebelum tidur — bukan hanya hemat energi, tapi juga menghindari bahaya, termasuk dari jin atau hewan liar yang bersembunyi dalam gelap.
Bayangkan…
Kalau sunnah ini kita hidupkan kembali di rumah kita, insyaAllah rumah kita bukan hanya terang secara cahaya, tapi juga terang secara ruhani, tenteram, dan penuh keberkahan.
---
✨ Penutup:
Saudaraku…
Mulai malam ini, yuk kita hidupkan kembali sunnah ini.
Ajak anak-anak dan keluarga untuk masuk rumah saat maghrib,
ucapkan Bismillah saat menutup pintu,
tutup wadah makanan dan air, dan
hidupkan rumah kita dengan dzikir, bukan sekadar cahaya lampu.
Semoga rumah kita dijaga Allah dari semua gangguan, baik yang terlihat maupun yang tidak kasat mata.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
📚 Sumber: Fiqih Tarbiyatul Abna’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hal. 56 — dengan penyesuaian dan bahasa kekinian.
🏡 5 Tips Rumah Tangga Bahagia
Oleh: Nuruddin Abu Faynan
✨ Pembuka
Ditujukan bagi yang sudah atau akan berkeluarga
InsyaAllah, rumah akan menjadi surga ...sebelum surga
✅ Tip 1 – Bangun di Atas Agama
"Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
(QS. At‑Tahrim: 6)
Suami ajak istri, orang tua ajak anak ke masjid atau majlis ilmu
Anak usia 7 tahun mulai dilatih shalat
(HR. Abu Daud)
Tahajud bareng: bentuk “Romantis syar’i”
(HR. Abu Daud)
✅ Tip 2 – Istri Taat pada Suami
"Wanita terbaik: menyenangkan dilihat, taat diperintah, tidak menyelisihi."
(HR. An‑Nasai)
"Jika jaga shalat, puasa, kehormatan, dan taat kepada suami: masuk surga dari pintu mana saja."
(HR. Ahmad)
✅ Tip 3 – Punya Anak = Punya Doa
"Jika manusia mati, amalnya terputus kecuali:
Sedekah jariyah
Ilmu yang bermanfaat
Doa anak yang shalih"
(HR. Muslim)
"Nikahilah wanita yang penyayang dan subur."
(HR. Abu Daud)
✅ Tip 4 – Nafkahi Cukup & Santun
"Berilah istri makan dan pakaian dari apa yang kamu miliki; jangan memukul atau memboikot kecuali di rumah."
(HR. Abu Daud)
"Ambillah dari hartanya secukupnya untukmu dan anakmu."
(HR. Bukhari-Muslim)
✅ Tip 5 – Jangan Gampang Cerai
"Wanita yang meminta cerai tanpa alasan syar’i: haram mencium bau surga."
(HR. Abu Daud)
"Melanjutkan lebih kuat daripada memulai."
(Ibnu Taimiyah)
Penutup
Rumah tangga bahagia bukan berarti tanpa masalah,
tapi yang mampu menyelesaikan masalah dengan cara Islam.
Yang dibangun bukan hanya cinta, tapi juga iman.
#YukNgajiIbadah
"Jenis-Jenis Haji: Biar Gak Asal Berangkat!"
Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Apa itu Haji?
Secara bahasa: الحجّ artinya menyengaja... menuju sesuatu yang mulia.
(القَصْدُ إِلَى شَيْءٍ مُعَظَّمٍ)
Secara istilah:
القَصْدُ إِلَى بَيْتِ اللهِ الحَرَامِ، لأداءِ مَنَاسِكٍ مَخْصُوصَةٍ، فِي وَقْتٍ مَخْصُوصٍ، بِهَيْئَةٍ مَخْصُوصَةٍ
"Haji adalah menyengaja ke Baitullah untuk menunaikan manasik tertentu, di waktu dan dengan cara tertentu."
(Fiqh as-Sunnah, Sayyid Sabiq)
3 Jenis Manasik Haji
Pilih sesuai kondisi, bukan sekadar ikut rombongan!
Cocok bagi yang membawa hewan qurban dari awal.
Dalil:
قَدْ أَهْدَيْتُ وَقَرَنْتُ
“Aku telah menggiring hadyu dan berniat qirān.” (HR. Muslim no. 1211)
3. Tamattu’ (التَّمَتُّع)
Umrah dulu, lalu tahallul, kemudian haji.
Niat ihram: umrah di bulan haji (Syawwal – Dzulhijjah).
Setelah umrah, bebas dari ihram (boleh cukur/lepas kain ihram).
Saat 8 Dzulhijjah, ihram lagi untuk haji.
Wajib sembelih hadyu.
Dalil:
فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ
“Barangsiapa yang melakukan umrah di bulan haji, lalu berhaji, hendaklah menyembelih hadyu yang mudah.”
(QS. Al-Baqarah: 196)
Catatan Akhir:
Jangan asal pilih jenis manasik. Pertimbangkan:
Kondisi fisik
Bimbingan ustadz
Pemahaman manasik
Semua sah secara syariat.
Yang utama: niat yang ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi.
Bersambung ke bagian selanjutnya…
Kalau bermanfaat, bantu share!
#HajiItuIlmu #JanganAsalBerangkat #ManasikKekinian
📌 #YukNgajiTarbiah
"Kenapa Kisah Itu Ngena di Jiwa?"
✍🏻 Nuruddin Abu Faynan
---
Kisah itu cara penyampaian yang paling disukai jiwa.
Karena cerita ...bisa langsung masuk ke hati, menyentuh perasaan, bikin pendengar fokus, bahkan penasaran untuk terus mendengar sampai selesai.
✨ Al-Qur’an dan Sunnah pun pakai kisah untuk mendidik:
➡️ ruhani
➡️ akal
➡️ jasmani
➡️ sisi kejiwaan yang sering tarik-ulur
➡️ lewat keteladanan
➡️ juga lewat nasihat
(Manhaj at-Tarbiyah al-Islamiyyah, hlm. 194)
---
Kenapa kisah itu ngena?
Karena cerita biasanya berisi rangkaian peristiwa yang belum diketahui. Ada konflik yang bikin kita terbawa, lalu ditutup dengan solusi. Dari solusi inilah lahir pelajaran yang nancep di hati—entah secara langsung atau lewat renungan yang dalam.
(Al-Murabbi Muhammad ﷺ, hlm. 109)
---
🌱 Pelajarannya:
Kalau mau menyentuh hati orang lain, kadang bukan dengan banyak teori…
Cukup dengan satu kisah yang sarat makna.
Kalau bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga jadi jalan hidayah buat orang lain.
Setelah ihram, jangan asal jalan. Ada larangan-larangan yang mesti dijaga. Ini buka...n soal aturan kaku, tapi bagian dari kehormatan ibadah yang lagi kita jalani.
Larangan Ihram: Jangan Dilanggar!
Khusus Laki-Laki:
1.Menutup kepala dengan sesuatu yang nempel (topi, sorban, dsb)
2. Memakai pakaian berjahit yang membentuk badan (kaos, celana, dsb)
Dalil: HR. Bukhari no. 1542
Khusus Perempuan:
3. Memakai cadar
4. Memakai sarung tangan
Dalil: HR. Bukhari no. 1838
Sengaja dan tahu?
→ Kena fidyah: pilih salah satu
Puasa 3 hari
Kasih makan 6 fakir miskin
Sembelih kambing
Dalil: QS. Al-Baqarah: 196
Larangan Khusus:
9. Membunuh Hewan Buruan Darat
Kalau sengaja, wajib ganti dengan hewan sejenis dan senilai (contoh: merpati = kambing)
10. Menikah / Menikahkan
→ Nggak kena fidyah, tapi nikahnya batal & berdosa.
11. Bersetubuh Saat Ihram:
Sebelum tahallul pertama:
→ Haji batal, harus lanjut & qadha tahun depan + sembelih unta/sapi
Setelah tahallul pertama:
→ Haji tetap sah, tapi kena dosa + fidyah + wajib keluar Tanah Haram dan ulang ihram dari Tan’im/Ji’ronah.
Jaga niat, jaga batas. Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tapi perjalanan hati.
Next: Talbiyah dan Makna Seruan Cinta kepada Allah!
Kalau bermanfaat, yuk share ke yang lain!
YukNgaji Ibadah
Mau Haji Mabrur? Jangan Cuma Fokus Rukun, Tapi Akhlak Juga
👤 Nuruddin Abu Faynan
✈️ “Banyak orang udah berangkat haji, semua rukun dan wajibnya am...an... tapi apa itu cukup buat dapat haji mabrur?”
> قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ: مَا الْحَجُّ الْمَبْرُورُ؟ قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَطِيبُ الْكَلَامِ
📖 Nabi ﷺ ditanya, “Apa itu haji mabrur?” Beliau jawab: “Memberi makan dan berkata yang baik.”
📚 HR. Ahmad (12609), Ibnu Hibban (3703), dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib (1111)
🧠 Artinya, haji mabrur itu bukan cuma soal ritual yang sah. Tapi soal akhlak. Nggak debat kusir, nggak pamer, dan pulangnya bukan cuma bawa air zamzam... tapi bawa perubahan diri.
🎯 Jadi... mau haji mabrur? Jangan cuma hafal manasik. Upgrade juga akhlak dan kepedulian kita.
Bukan Sekadar Hafal, Tapi Tangguh!
Oleh: Ust. Nuruddin Abu Faynan
Pembuka
Bismillāh...
Alhamdulillāh, kita bersyukur kepad...a Allah yang telah memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat duduk di majelis ilmu seperti ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, dan siapa saja yang mengikuti sunnah beliau dengan benar sampai hari kiamat.
Saudaraku yang dirahmati Allah...
Pernah nggak sih kita mikir: kenapa ada anak yang hafal Qur’an, tapi mentalnya rapuh? Hafal Juz Amma, tapi gampang marah. Hafal hadits, tapi lisan suka nyelekit. Jangan-jangan... pendidikan kita masih lebih fokus ke hafalan daripada pembentukan jiwa.
Padahal Islam datang bukan cuma ngajarin hafalan. Tapi ngajarin bagaimana jadi manusia kuat. Kuat imannya, kuat jiwanya, kuat akhlaknya.
Pendidikan Islam: Membangun Karakter Tangguh
Dalam kitab Asās at-Tarbiyah al-Islāmiyyah fī as-Sunnah an-Nabawiyyah, disebutkan dengan sangat indah:
> “التربية الإسلامية تهدف إلى تكوين شخصية المؤمن الكاملة، الإيجابية في نظرتها إلى الحياة، لا تخدعه النجاحات، ولا تهزمه الإخفاقات...”
Pendidikan Islam itu, kata para ulama, bukan cuma mencetak siswa yang pinter jawab soal ujian. Tapi mencetak pribadi yang kalau dikasih rezeki, dia bersyukur dan makin dekat ke Allah. Kalau lagi diuji, dia sabar, gak ngeluh terus di status. Dia tetap melangkah dengan harapan kepada Allah. Inilah mukmin yang tangguh.
Tauhid: Akar dari Segalanya
Makanya, fondasi pendidikan Islam itu tauhid.
Syaikh ‘Abdul ‘Azīz bin Bāz rahimahullah menjelaskan:
> “Tujuan utama penciptaanmu, wahai hamba Allah, adalah untuk mentauhidkan-Nya...”
Jadi, pendidikan Islam bukan semata transfer ilmu. Tapi transfer makna hidup. Anak dididik bukan cuma buat “tahu”, tapi buat “tunduk”. Tauhid itu bukan cuma di lisan, tapi di sikap sehari-hari.
Allah Ta‘ālā berfirman:
> وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)
Nah, di sinilah letaknya. Pendidikan yang Islami itu selalu mengarah ke satu tujuan: membentuk hamba yang mengenal Allah, tunduk kepada-Nya, dan hidup dengan nilai-nilai tauhid.
Pendidikan Sejak Dini: Proyek Peradaban
Syaikh Ibn Bāz rahimahullāh pernah berpesan:
> “من أهم المهمات تربية الناشئة من صغرهم...”
Salah satu tugas terbesar adalah mendidik anak-anak kita sejak kecil. Bukan nanti, tapi sekarang. Bukan tunggu sekolah tinggi, tapi dari rumah. Dari pangkuan ibu. Dari teladan ayah. Dari suasana di masjid. Dari obrolan makan malam. Dari doa sebelum tidur.
Kadang kita sibuk nyari sekolah terbaik, tapi lupa rumah kita jadi tempat belajar terpenting. Padahal, anak-anak itu lebih banyak nyerap dari apa yang mereka lihat, bukan cuma yang mereka dengar. Maka rumah yang Islami, itu bukan yang temboknya banyak tulisan Arab, tapi yang di dalamnya penuh dengan zikir, sabar, kasih sayang, dan doa.
Penutup: Yuk, Kita Bergerak
Saudaraku...
Kalau hari ini kita mau bangun generasi yang kuat, jangan puas hanya dengan anak-anak yang hafal. Tapi pastikan mereka juga tangguh. Hafal Qur’an, iya. Tapi juga sabar, jujur, lembut, punya visi, dan nggak mudah dikibulin dunia.
Mulailah dari diri sendiri. Didik diri kita sebelum mendidik anak. Bimbing rumah kita dengan cahaya tauhid. Beri waktu, beri contoh, dan jangan lelah mendoakan.
> “اللهم اجعل أبناءنا من عبادك الصالحين، حملة كتابك، أنصار دينك، ممن يحبك ويحب من يحبك...”
Ya Allah, jadikan anak-anak kami hamba-Mu yang shalih, penghafal kitab-Mu, penolong agama-Mu, yang mencintai-Mu dan mencintai orang-orang yang Engkau cintai.
Semoga Allah menjadikan generasi kita generasi yang bukan sekadar hafal, tapi tangguh!
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.
Alhamdulillah, hari ini kita bersyukur sebuah nikmat yang tidak semua orang diberikan.
● Sebuah ibadah panjang,
yang bukan sekadar menyatukan dua insan,
tapi juga:
□ dua niat,
□ dua keluarga, dan
□ dua jalan yang kini beriring menuju surga.
"Hari ini kalian berdua tersenyum juga semua hadiri
● tapi yang perlu sama-sama kita ingat....
Menikah itu bukan sekadar
● cinta dan tawa,
tapi ibadah yang menuntut
□ ilmu,
□ sabar, dan
□ doa… sepanjang usia.
📌 Pernikahan Bukan hanya sebagai pelampiasan rasa, tapi sebagai ladang pahala.
📌 Ada 5 hal penting yang perlu selalu di ingat:
🕊️ Pertama:
● Tenang itu dari iman bukan dari drama
Semua orang suka melihat
▪︎ pernikahan yang indah…
▪︎ Dekorasi yang rapi,
▪︎ senyum yang merekah,
▪︎ suasana yang haru dan bahagia.
Tapi realitanya,
▪︎ rumah tangga itu
● bukan sekadar pesta satu hari.
■■ Ia adalah
● Perjalanan panjang,
● Penuh liku, dan
● Perlu banyak bekal.
Akan datang masa:
🔸 Rezeki diuji
🔸 Komunikasi mulai melenceng
🔸 Sifat asli mulai tampak, dan perbedaan makin terasa
📖 Tapi Allah sudah beri petunjuk jelas dalam Al-Qur’an:
ومن آياته ان خلق لكم من أنفسكم أزواجا
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah: Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri
لتسكنوا اليها
● agar kalian merasa tenang bersamanya..."
(QS. Ar-Rūm: 21)
➡️ Maka kuncinya adalah sakīnah — ketenangan.
Dan ketenangan itu…Bukan datang dari
▪︎ rayuan atau
▪︎ bunga yang indah,
Tapi dari
● iman yang kokoh,
●doa yang tak putus,
dan
● kedewasaan saat badai datang.
🌿 Pernikahan bukan tentang siapa yang paling romantis,
Tapi siapa yang paling kuat memegang janji di hadapan Allah.
---
“Tiga orang yang pasti Allah bantu:
di antaranya adalah orang yang menikah demi menjaga kehormatannya.”
(HR. Tirmidzi)
Hari ini kalian berdua
▪︎▪︎ duduk di pelaminan.
Tapi semoga besok dan seterusnya, kalian
▪︎▪︎ juga bareng dalam ibadah
Ibadah bareng itu:
✅ Menguatkan cinta,
✅ Melembutkan hati yang keras,
✅ Mencegah pertengkaran yang tak perlu.
Karena Allah sangat sayang pada suami-istri yang saling mendukung dan mengingatkan dalam ibadah.
💬 Rasulullah ﷺ bersabda:
"Semoga Allah merahmati seorang suami yang membangunkan istrinya untuk shalat malam. Jika istrinya enggan, ia memercikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang istri yang membangunkan suaminya untuk shalat malam. Jika suaminya enggan, ia memercikkan air ke wajahnya."
(HR. Abu Dawud, no. 1308)
—
Cinta Itu Dirawat di Atas Sajadah
○○ dalam doa,
○○ dalam tangis,
○○ dalam syukur,
○○ dalam perjuangan.
Karena menikah itu bukan sekadar:
❌ status sosial,
❌ kejar-kejaran usia,
❌ atau takut ketinggalan tren.
✅ Tapi menikah karena ingin menjadikan rumah sebagai ladang ibadah.
✅ Karena ingin saling menjaga, bukan saling menghakimi.
✅ Karena ingin bersama, bukan cuma di momen bahagia — tapi juga saat badai datang.
📌 Ingat baik-baik…
Kalau niatnya salah,
○○ ujian rumah tangga bisa terasa berat dan menyakitkan.
Tapi kalau niatnya lillah,
○○ setiap ujian justru bisa berubah jadi tangga pahala.
🌿 Maka
▪︎▪︎ luruskan niat,
▪︎▪︎ kuatkan tekad.
Pernikahan ini bukan akhir cerita cinta…
Tapi awal perjuangan bersama menuju ridha Allah.
🌿 Rumah yang ada ibadah di dalamnya,
Insya Allah akan selalu ada cinta dan cahaya di dalamnya.
---
💌 Ketiga:
Cinta yang Bawa Sampai ke Surga
Cinta itu
● bukan hanya tentang memegang tangan,
● tapi saling menuntun menuju surga.
“Dua orang yang saling mencintai karena Allah… akan mendapat naungan pada hari kiamat.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Hari ini kalian saling menatap penuh cinta.
Tapi semoga cinta itu bukan sekadar karena
○senyuman atau
○kesamaan selera…
Melainkan cinta karena Allah.
Karena cinta yang dibangun karena Allah itu:
✅ Saling kuatkan di jalan kebaikan,
bukan saling lemahkan dengan dosa.
✅ Saling sabar di masa sulit,
bukan saling menyalahkan.
✅ Saling menasihati di saat lengah,
bukan saling membiarkan jatuh.
🌿 Cinta duniawi bisa luntur
Tapi cinta karena Allah,
● justru akan makin subur —
● hingga kelak jadi naungan di padang mahsyar,
saat
● cinta yang palsu sudah tak berguna lagi.
﴿الأخلاءُ يومئذٍ بعضُهم لبعضٍ عدوٌّ إلا المتقين﴾
(QS. Az-Zukhruf: 67)
📌 "Teman-teman akrab saat di dunia, nanti di akhirat bakal saling nyalahin dan jadi musuh… kecuali yang temannya sama-sama bertakwa."
---
💌 Keempat: Sabar dan Komunikasi:
Fondasi Awetnya Rumah Tangga
Ujian Itu Pasti,
Tapi Sabar Itu Pilihan
🌿 Allah berfirman:
وجعلنا بعضكم لبعض فتنة أتصبرون
“Kami jadikan sebagian kalian sebagai ujian bagi sebagian yang lain. Apakah kalian mau bersabar?”
(QS. Al-Furqān: 20)
Rumah tangga itu bukan zona nyaman… tapi zona ujian.
Ujian bisa datang dari mana saja:
💸 ekonomi yang pas-pasan,
🤝 mertua atau orang tua,
👶 anak yang belum seperti harapan, bahkan bisa jadi cara pandang yang berbeda
Tapi yang membedakan satu rumah tangga dengan yang lain bukan jumlah masalahnya,
melainkan bagaimana cara mereka menyikapinya.
●Rumah tangga yang bertahan adalah rumah yang dibangun di atas
☆sabar,
☆pengertian, dan
☆saling memaafkan —
■ bukan rumah tanpa konflik sama sekali.
📌 Dan jangan lupa…
🔑 Komunikasi yang lembut, jujur, dan tenang —
¤ bisa menyelamatkan rumah dari badai besar yang bermula dari salah paham kecil.
🌱 Maka, ketika masalah datang,
jangan buru-buru menyerah — tapi belajar untuk bertumbuh bersama.
💌 Kelima:
"Doa: Bahasa Cinta yang Paling Dalam"
Kadang saat rumah tangga mulai goyah,
kita sibuk cari solusi, tapi lupa satu hal penting: doa.
Doakan pasanganmu…
🔸 Saat dia tak tahu
🔸 Saat dia sedang baik
🔸 Bahkan saat kamu sedang kecewa
Karena...
🌧️ Doa yang diam-diam
● sering kali lebih kuat daripada nasihat yang panjang lebar.
🕊️ Doa dari hati, bisa menembus hal-hal yang tak bisa dijangkau dengan logika dan kata-kata.
---
🔹 Penutup:
Nikah Itu Jalan Menuju Surga
Menikah itu:
📌 Bukan finish, tapi start
📌 Bukan sekadar halal, tapi ibadah
📌 Bukan sekadar bahagia, tapi mengantar ke Jannah
💬 “Jangan cuma jadi pasangan romantis di dunia, tapi pasangan yang saling menguatkan iman — sampai ke surga.”
---
📝 Rangkumannya:
1- Nikah = Ibadah, bukan hiburan
2- Rumah tangga butuh ilmu, sabar, doa, dan niat lillah
3- Cinta karena Allah = cinta yang tak lekang oleh waktu
4- Tambah pesan terakhir Suami & istri = madrasah pertama bagi generasi selanjutnya.
adalah tim yang harus sinergi dalam mendidik generasi tauhid
Demikian nasehat teruntuk kalian berdoa semoga 5 pilar bekal ini bisa di ingat oleh kalian berdua
بارك الله لكما وبارك عليكما وجمع بينكما في خير
#YukNgajiTarbiah
📌 Ngasih Contoh Itu Dakwah Terhalus
🖊️ Nuruddin Abu Faynan
Kalau ngomongin cara paling nancep buat mendidik, jawabannya bukan cuma kata-kata, tapi... keteladanan.
Orang tua, guru, ustadz, dai… siapa pun yang mau ngajak ke jalan Allah, harus menunjukkan lewat perbuatan, bukan sekadar lisan.
Karena anak-anak, santri, bahkan masyarakat — lebih cepat menangkap dari apa yang mereka lihat daripada dari nasihat panjang.
Syaikh Bin Baz رحمه الله pernah berkata:
> "Yang saya nasehatkan... ikutilah cara Rasulullah ﷺ dan para sahabat — dalam ucapan dan perbuatan. Jadilah panutan, mulai dari diri sendiri. Tinggalkan keburukan, lakukan kebaikan. Jadi contoh nyata dalam akhlak, kelembutan, kasih sayang, dan kebaikan.”
(Majmū‘ Fatāwā, 7/301)
💭 Maka sebelum mengajak orang lain untuk jadi baik, yuk tanya dulu ke diri sendiri:
"Sudahkah aku memulainya dari diri sendiri?"
Tema ini diangkat dari:
Bab 9: Orang yang Mencari Berkah da...ri Pohon, Batu, atau yang Semisalnya
(dalam Kajian Kitab Tauhid #13)
Pendahuluan
Dalam bab ini, penulis—semoga Allah merahmatinya—membahas tentang hukum orang yang mencari keberkahan (tabarruk) dari benda-benda seperti pohon, batu, kuburan, atau tempat-tempat tertentu yang tidak ada dalil syar’inya.
Masalah Pertama: Tabarruk dengan Benda-Benda Tertentu adalah Perbuatan Syirik
Penulis menjelaskan bahwa mencari keberkahan dari benda-benda seperti pohon, batu, atau kuburan termasuk perbuatan syirik, dan ini adalah kebiasaan orang-orang musyrik terdahulu.
Pengertian Barakah dan Tabarruk:
Barakah secara bahasa berarti tumbuh dan bertambah. Ada juga yang mengartikan sebagai kebaikan yang banyak dan menetap.
Tabarruk artinya mencari keberkahan dan kebaikan dari sesuatu—selain Allah.
Contoh penggunaan kata:
“Semoga Allah memberkahimu.”
“Allah memberikan berkah atasmu.”
Referensi bahasa:
Tahdzīb al-Lughah (15/347)
Lisān al-‘Arab (10/395)
Masalah Kedua: Hal-Hal Penting Terkait Tabarruk
Beberapa poin penting yang harus dipahami dalam masalah tabarruk:
Keberkahan tidak bisa ditetapkan sembarangan. Harus ada dalilnya.
Sesuatu yang menjadi sarana tabarruk (baik benda, ucapan, perbuatan, atau waktu), itu hanyalah sebab, bukan sumber keberkahan.
Tabarruk terbagi menjadi dua jenis:
a) Tabarruk yang disyariatkan (boleh)
b) Tabarruk yang dilarang (terlarang)
a) Tabarruk yang Diperbolehkan dalam Syariat:
Tabarruk dengan tubuh Nabi ﷺ, seperti keringat, rambut, atau pakaian beliau.
Tabarruk lewat ucapan, seperti membaca Al-Qur’an.
Tabarruk lewat perbuatan, seperti makan sahur.
Tabarruk dengan tempat, seperti masjid.
Tabarruk pada waktu-waktu tertentu, seperti bulan Ramadhan, malam Lailatul Qadr, dll.
b) Tabarruk yang Tidak Dibenarkan dalam Syariat:
Tabarruk dengan tempat-tempat yang dianggap suci, tanpa dalil.
Tabarruk dengan kuburan.
Tabarruk dengan tempat-tempat yang dikaitkan dengan para Nabi, tanpa dasar syar’i.
Tabarruk dengan waktu-waktu tertentu yang tidak diajarkan dalam syariat.
Tabarruk dengan orang-orang saleh atau peninggalan mereka, tanpa dalil.
Masalah Ketiga: Kesepakatan Ulama Tentang Larangan Tabarruk Bid’iy
Para ulama sepakat bahwa tabarruk dengan hal-hal yang tidak disyariatkan, seperti tubuh orang saleh atau tempat-tempat yang tidak ada landasan dalilnya, hukumnya haram dan bisa termasuk syirik.
Masalah Keempat: Ucapan-Ucapan Seputar Keberkahan
Beberapa ungkapan tentang keberkahan yang sering muncul di masyarakat, memiliki hukum yang berbeda-beda:
Ucapan: “Ini berkatmu” atau “Ini dari keberkahan kalian”
Hati-hati, karena bisa mengarah pada bentuk tawassul yang tidak benar.
Ucapan: “Engkau telah memberkahi kami” atau “Tersucikanlah engkau bersama kami”
Kalimat seperti ini sebaiknya dihindari karena tidak sesuai dengan adab syariat.
Ucapan: “Kamu ini penuh berkah (كلك بركة)”
Sebaiknya tidak diucapkan karena bisa menisbatkan keberkahan kepada makhluk secara mutlak.
Catatan
Naskah ini diringkas dan disarikan dari:
Bugyatul Mustafid, hlm. 119–125
Karya: Dr. Mansur Asy-Syaq‘ub
Presentasi PowerPoint
BERKAH ATAU MUSYRIK? oleh rifaldi khodijah"
target="_blank"
class="ppt-download-btn">
Buka di Tab Baru
YukNgaji Sejarah
📍 Pelajaran Hidup dari Medan Uhud
🎙 Nuruddin Abu Faynan
Uhud bukan sekadar perang. Ia adalah cermin kehidupan. Banyak pesan dari Allah dan Rasul-Nya... ﷺ yang relevan banget buat kita hari ini—khususnya dalam menata iman, niat, dan perjuangan.
Berikut 16 pelajaran penting dari Perang Uhud:
---
1️⃣ Kalau Udah Niat Berjuang, Lanjut Terus!
Nabi ﷺ bersabda: "Jika seseorang telah mengenakan baju perang, maka jangan dia lepas sebelum Allah memberikan keputusan."
➡️ Jangan setengah-setengah!
2️⃣ Tawakal Itu Pakai Effort!
Rasul ﷺ pakai dua lapis baju besi di Uhud.
➡️ Tawakal bukan rebahan nunggu keajaiban. Usaha dulu, baru serahkan pada Allah.
3️⃣ Ujian Bikin Topeng Terbuka
Di Uhud, yang tadinya ngaku-ngaku iman, mundur saat diuji.
➡️ Ujian itu cara Allah menyaring yang asli.
(QS Ali ‘Imran: 179)
4️⃣ Pemuda Hebat, Didikan Dahsyat
Remaja berlomba ikut jihad tapi banyak yang ditolak karena umur. Tapi semangatnya luar biasa!
➡️ Tarbiyah Islam menanamkan cinta jihad dan siap berkorban.
5️⃣ Gagal Taat, Gagal Total
Pasukan pemanah abaikan perintah → kekalahan fatal.
➡️ Taat kepada pemimpin dalam kebenaran itu bagian dari syariat.
(QS An-Nisaa: 59)
6️⃣ Gagal Fokus Gara-Gara Dunia
Teriakan “Ambil ghanimah!” bikin banyak yang lalai.
➡️ Ambisi dunia bisa jadi bumerang kalau gak dikontrol.
(QS Ali 'Imran: 152)
7️⃣ Tamak Dunia = Sifat Yahudi
Yahudi disebut paling rakus dunia.
➡️ Ambisi dunia bisa bikin orang jual iman.
(QS Al-Baqarah: 96)
8️⃣ Jangan Gampang Ijtihad!
Pemanah turun karena mengira udah menang, padahal Nabi udah larang.
➡️ Patuh syariat, jangan sotoy!
9️⃣ Jangan Fanatik Suku
Seorang budak Persia bangga karena berhasil bunuh musuh. Nabi ﷺ tegur: “Bangga itu karena Islam, bukan suku.”
➡️ Islam bukan soal asal-usul, tapi soal iman.
🔟 Jangan Telan Isu Mentah-Mentah
Isu Nabi wafat bikin pasukan kacau.
➡️ Hati-hati hoaks.
(QS Al-Hujurat: 6)
1️⃣1️⃣ Isu Bukan Alasan Patah Semangat
Anas bin Nadhar makin semangat jihad setelah dengar isu Nabi wafat.
➡️ Isu bisa jadi pemacu semangat!
1️⃣2️⃣ Tanya Kalau Gak Tahu!
Musyrikin teriak “Hidup Hubal!” Sahabat tanya ke Nabi ﷺ: “Kami jawab apa?”
➡️ Jangan sok tahu. Tanya ulama kalau nggak ngerti!
(QS An-Nahl: 43)
1️⃣3️⃣ Islam Gak Fanatik Tokoh, Tapi Wahyu
Nabi ﷺ wafat, Islam terus berjalan.
➡️ Yang diikuti wahyu, bukan figur.
(QS Ali ‘Imran: 144)
1️⃣4️⃣ Mulia Karena Al-Qur’an & Takwa
Syuhada dimuliakan berdasarkan hafalan Qur’an.
➡️ Takwa dan Qur’an = standar kemuliaan.
(QS Al-Hujurat: 13)
1️⃣5️⃣ Dampak Maksiat: Kalah dan Pecah
Uhud jadi pelajaran: abaikan perintah Nabi = kekalahan.
➡️ Kata Ibnu Qayyim, setelah itu mereka lebih berhati-hati.
(QS Ali ‘Imran: 152)
1️⃣6️⃣ Syuhada Uhud: Mulia di Sisi Allah
🩸 Dikubur tanpa dimandikan dan dishalatkan.
📖 Didahulukan yang hafalan Qur’annya paling banyak.
🪽 Malaikat naungi jasad mereka.
🐦 Ruhnya terbang bebas dalam burung hijau di surga.
🤲 Bahkan minta dihidupkan lagi untuk berjihad.
📍Rasul, Abu Bakar, Umar, dan Utsman rutin ziarah ke makam mereka.
➡️ Mereka hidup dan diberi rezeki.
(QS Ali 'Imran: 169)
---
Penutup:
Uhud adalah cermin kehidupan. Penuh pelajaran iman, tentang ambisi, ketaatan, ujian, dan kesetiaan pada Allah dan Rasul-Nya.
Kalau kita hayati, Uhud bukan hanya sejarah. Tapi juga nasihat yang hidup.
📌 Yuk jadikan pelajaran ini bekal untuk terus memperbaiki diri, menguatkan iman, dan istiqamah dalam ketaatan.
Semoga kita tidak sekadar menjadi penonton sejarah, tapi pewaris semangatnya.
Healing Terus, Ngaji Kapan?!
Oleh Nuruddin Abu Faynan
Assalamualaikum, teman-teman...
Kita semua pasti pernah ngerasain yang namanya sedih.
Tapi... gak semu...a jenis sedih itu nilainya sama, loh.
Ibrahim bin Adham rahimahullah pernah bilang:
الحزن حزنان:
حزنٌ لك، وحزنٌ عليك،
فأما الحزن لك: فحزنك على الآخرة،
وأما الحزن عليك: فحزنك على الدنيا
"Kesedihan itu ada dua: kesedihan yang bermanfaat bagimu, dan kesedihan yang merugikan bagimu.
Kesedihan yang bermanfaat adalah kesedihanmu terhadap akhirat,
dan kesedihan yang merugikan adalah kesedihanmu terhadap dunia."
(Al-Bidāyah wan-Nihāyah, 10/141)
Jleb banget, ya?
Sedih karena belum khatam Qur’an? Itu bagus.
Sedih karena udah lama gak nangis waktu shalat? Itu sehat.
Tapi kalau sedihnya cuma karena gak viral, gak punya barang branded, atau gak diajak healing...
Yuk, sadar. Bisa jadi, kita terlalu sibuk ngurusin dunia yang fana,
sampai lupa ngurusin bekal buat akhirat yang kekal.
Gak apa-apa kok sedih—asal arahnya benar.
Sedih yang menuntun kita balik ke Allah,
itu sedih yang justru bisa jadi tiket bahagia selamanya.
Hari-hari ini, kita banyak melihat momen berharga:
📌... Anak-anak dibagikan rapor,
🎓 Para santri dan mahasiswa diwisuda,
🏫 Pesantren dan sekolah menggelar acara kelulusan.
Tapi di balik semua itu, ada satu pertanyaan penting:
> “Sudahkah kita siapkan tempat terbaik untuk tumbuhnya iman dan akhlak anak-anak kita?”
📚 Al-Imam Ibnu Baz رحمه الله pernah mengingatkan:
> “Setiap tempat bisa jadi medan dakwah.”
📖 Al-Ibrāziyyah, hlm. 153
Dakwah tak terbatas di masjid atau sekolah saja.
📖 Bahkan perkemahan dan pelatihan Islam pun, kata beliau, adalah ladang untuk menanam kebaikan.
(Majmū‘ al-Fatāwā, 2/236)
💡 Para ulama sepakat: ada tiga poros utama pendidikan Islam yang menjadi fondasi tumbuhnya generasi rabbani:
1️⃣ Rumah – tempat anak pertama kali mengenal kasih sayang dan tauhid,
2️⃣ Masjid – tempat anak belajar tunduk dan mencintai ibadah,
3️⃣ Sekolah – tempat adab dan ilmu ditanam secara disiplin dan bertahap.
📌 Tapi ingat…
Kalau satu kosong, dua lainnya bisa rapuh.
Masjid tak bisa menggantikan peran ayah,
Sekolah tak bisa menggantikan pelukan ibu,
Dan rumah tak cukup kalau tak diisi dengan ilmu dan iman.
🎯 Maka, tarbiyah dan dakwah harus hidup di ketiganya.
Bukan soal megahnya bangunan, tapi tentang siapa yang hadir dengan niat lillah.
Karena generasi robbani tak lahir dari ruang kosong,
tapi dari tempat yang penuh cinta, ilmu, dan keteladanan.
---
#GenerasiRabbani
#RumahMasjidSekolah
#PendidikanIslam
#WisudaDarulFityan
#PengkaderanDaiyah
#TalkshowWisuda
#TauhidDulu
#NuruddinAbuFaynan
#DakwahDimanapun
#KaderisasiUmat
#AdabSebelumIlmu
#ParentingTauhid
Doa Orang Tua: Menanam Kebaikan untuk Masa Depan Anak
Oleh: Nuruddin Abu Faynan
Bismillah.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan kepada kita an...ak-anak, sebagai amanah sekaligus ladang amal yang besar. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, teladan terbaik kita dalam semua aspek kehidupan—termasuk dalam mendidik generasi penerus umat ini.
Sahabat yang dirahmati Allah,
Hari ini, kita mau ngobrol tentang sesuatu yang dekat banget dengan hati kita semua: anak-anak kita.
Setiap orang tua — siapapun dia — pasti ingin anaknya jadi anak yang shalih, anak yang membanggakan dunia akhirat. Tapi kadang, kita lupa satu hal penting: hidayah, penjagaan, dan kebaikan itu bukan semata-mata hasil usaha kita, tapi murni anugerah dari Allah.
Makanya, sahabat sekalian, tugas besar kita sebagai orang tua — atau calon orang tua — bukan cuma sibuk mengarahkan, bukan sekadar rajin menasihati, tapi juga memperbanyak doa.
Doa: Sederhana di Lisan, Dahsyat di Hasil
Doa itu kelihatannya sederhana, ya.
Tapi jangan salah, kekuatannya dahsyat.
Dan ini bukan sekadar anjuran biasa!
Doa untuk anak adalah warisan mulia dari para Nabi dan orang-orang shalih.
Mereka, yang imannya jauh lebih kokoh dari kita, tetap menangis dan bermunajat demi kebaikan anak-anak mereka.
Allah Ta'ala berfirman, memuji hamba-hamba-Nya yang beriman:
"Dan orang-orang yang berkata: 'Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan-keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'"
(QS. Al-Furqan: 74)
Coba perhatikan...
Yang mereka minta itu bukan cuma anak yang pintar atau sukses dunia,
tapi anak-anak yang jadi penyejuk hati dan pemimpin bagi orang-orang bertakwa!
Masya Allah...
Belajar dari Para Nabi
Kalau kita lihat kisah para Nabi...
Subhanallah, mereka semua menjadikan doa untuk anak sebagai bagian utama dalam hidup mereka.
Contohnya, Nabi Zakaria 'alaihis salam.
Di usia tuanya, beliau bermunajat dengan penuh harap:
"Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak yang akan mewarisi aku dan mewarisi keluarga Ya'qub, dan jadikanlah dia, wahai Tuhanku, seorang yang diridhai."
(QS. Maryam: 5-6)
Atau Nabi Ibrahim 'alaihis salam, bapaknya para Nabi, yang doanya luar biasa panjang untuk keturunannya:
Agar menjadi umat yang berserah diri kepada Allah.
Rajin mendirikan shalat.
Dijauhkan dari kesyirikan.
Dan tumbuh menjadi orang-orang yang shalih.
Bayangkan, sahabat...
Seorang Nabi sebesar Ibrahim saja masih khawatir soal masa depan iman anak cucunya!
Apalagi kita?
Doa itu Kunci, Bukan Cadangan
Kadang-kadang dalam hidup, kita terlalu fokus ke usaha.
Kalau usaha buntu, baru deh ingat doa.
Padahal, seharusnya usaha dan doa itu jalan bareng dari awal.
Ingat, sehebat apa pun usaha kita dalam mendidik anak, tanpa taufik dan pertolongan Allah, semuanya bisa runtuh.
Karena itu, jangan pernah malu atau bosan berdoa untuk anak-anak kita.
Doa di waktu sahur.
Doa di antara adzan dan iqamah.
Doa saat sujud.
Doa saat hujan turun.
Semua momen emas itu jangan disia-siakan untuk memohonkan kebaikan bagi keturunan kita.
Doa Gabungan: Warisan dari Para Nabi
Kalau bingung mau doa apa, santai...
Allah dan para Nabi sudah mengajarkan redaksinya.
Berikut kumpulan doa-doa tersebut:
اللهم اجعل أزواجنا وذرياتنا قرة أعين، وبارك لنا فيهم، واجعلنا للمتقين إماماً.
اللهم هب لنا من لدنك ذرية طيبة، إنك سميع الدعاء.
رب اجعلنا مسلمين لك ومن ذريتنا أمة مسلمة لك، وأرنا مناسكنا وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم.
رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي، ربنا وتقبل دعاء.
رب هب لي من الصالحين، وأصلح لي في ذريتي.
رب أوزعني أن أشكر نعمتك التي أنعمت علي وعلى والديّ وأن أعمل صالحاً ترضاه وأصلح لي في ذريتي، إني تبت إليك وإني من المسلمين.
وجنبني وبنيّ أن نعبد الأصنام.
Artinya:
"Ya Allah, jadikanlah pasangan-pasangan kami dan keturunan-keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, berkahilah mereka untuk kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keturunan yang baik, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.
Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami orang-orang yang berserah diri kepada-Mu, dan jadikanlah keturunan kami umat yang tunduk berserah diri kepada-Mu, dan perlihatkanlah kepada kami tata cara ibadah kami, serta terimalah taubat kami.
Wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan shalat, demikian pula keturunanku.
Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari golongan orang-orang yang shalih, dan perbaikilah keturunanku untukku.
Wahai Tuhanku, tuntunlah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, agar aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai, serta perbaikilah keturunanku untukku.
Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
Dan jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala."
Penutup
Sahabat sekalian,
Kalau kita ingin meninggalkan warisan terbaik untuk anak-anak kita,
bukan harta semata,
bukan gelar,
bukan ketenaran...
Tapi kebaikan, iman, dan doa yang terus mengalir.
Mari kita jadikan doa untuk anak-anak kita sebagai napas harian.
Karena anak-anak kita bukan hanya butuh bekal dunia...
Mereka butuh bekal doa untuk melintasi jalan panjang menuju surga.
Semoga Allah menjadikan anak-anak kita keturunan yang shalih dan shalihah.
Semoga Allah memperbaiki keturunan kita dunia akhirat.
Semoga Allah menjadikan kita orang tua yang sabar, penuh syukur, dan tak pernah berhenti berdoa.
Aamiin.
Sedikit catatan:
Nasihat ini disarikan dari buku Fiqh Tarbiyatul Abna’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi (hlm. 14), dengan sedikit penyesuaian bahasa supaya lebih akrab di telinga kita.
Jangan Remehkan Doa untuk Anak Sejak Lahir
Oleh Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Pembuka
Teman-teman yang dirahmati Allah,
Kalau kita lihat, betapa orang tua zama...n sekarang begitu telaten menyiapkan kamar bayi, baju-baju lucu, bahkan sesi foto newborn yang estetik. Tapi sering kali kita lupa, bahwa yang lebih penting dari semua itu adalah perlindungan untuk ruh dan jiwanya. Anak bukan hanya makhluk kecil yang lucu, tapi juga amanah besar yang harus kita bimbing sejak ia membuka mata di dunia. Maka mari kita mulai dari langkah paling awal: doa dan penjagaan spiritual.
1. Doa Perlindungan Sejak Lahir
Kita belajar dari teladan keluarga terbaik. Ketika Maryam dilahirkan, ibunya—yaitu istri Imran—berdoa agar anaknya dijaga dari gangguan setan. Allah abadikan doanya dalam Al-Qur’an:
“Dan aku telah menamakannya Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak keturunannya dari (gangguan) setan yang terkutuk.”
(Ali ‘Imran: 36)
Bahkan para ulama menjelaskan: doa ini menjadi sebab perlindungan Maryam dan ‘Isa ‘alaihimassalām dari gangguan setan sejak lahir.
Luar biasa, bukan?
2. Gangguan ‘Ain Itu Nyata
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
العَيْنُ حَقٌّ
“‘Ain (pengaruh pandangan hasad atau takjub) itu benar adanya.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Kadang kita bingung: anak sering sakit, tubuhnya kurus, bolak-balik ke dokter tapi tidak juga sembuh. Bisa jadi itu bukan karena virus, tapi karena ‘ain—pandangan yang membawa penyakit.
Solusinya? Ruqyah.
Rasulullah sendiri menyuruh keluarga sahabat untuk meruqyah anak-anak mereka.
Dalam hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallāhu ‘anhumā disebutkan:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan tubuh kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim no. 2564)
Boleh jadi, anak yang wajahnya tak semenarik saudara-saudaranya—di sisi Allah justru paling mulia.
Maka jangan remehkan anak karena tampilan.
Yang kita rawat bukan hanya badannya, tapi jiwanya.
Penutup
Sahabat semua, yuk mulai dari sekarang:
Biasakan mendoakan anak sejak lahir.
Jangan anggap remeh ruqyah dan perlindungan dari ‘ain.
Jangan menilai anak hanya dari wajah dan bentuk tubuhnya.
Karena bisa jadi, justru anak yang kita anggap “biasa-biasa saja”—kelak menjadi sebab kita masuk surga.
Disarikan dari Fiqh Tarbiyatul Abnā’ karya Syaikh Musthafa al-‘Adawi (hlm. 41–43), dengan penyesuaian bahasa.
YukNgaji Ibadah
🕋 MADRASAH UMRAH
Oleh: Nuruddin Abu Faynan Al-Makky
---
Bismillah…
Perjalanan umrah bukan sekadar ritual ibadah, tapi juga madra...sah—tempat kita belajar tentang hidup, iman, dan penghambaan yang sejati. Di Tanah Suci, kita dididik langsung oleh Allah, lewat setiap langkah dan amalan. Inilah beberapa pelajaran penting dari madrasah umrah:
---
🔹 1 | Umrah Mengajarkan Kita untuk Yakin
Allah berfirman:
“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.”
(QS. Ali Imran: 185)
Dan juga:
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian. Sungguh, guncangan hari kiamat itu adalah sesuatu yang sangat dahsyat.”
(QS. Al-Hajj: 1)
Saat mengenakan ihram—kain putih polos tanpa jahitan—kita seolah mengenakan kain kafan.
Semua terlihat sama, tanpa gelar dan status.
Sebagaimana:
Awal kiamat adalah kematian
Awal ibadah umrah adalah ihram
💡 Gunakanlah sisa umur untuk taat dan mendekat kepada Allah.
“Beribadahlah kepada Tuhanmu hingga datang kepadamu keyakinan (kematian).”
(QS. Al-Hijr: 99)
---
🔹 2 | Umrah Mengajarkan Kita untuk Ikhlas
Ikhlas adalah fondasi ibadah: hanya mengharap ridha Allah, bukan pujian atau imbalan dunia.
Dengan keikhlasan:
Ibadah diterima
Dosa diampuni
Hati menjadi tenang
Talbiyah yang kita lantunkan:
“Labbaik Allahumma labbaik… tiada sekutu bagi-Mu…”
Adalah pengakuan tulus bahwa kita datang hanya karena Allah.
Imam Ali bin Husain bahkan gemetar saat bertalbiyah, takut jika Allah tidak menerimanya.
🌱 Mari kita perbarui niat:
Ikhlas karena Allah
Bertaubat sungguh-sungguh
Istiqamah dalam ketaatan
---
🔹 3 | Umrah Mengajarkan Kita untuk Banyak Berdzikir
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Thawaf, Sa’i, dan lempar jumrah disyariatkan untuk menegakkan dzikir kepada Allah."
(HR. Abu Dawud)
Dzikir adalah:
Cermin cinta dan rindu kepada Allah
Tanda hati yang hidup dan tunduk
Bahkan saat menyentuh Hajar Aswad, Rasulullah ﷺ meneteskan air mata.
🌿 Jadikan lisan kita basah dengan dzikir, dan hati kita selalu terhubung dengan-Nya.
---
🔹 4 | Umrah Mengajarkan Kita untuk Tawakal
Kisah Hajar ditinggal di padang tandus tanpa bekal...
Saat tahu ini perintah Allah, ia berkata:
“Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Dari keimanan itulah muncul air zam-zam, dan berdirilah Ka'bah.
📌 Taat dan tawakal membawa keberkahan yang tak terduga.
---
🔹 5 | Umrah Mengajarkan Kita untuk Tawadhu’
Tahallul (mencukur rambut) adalah simbol tunduk dan pasrah.
Kita menanggalkan keakuan, meninggalkan kesombongan.
💠 Maka jadilah:
Suami yang rendah hati
Istri yang lembut dan taat
Ustadz yang tidak tinggi hati
Rasulullah ﷺ, walau pemimpin umat, tetap tawadhu’ dalam segala hal.
---
🔚 Penutup
Umrah bukan sekadar perjalanan ibadah, tapi sekolah jiwa.
Mari pulang dengan oleh-oleh terbaik:
Iman yang lebih kuat
Ibadah yang lebih khusyuk
Akhlak yang lebih lembut
Semoga Allah menerima amal kita, menyempurnakan ibadah kita, dan menjadikan umrah ini penuh berkah.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
---
🕌 Silakan dibagikan, semoga menjadi pengingat dan pelajaran untuk kita semua.
🖋️ Nuruddin Abu Faynan
🕌 YukNgaji Tarbiah
📌 "Anak Itu Cerminan Orang Tua"
🖊️ Nuruddin Abu Faynan
---
👨👩👧👦 Ayah… Ibu…
Anak itu nggak la...ngsung ngerti mana yang benar dan salah sejak lahir.
Dia lahir dalam keadaan fitrah — suci dan bersih.
Tinggal siapa yang ngebentuknya… itu kita.
---
📜 Nabi ﷺ bersabda:
> "Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Tapi orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."
(HR. Bukhari-Muslim)
---
🎙 Kata penyair Arab:
> وينشأ ناشئُ الفتيانِ منا
على ما كان عوّده أبوهُ
وما دانَ الفتى بحجىً، ولكن
يعوّده التدينَ أقربوهُ
> “Anak tumbuh sesuai kebiasaan ayahnya,
dan agama si anak biasanya niru keluarganya.”
---
📍 Jadi sebelum sibuk nyalahin anak...
❓ Coba tanya diri sendiri:
Udahkah kita jadi contoh yang baik?
🧠 Anak itu bukan pendengar yang baik,
tapi peniru yang luar biasa cepat.
YukNgaji Sejarah
Pelajaran Berdarah dari Uhud:Saat Ego Merobek Kemenangan
Nuruddin Abu Faynan
[1] Abu Sufyan membakar semangat Quraisy
“Bantu aku lawan Muhammad d...engan harta ini!”
Terkumpul 1.000 unta, 50.000 dinar, dan 3.000 pasukan.
Bulan Syawal, pasukan berangkat dari Makkah menuju Madinah.
📖 Ini bukan sekadar kisah perang—tapi pelajaran tentang iman, siasat, dan pengorbanan.
---
[2] Surat rahasia dari Makkah!
Al-‘Abbas mengirim surat rahasia kepada Nabi ﷺ:
"Pasukan Quraisy sedang bergerak menuju Madinah!"
Madinah gempar. Yahudi dan munafik ketakutan.
Suku Aus dan Khazraj siaga, berjaga di Masjid Nabawi sambil bawa senjata.
---
[3] Mimpi Nabi ﷺ sebelum perang
Beliau bermimpi sapi disembelih, pedangnya sumbing, dan tangan masuk baju perang.
Maknanya: sahabat gugur, keluarga wafat, dan waktunya bertahan.
Tapi para pemuda ingin maju. Rasulullah mengenakan baju perang dan bersabda:
"Tak pantas bagi Nabi melepas baju perangnya sebelum Allah memberi keputusan."
---
[4] Pasukan 1.000, mundur 300!
Abdullah bin Ubay dan pengikutnya balik kanan.
Alasannya? “Rasul tidak ikut saranku.”
Padahal, Nabi membawa wahyu, bukan ego pribadi.
Anak-anak muda semangat ikut jihad. Tapi Nabi seleksi ketat: bukan soal umur, tapi kesiapan.
Bahkan ada yang melempar tanah ke arah Nabi ﷺ—dan Rasul bersabar:
"Dia bukan cuma buta mata, tapi juga buta hati."
---
[5] Sabtu pagi, perang dimulai!
Nabi ﷺ maju bersama 700 sahabat.
50 pemanah ditempatkan di bukit belakang dengan pesan tegas:
"Jangan turun, apapun yang terjadi!"
Pasukan musyrik 3.000 orang, 200 kuda, sayap kanan dipimpin Khalid bin Walid.
Duel dibuka. Az Zubair menumbangkan Thalhah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Setiap Nabi punya hawariy (pembela setia). Hawariy-ku adalah Az-Zubair!"
---
[6] Awalnya menang besar!
Pasukan musyrik kocar-kacir.
○ Pemanah solid.
○ Nabi ﷺ dikawal dua malaikat: Jibril dan Mikail.
○ Ghanimah melimpah. Tapi… cobaan pun datang.
---
[7] Titik balik yang tragis
○ Sebagian pemanah turun dari bukit, tergoda harta.
● Khalid bin Walid tak sia-siakan peluang. Serangan balik dari belakang.
● Kacau total. 70 sahabat gugur. Di antaranya:
Singa Allah, Hamzah bin Abdul Muththalib.
Dibunuh dari jauh oleh Wahsyi. Tapi kelak… Wahsyi masuk Islam, dan tombaknya justru menewaskan Musailamah si nabi palsu.
---
[8] Kabar hoaks mengguncang!
“Nabi ﷺ wafat!” Sebagian sahabat panik.
○ Ada yang lari ke Madinah.
○ Ada yang buang senjata.
Tapi Anas bin An-Nadhr bangkitkan semangat:
"Kalau Muhammad wafat, Tuhannya tidak wafat. Berjuanglah seperti beliau!"
Lalu ia syahid dengan lebih dari 80 luka.
"Aku mencium aroma surga dari balik Uhud," katanya sebelum gugur.
---
[9] Nabi ﷺ terluka parah
Gigi patah. Wajah berdarah. Tapi tetap tegar.
■ Para sahabat jadi tameng hidup.
70 sahabat gugur.
○ Banyak dari Anshar.
Dibaringkan berdua dalam satu kafan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Aku menjadi saksi mereka di Hari Kiamat."
---
[10] Setelah Uhud: fitnah, tapi juga pelipur dari langit
□ Kaum munafik dan Yahudi mulai nyinyir:
“Kalau mereka nggak ikut perang, pasti gak mati.”
“Muhammad hanya cari kekuasaan.”
■ Lalu Allah turunkan 60 ayat dari langit—QS. Ali ‘Imran ayat 121–180.
Sebagai pelipur, pelajaran, dan pembelaan bagi Nabi ﷺ dan sahabat.
---
Uhud bukan akhir. Tapi awal pembuktian iman.
Ia ajarkan satu hal penting:
□ Taat pada Rasul adalah kunci.
Jangan sampai ego dan cinta dunia… merobek kemenangan.
📝 Disarikan oleh: Nuruddin Abu Faynan
📍 Dari Tabligh Akbar Ustadz Dr. Abdullah Roy – Bandung, 25 Juni 2025
بسم ال...ه الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menganugerahkan kepada kita salah satu karunia paling berharga dalam hidup: anak-anak.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan utama dalam membina generasi bertauhid dan berakhlak.
---
🍼 Anak: Nikmat dari Allah
Anak adalah nikmat besar yang Allah titipkan.
Mereka bukan sekadar menghibur dengan tingkah lucunya,
tapi juga menjadi penyejuk hati dan penghidup rumah yang sebelumnya terasa sunyi.
> "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia."
(QS. Al-Kahfi: 46)
Jika dididik dengan ikhlas dan sabar, anak bisa menjadi:
✅ Pembuka pintu rezeki
✅ Ladang amal dan pahala
✅ Amal jariyah yang terus mengalir walau orang tuanya telah tiada
> "Jika anak Adam meninggal, amalnya terputus kecuali tiga:
sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya."
(HR. Muslim)
---
🧪 Anak: Ujian Kehidupan
Namun, selain nikmat, anak juga merupakan ujian dari Allah.
> "Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian."
(QS. At-Taghabun: 15)
Ujiannya beragam:
Saat kecil: tangisan, kelelahan, begadang
Saat remaja: mulai membantah, sulit diarahkan
Bahkan ada yang diuji dengan anak yang sakit atau memiliki keterbatasan
Saat itulah keimanan orang tua diuji:
Apakah tetap bersabar?
Tetap istiqamah?
Tetap menjaga kehalalan nafkah demi masa depan mereka?
---
🛡 Anak: Amanah yang Akan Dimintai Pertanggungjawaban
Anak bukan sekadar titipan, tapi amanah yang akan Allah minta pertanggungjawabannya kelak.
> "Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
(HR. Bukhari & Muslim)
Tugas orang tua adalah:
Mengajarkan tauhid sejak dini
Menanamkan adab dan akhlak yang mulia
Mengenalkan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya
> "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
(QS. At-Tahrim: 6)
Sebagian salaf berkata:
"Jagalah mereka dengan ilmu dan adab."
---
👨👩👧 Peran Orang Tua Sangat Besar
Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."
(HR. Bukhari & Muslim)
Artinya, orang tua adalah penentu arah awal hidup anak.
Masa emas mereka ada di usia 0–7 tahun.
Itulah saat terbaik untuk:
✅ Memberi kasih sayang
✅ Menjadi teladan
✅ Menanamkan pendidikan agama dan adab
> "Perintahkan anak-anak kalian shalat di usia 7 tahun."
(HR. Abu Dawud)
---
📌 Tips Ringan untuk Orang Tua
1. Ajarkan agama dan adab sejak dini
Mulai dari tauhid, akhlak, tanggung jawab, dan menghormati guru serta orang tua.
2. Utamakan kasih sayang daripada kekerasan
> "Allah Maha Penyayang kepada yang penyayang."
(HR. Tirmidzi)
3. Jadilah teladan, bukan hanya pemberi nasihat
Anak lebih mudah meniru perbuatan daripada mendengar ceramah panjang.
4. Perbanyak doa untuk anak
Seperti Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya, yang tak pernah lepas dari doa untuk keturunan mereka.
---
🏁 Penutup
Waktu kita bersama anak sangatlah singkat.
Gunakan dengan penuh syukur, kesabaran, dan cinta karena Allah.
Semoga Allah menjaga anak-anak kita,
menjadikan mereka generasi yang saleh dan salihah,
serta penyejuk mata di dunia dan akhirat.
> "Ya Rabb kami, anugerahkan kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk mata kami."
(QS. Al-Furqan: 74)
YukNgaji Ibadah
🎥 Arafah: Saat Allah Menyebut Namamu di Langit
🗣 Oleh: Nuruddin Abu Faynan
🎙 Assalamu’alaikum, jamaah yang dimuliakan Allah...
Bayangin......
Di sore hari Arafah, Allah — Dzat Yang Maha Besar — sedang menyebut nama kalian di hadapan para malaikat-Nya.
Dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Rasulullah ﷺ bersabda:
> "إِنَّ اللَّهَ يُبَاهِي بِأَهْلِ عَرَفَةَ مَلَائِكَتَهُ، فَيَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا"
"Sesungguhnya Allah membanggakan para jamaah Arafah di hadapan malaikat-Nya. Lalu Dia berfirman: Lihatlah hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu."
(HR. Ahmad, Musnad 2/224)
Dan dalam syair Mīmiyyah yang masyhur, Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan momen ini dengan begitu dalam:
> فلله ذاك الموقف الأعظم الذي
كموقف يوم العرض بل ذاك أعظم
“Maka milik Allah-lah momen agung itu — momen yang seperti Hari Perhitungan... bahkan lebih agung lagi dari itu.”
ويُدني به الجبارُ جل جلاله
يُباهي بهم أملاكَه فهو أكرمُ
“Allah yang Maha Perkasa turun mendekat, membanggakan mereka di hadapan para malaikat-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Pemurah.”
يقول: عبادي قد أتوني محبةً
وإني بهم برٌّ أجودُ وأرحمُ
“Dia berfirman: Hamba-hamba-Ku datang karena cinta. Dan Aku — kepada mereka — Maha Dermawan dan Maha Penyayang.”
فأُشهدُكم أني غفرتُ ذنوبَهم
وأعطيتهم ما أمّلوا وأنعِمُ
“Maka Aku persaksikan kepada kalian (wahai para malaikat), Aku telah mengampuni dosa-dosa mereka. Aku kabulkan harapan mereka. Dan Aku curahkan nikmat-Ku atas mereka.”
Subhanallah...
Allah nggak datang dengan tangan kosong…
Dia datang membawa hadiah paling berharga: ampunan total.
YukNgaji Ibadah
Kurban Berkualitas: Bukan Cuma Gemuk, Tapi Sesuai Tuntunan!
Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Syarat Kurban: Bukan Sembarang Sembelih
Ibadah kurban... itu ibadah besar—bukan sekadar motong hewan, selesai. Ada aturan syariat yang harus dipenuhi supaya kurban sah dan berpahala.
Yuk, simak syarat-syarat dasarnya!
1. Jenis Hewannya Harus Tertentu
Nggak semua hewan bisa jadi kurban. Hanya tiga jenis hewan yang masuk kategori:
Unta
Sapi/Kerbau
Kambing/Domba
Allah Ta‘ālā berfirman:
> وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
“…dan mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa bahīmah al-an‘ām (hewan ternak).”
(QS. Al-Hajj: 28)
Kelinci, ayam, atau rusa?
Bukan termasuk hewan kurban, ya!
2. Umurnya Harus Cukup
Jangan pilih hewan yang masih “bocil”! Kurban harus dari hewan yang sudah cukup umur.
Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
> “Jangan menyembelih kecuali yang sudah musinnah (cukup umur). Tapi kalau sulit, bolehlah jadza‘ah dari domba.”
(HR. Muslim, no. 1963; Syarh An-Nawawi, 13/109)
Penjelasan para ulama:
Unta: minimal 5 tahun
Sapi: minimal 2 tahun
Kambing: minimal 2 tahun
Domba: boleh yang 6 bulan, asalkan gemuk dan sehat
Kurban nggak sah kalau disembelih sebelum salat Id!
Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
> “Siapa yang menyembelih sebelum salat, maka itu hanya daging biasa. Yang sah adalah setelah salat Id.”
(HR. Bukhari, no. 5562; Syarh Muslim, no. 1960)
Kapan waktu sah kurban?
Mulai: setelah salat Id, tanggal 10 Dzulhijjah
Berakhir: sebelum maghrib, 13 Dzulhijjah
> Nabi bersabda:
“Hari-hari tasyrik adalah waktu menyembelih kurban.”
(HR. Ahmad)
Kesimpulan Singkat Biar Nggak Salah:
Jenis hewan: unta, sapi, kambing/domba
Usia: cukup umur (jangan yang bocil!)
Kondisi fisik: sehat dan nggak cacat
Waktu sembelih: setelah salat Id, sampai 13 Dzulhijjah sebelum maghrib
Kurban Itu Ibadah, Bukan Formalitas
Jangan sampai niat baik jadi sia-sia cuma karena asal-asalan. Kalau ragu, tanya pada yang lebih paham.
Biar bukan cuma gemuk hewannya, tapi juga sah ibadahnya.
Ikhtiar Orang Tua, Hidayah Tetap Milik Allah
Oleh: Nuruddin Abu Faynan
Bismillah.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan kepada kita anak-anak, seb...agai amanah sekaligus ladang amal yang besar. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, teladan terbaik kita dalam semua aspek kehidupan—termasuk dalam mendidik generasi penerus umat ini.
Sahabat yang dirahmati Allah,
Tema tulisan kita ini sangat dekat dengan hati semua orang tua: tentang usaha mendidik anak. Tapi ada satu hal penting yang harus selalu kita ingat: tugas kita hanya berikhtiar sebaik mungkin, sedangkan hasil akhirnya tetap di tangan Allah.
Kadang, kita sudah berusaha keras, tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Jangan putus asa. Jangan merasa sia-sia. Karena hati manusia berada di genggaman Allah, dan Dia mampu membolak-balikkan hati dalam sekejap.
Yuk, kita belajar dari kisah para nabi dan orang-orang shalih. Supaya kita makin yakin: hidayah itu hak mutlak Allah, bukan hasil kerja keras semata.
1. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam: Anak Saleh dari Ayah Kafir
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah pemimpin tauhid, meskipun lahir dari seorang ayah yang penyembah berhala.
Allah berfirman:
"Maha Suci Allah, yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan yang mati dari yang hidup."
(QS. Ar-Rum: 19)
Dan juga:
"Dan di antara keturunan mereka (Ibrahim dan Ishaq) ada yang berbuat baik, dan ada pula yang menzalimi dirinya sendiri."
(QS. Ash-Shaffat: 113)
Pelajaran:
Lingkungan keluarga memang penting, tapi iman bukan sesuatu yang otomatis diwariskan.
2. Nabi Yusuf ‘alaihissalam: Tanpa Orang Tua, Tetap Shalih
Nabi Yusuf kecil dibuang ke sumur, dijual jadi budak, dibesarkan di istana penuh godaan.
Tanpa ayah, tanpa ibu, tanpa guru yang membimbing...
Tapi apa yang terjadi?
Beliau tetap tumbuh menjadi lelaki shalih, sabar, dan penuh hikmah.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik penjaga, dan Dia Maha Penyayang dari segala penyayang."
(QS. Yusuf: 64)
Pelajaran:
Kalau Allah yang menjaga, meski jauh dari orang tua, anak tetap bisa tumbuh mulia.
3. Nabi Musa ‘alaihissalam: Dibesarkan di Tengah Kezaliman
Nabi Musa kecil dihanyutkan di sungai karena ancaman pembunuhan dari Fir’aun.
Lalu, anehnya, beliau justru dibesarkan di istana Fir’aun sendiri—simbol kezaliman.
Tapi siapa yang menjaga keimanan Musa?
Allah.
Pelajaran:
Lingkungan seburuk apapun takkan mampu merusak, kalau Allah yang menjaga.
Sebaliknya, lingkungan terbaik pun tak ada gunanya kalau Allah tidak berikan taufik.
4. Bocah dalam Surah Al-Kahfi: Anak Kafir dari Orang Tua Mukmin
Dalam kisah Nabi Musa dan Khidhir, ada seorang anak yang tumbuh kafir, padahal orang tuanya orang beriman.
Allah berfirman:
"Adapun anak itu, kedua orang tuanya adalah mukmin. Kami khawatir ia akan menjerumuskan keduanya dalam kekafiran dan penderitaan. Maka kami ingin agar Allah menggantinya dengan anak yang lebih baik, lebih suci, dan lebih menyayangi orang tuanya."
(QS. Al-Kahfi: 80–81)
Pelajaran:
Hidayah bukan warisan. Anak dari orang tua shalih belum tentu jadi anak shalih, kecuali dengan izin Allah.
5. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam: Yatim, Tapi Jadi Rahmat untuk Alam Semesta
Sejak lahir, Rasulullah sudah yatim.
Beliau tumbuh dalam keterbatasan, tanpa ayah dan ibu yang mendampingi.
Tapi lihat, siapa yang membimbing beliau menjadi pribadi paling mulia?
Allah-lah yang menjaga Rasul-Nya sejak kecil hingga dewasa.
Pelajaran:
Bukan kemewahan yang membentuk seseorang, tapi penjagaan Allah-lah yang menentukan.
Kesimpulan
Sahabat sekalian,
Sebagai orang tua, tugas kita adalah berikhtiar sebaik mungkin: mendidik, membimbing, mendoakan.
Tapi setelah semua itu, serahkan urusan hidayah kepada Allah.
Karena sehebat apapun usaha kita, hidayah tetap hak prerogatif Allah.
Maka, mari terus memperbanyak doa, sambil tetap berikhtiar.
Semoga Allah menjaga anak-anak kita, menanamkan iman dalam hati mereka, memperbaiki keturunan kita, dan menjadikan mereka penerus kebaikan dunia akhirat.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Sedikit catatan:
Nasihat ini disarikan dari buku Fiqh Tarbiyatul Abna’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi (hlm. 11–13), dengan sedikit penyesuaian bahasa supaya lebih akrab di telinga kita.
🕌 YukNgaji Tarbiah
📍 Madrasah Pertama Itu Bernama Rumah
✍️ Nuruddin Abu Faynan
---
Kalau ngomongin pendidikan anak, yang langsung terbayang biasanya sekolah, pesa...ntren, atau tempat les...
Tapi tahukah kita?
🏠 Madrasah pertama anak adalah rumah.
Dan guru pertamanya? Ibunya.
Di rumahlah anak pertama kali belajar:
🗣️ berbicara,
🧠 bersikap,
💖 berakhlak,
dan mengenal siapa Rabb-nya dan siapa Nabinya ﷺ.
---
📖 Syaikh Ibnu Baz رحمه الله berkata:
> “Nasihatilah anakmu, bimbing ia ke jalan kebaikan, dan jangan lupa doakan ia dalam salat dan di waktu-waktu mustajab.”
📚 Majmū‘ Fatāwā 5/245
---
Kadang kita sibuk marah saat anak salah...
Tapi lupa menangis dalam sujud, mendoakannya penuh harap.
🌱 Anak gak butuh ibu yang sempurna,
tapi butuh ibu yang mau:
✔️ mendengar,
✔️ membimbing,
✔️ dan terus mendoakannya.
---
💍 Dan semua ini…
Dimulai bahkan sebelum anak lahir.
👉 Saat kita memilih siapa yang akan menjadi ibu dari anak-anak kita.
---
🎯 Mari jadikan rumah kita: Bukan sekadar tempat pulang,
Tapi tempat iman bertumbuh,
Tauhid ditanam,
Dan generasi dibentuk.
“Belajar Tauhid Nggak Ribet, Kalau Sama Ulama yang Tepat”
Oleh Ust Nuruddin Abu Faynan
Assalamualaikum teman-teman!
Pernah nggak sih, ngerasa belajar tauhid it...u berat?
Dalilnya banyak, istilahnya asing, bahasanya muter-muter...
Kadang baru baca dua baris aja, udah pengen scroll TikTok lagi, iya nggak?
Tapi coba deh, sempatin dengerin Syaikh Bin Baz rahimahullah.
MasyaAllah, kalau beliau bahas tauhid...
Itu rasanya kayak air jernih yang ngalir ke hati.
Gaya penyampaiannya tuh:
* Nggak ribet,
* Nggak muter-muter,
* Tapi nancep banget.
Tiba-tiba kamu bisa bilang,
“Oh, ini toh maknanya laa ilaaha illallaah...”
“Ternyata gini cara jaga aqidah...”
Padahal sebelumnya berasa rumit banget.
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah...
(QS. Muhammad: 19)
Dan ingat juga sabda Nabi Muhammad ﷺ:
"من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين"
“Barangsiapa yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan kebaikan, maka Allah akan memahamkannya dalam agama.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Coba dengerin sekali aja...
InsyaAllah ketagihan.
Tauhid itu bukan teori dingin di buku —
Dia nyawa iman kita.
Dan Syaikh Bin Baz itu, salah satu jalan Allah buat ngenalin kita sama cahaya itu.
Yuk, jangan jauh dari ilmu tauhid.
Karena semakin kenal Allah, semakin tenang hidup kita.
"Ngajar Bisa Siapa Aja, Tapi Nggak Semua Bisa Mendidik"
Oleh: Ust. Nuruddin Abu Faynan
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ...
Pada zaman sekarang, banyak anak yang pintar. Namun, seringkali kita melihat bahwa adab dan akhlak mereka kurang terjaga. Mungkin ini karena kita lebih fokus mengajarkan akal dan pengetahuan mereka, sementara hati dan perilaku mereka kurang tersentuh.
Mengajar adalah bagian dari mendidik, namun mendidik itu jauh lebih dari sekadar mengajarkan pelajaran atau ilmu pengetahuan.
Pendidikan Islam adalah proses yang menyeluruh, yang tidak hanya mengembangkan sisi intelektual, tetapi juga membangun karakter—jiwa, akal, dan fisik—sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam.
Apa tujuannya?
Agar anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang baik, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi masyarakat. Seorang pendidik sejati tidak hanya ingin anak didiknya pintar secara intelektual, tetapi juga cerdas dalam sikap, perilaku, dan moral.
Sementara itu, mengajar lebih fokus pada pengembangan akal, penambahan wawasan, serta keterampilan praktis yang dibutuhkan untuk kehidupan. Namun, mendidik adalah proses yang lebih luas dan lebih dalam—merangkumi seluruh hidup dan masa depan seseorang, bukan hanya sekadar nilai ujian atau keterampilan praktis.
Sebagai contoh,
Pendidikan bukanlah hanya soal nilai ujian, tetapi nilai kehidupan. Bukan sekadar prestasi akademis, tetapi juga akhlak, iman, dan karakter yang menjadi bekal hidup di dunia dan akhirat.
Kesimpulan
Pendidikan itu bukan hanya soal nilai ujian, tapi soal bagaimana kita menanamkan nilai kehidupan. Bukan hanya soal prestasi akademis, tetapi juga soal akhlak, iman, dan budi pekerti yang menjadi bekal hidup di dunia dan akhirat.
Doa kita sebagai orang tua, guru, dan pendidik:
"Ya Allah, bantu kami untuk mendidik anak-anak kami dengan penuh cinta dan teladan. Kami sadar bahwa mereka bukan milik kami, mereka adalah titipan-Mu yang harus kami rawat dan didik dengan sebaik-baiknya."
📌 Memberi kasih sayang ke anak bukan ...cuma boleh—tapi disunnahkan.
Termasuk mencium anak, baik laki-laki maupun perempuan. Bukan tanda lemah, tapi warisan cinta dari suri teladan kita.
💬 Rasulullah ﷺ sendiri sering mencium anak-anaknya, termasuk Fathimah radhiyallahu ‘anha, sang putri tercinta.
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga mencium Aisyah radhiyallahu ‘anha, anak perempuannya yang kelak menjadi Ummul Mu’minin.
---
📖 Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita:
> "Kami pernah masuk ke rumah Abu Saif, pengasuh Ibrahim (putra Nabi ﷺ). Rasulullah ﷺ menggendong Ibrahim, lalu mencium dan memeluknya.”
(HR. Bukhari)
🍼 Dalam riwayat lain, Anas berkata:
> “Nabi ﷺ adalah orang yang paling penyayang kepada anak kecil. Putranya, Ibrahim, disusui di pinggiran Madinah. Nabi ﷺ sering datang bersama kami ke rumah sang pengasuh yang bekerja sebagai pandai besi. Beliau angkat Ibrahim, mencium, lalu kembali pulang.”
(HR. Muslim)
💔 Bahkan saat Ibrahim wafat, Nabi ﷺ berkata dengan penuh kasih:
> “Ibrahim adalah anakku. Ia wafat saat masih menyusu. Dua pengasuhnya akan menyempurnakan susuan itu di surga.”
---
Suatu hari, datang seorang Arab Badui yang heran melihat Nabi ﷺ mencium anak-anak.
Ia berkata, “Kalian suka mencium anak? Kami tidak biasa begitu.”
Nabi ﷺ menjawab tegas:
> “Kalau Allah sudah mencabut kasih sayang dari hatimu, aku bisa apa?”
(HR. Bukhari & Muslim)
---
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga pernah menyaksikan Nabi ﷺ mencium cucunya, Hasan bin Ali.
Al-Aqra’ bin Habis yang duduk di situ berkata:
> “Saya punya 10 anak, belum pernah saya cium satu pun.”
Nabi ﷺ memandangnya dan bersabda:
> “Siapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari & Muslim)
---
🧠 Kesimpulan:
📌 Jangan gengsi menunjukkan rasa sayang ke anak.
📌 Jangan malu jadi ayah yang lembut.
📌 Jangan pelit pelukan, ciuman, atau belaian.
Karena bisa jadi, ciuman kecil dari kita—jadi kenangan besar buat mereka. Seumur hidup.
(Disarikan dan disesuaikan dari Fiqih Tarbiyatul Abna’ karya Musthafa al-‘Adawi, hlm. 62–64)
YukNgaji Ibadah
🕋 Haji: Madrasah Tawakal
Nuruddin Abu Faynan
Assalamu’alaikum warahmatullah, jamaah yang dimuliakan Allah...
Tawakal bukan cuma soal pasrah. ... />
Tapi keyakinan penuh bahwa kalau Allah yang nyuruh, pasti Allah juga yang cukupin.
Lihat Nabi Ibrahim.
Diperintah tinggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus.
Sepi. Gak ada air. Gak ada siapa-siapa.
Hajar sempat bingung:
"Wahai Ibrahim, mau ke mana? Kok tinggalin kami di tempat seperti ini?"
Tapi begitu tahu ini perintah Allah, Hajar jawab tegas:
> "Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."
Subhanallah…
Tawakal yang lahir dari iman, bukan cuma ucapan.
Dan benar: dari lembah tandus itu…
🌊 Muncul Zamzam.
🏙 Muncul Makkah.
🕋 Muncul Ka'bah.
Semua berawal dari ketaatan dan tawakal.
Kalau Ibrahim gak taat, kalau Hajar gak yakin—gak akan ada kisah sebesar ini.
Jadi…
Kalau hidup kita pengen besar, langkah pertama: taat dan tawakal.
Allah yang jaga. Allah yang cukupkan.
> "Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan orang yang bertawakal kepada-Nya."
Aamiin 🤲
Kalau Mau Nangis, Nangislah di Arafah
Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Saudaraku,
Allah tidak pernah bersumpah atas sesuatu yang remeh. Setiap kal...i Allah bersumpah dalam Al-Qur’an, itu tandanya hal tersebut agung, penting, dan layak kita beri perhatian penuh.
Salah satunya, Allah bersumpah:
{وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ}
"Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan."
(QS. Al-Buruj: 3)
"Hari yang dijanjikan adalah Hari Kiamat,
hari yang disaksikan adalah Hari Arafah,
dan yang menyaksikan adalah Hari Jumat."
(HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani, Shahih al-Jami‘ no. 8201)
Subhanallah…
Hari Arafah—tanggal 9 Dzulhijjah—bukan hari biasa.
Ia disaksikan oleh para malaikat.
Hari ketika langit terbuka lebar untuk doa-doa hamba yang bersimpuh,
dan rahmat Allah turun seperti hujan yang deras.
Hari itu, Allah banggakan hamba-hamba-Nya di hadapan seluruh penduduk langit.
Dalam hadits disebutkan:
«ما من يومٍ أكثرَ من أن يُعتِقَ اللهُ فيه عبدًا من النارِ من يومِ عرفةَ»
"Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka selain Hari Arafah."
(HR. Muslim, no. 1348)
Saudaraku,
Kalau ada satu hari dalam setahun yang benar-benar “mahal”—itu Hari Arafah.
Kalau ada satu hari untuk mengevaluasi hidup, bersujud lebih lama, menangis sepenuh hati—itu Hari Arafah.
Siapa pun kita, di level iman mana pun, datanglah ke Hari Arafah dengan harapan.
Mohonlah ampunan.
Mohonlah kekuatan untuk istiqamah.
Mohonlah surga.
Karena langit sedang terbuka,
dan Allah sedang mendengar.
Maka jangan sia-siakan Hari Arafah.
Puasa, berdoa, bertaubat, menangislah kepada-Nya.
Karena tangisan paling berharga adalah yang mengalir di waktu paling mustajab.
“Bayi Lahir? Jangan Lupa Aqiqah, Biar Nggak Cuma Dapat Nama”
Oleh Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Bismillāh...
Setiap kali seorang bayi ...lahir ke dunia, bukan cuma rumah yang jadi ramai, tapi juga hati orang tua yang penuh haru. Tangisan pertama itu jadi tanda dimulainya amanah besar. Maka Islam, sebagai agama yang sempurna, memberikan tuntunan untuk menyambut kelahiran dengan cara yang penuh makna: aqiqah.
Aqiqah bukan sekadar potong kambing lalu bagi-bagi nasi box. Tapi ia adalah ibadah yang sarat makna: ungkapan syukur, doa keselamatan, dan harapan agar anak tumbuh dalam lindungan Allah.
Aqiqah: Syukur yang Sunnah
Salah satu bentuk syukur yang sangat dianjurkan saat dikaruniai anak adalah melaksanakan aqiqah. Hukumnya sunnah, dan disunnahkan dilakukan pada hari ketujuh setelah kelahiran.
Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ، وَيُحْلَقُ، وَيُسَمَّى»
"Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan hewan pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama."
(HR. Abū Dāwūd no. 2838, dari Samurah bin Jundub)
Untuk anak laki-laki dianjurkan menyembelih dua ekor kambing, sedangkan untuk anak perempuan cukup satu ekor kambing. Hal ini berdasarkan beberapa hadits dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang saling menguatkan maknanya.
Aqiqah ini bukan sekadar formalitas atau tradisi. Ia adalah bentuk cinta orang tua yang ingin anaknya tumbuh dengan keberkahan, jauh dari gangguan setan, dan dekat dengan rahmat Allah.
Kasih Nama Kapan? Hari Ketujuh Atau Sejak Lahir?
Dalam soal penamaan, Islam memberi kelonggaran. Meskipun disunnahkan memberi nama pada hari ketujuh, tapi memberi nama sejak lahir pun boleh dan sah.
Dalam hadits dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu, beliau berkata:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وُلِدَ لِيَ اللَّيْلَةَ غُلَامٌ، فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ
"Tadi malam aku dikaruniai seorang anak laki-laki, lalu aku menamainya dengan nama ayahku, yaitu Ibrāhīm."
(HR. Muslim no. 2315)
Begitu juga dalam kisah Nabi Zakariyā ‘alaihissalām, Allah Ta‘ālā berfirman:
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى
"Wahai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak bernama Yahyā."
(QS. Maryam: 7)
Jadi, kalau orang tua ingin memberi nama sejak hari pertama, silakan. Mau tunggu sampai hari ketujuh juga boleh. Intinya, Islam itu fleksibel dalam hal ini, selama nama yang dipilih baik dan punya makna yang bagus.
Penutup: Aqiqah Itu Ibadah, Bukan Ajang Gengsi
Aqiqah bukan ajang pamer. Bukan lomba nasi kotak. Tapi wujud cinta, syukur, dan ketaatan pada sunnah Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.
Dan jangan lupa: kasih nama yang baik. Karena nama adalah doa yang akan terus dipanggil seumur hidup.
Semoga Allah berkahi anak-anak kita, menjadikan mereka generasi shāliḥ dan shāliḥah, penyejuk mata, dan penerus kebaikan di bumi.
🧠 Anak Itu Peniru Ulung!
📌 “Hati-hati... Kita Dicontoh!”
✍️ Oleh: Ust. Nuruddin Abu Faynan
📢 Bismillah...
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yan...g menitipkan amanah luar biasa: anak.
Shalawat & salam untuk Rasulullah ﷺ, teladan terbaik dalam mendidik generasi.
Anak itu bukan cuma pendengar...
Tapi peniru yang sangat cepat.
Mereka seperti spons — nyerap semua yang dilihat & didengar.
❓Jadi... apa yang mereka lihat dari kita?
Kalau yang mereka lihat:
– Ayahnya zikir: “Subhanallah… Laa ilaaha illallah…”
– Rajin ke masjid
– Puasa Senin-Kamis
– Diam-diam sedekah
Maka tanpa sadar... anak pun akan meniru. Bahkan tanpa disuruh.
🚭 Tapi kalau yang mereka lihat:
– Umpatan
– Gosip 📢
– Joget TikTok
– Ayahnya sibuk rokok 🚬, nonton film tiap malam 🎬
Anak pun akan menyerap itu semua.
🎯 Contoh nyata:
Anak A disuruh nganter sedekah tiap malam
Anak B disuruh beli rokok
📊 Mental siapa yang tumbuh dengan empati?
🤲 Anak juga lihat...
Bagaimana kita memperlakukan orang tua kita.
Kalau ayahnya doain kakek-neneknya, jaga silaturahmi, ziarah kubur...
🌱 Maka anak pun tahu:
"Oh... begini cara menghargai orang tua."
Untuk para Ibu...
💡 “Anak perempuan belajar jadi wanita... dari ibunya.”
Kalau ibunya menjaga malu, sopan, anggun — anak akan ikut.
Tapi kalau ibunya ikut tren joget-joget sosmed, bercanda sama lelaki asing...
📉 Maka itulah yang akan ditiru.
💌 Maka wahai ayah, wahai ibu...
Takutlah kepada Allah dalam urusan anak-anakmu.
Mereka bukan cuma mendengar...
Mereka melihat, meniru, dan menyerap.
📌 Tunjukkan akhlak mulia.
📌 Tampakkan cintamu pada Allah dan Rasul.
📌 Karena anakmu sedang belajar — bukan dari buku, tapi dari dirimu.
📝 Disarikan dari kitab Fiqh Tarbiyatul Abna’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi (hlm. 24–25)
🖋️ Oleh: Ust. Nuruddin Abu Faynan
#YukNgajiIbadah
Talbiyah: Seruan Cinta Seorang Hamba
Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Setelah Niat Ihram, Apa Selanjutnya?
Jawabannya: Talbiyah!
Inilah dzi...kir spesial haji & umrah. Seruan cinta dan kepatuhan kita sebagai hamba.
Lafal Talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ...
“Labbaika Allahumma labbaik...”
Artinya: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah...”
Catatan:
Laki-laki: suara lantang
Perempuan: cukup lirih
Dalil:
Nabi bersabda:
"Jibril datang padaku dan menyuruh para sahabat untuk mengeraskan suara talbiyah."
(HR. Abu Dawud no. 1814, Ibnu Majah no. 2923 – Shahih)
Sampai di Ka'bah, Apa yang Dilakukan?
1. Stop Talbiyah, Mulai Idhthiba’
Begitu lihat Ka'bah: talbiyah dihentikan.
Bagi laki-laki, lakukan idhthiba’:
Kain ihram diselipkan di bawah ketiak kanan
Ujungnya disatukan di bahu kiri (bahu kanan terbuka)
Ini sunnah saat thawaf qudum.
(Lihat Zadul Ma'ad 2/216, Syarh Mumti’ 7/234)
2. Jenis Thawaf Sesuai Manasik:
Tamattu’:
Langsung thawaf & sa’i (umrah).
Qiran & Ifrad:
Thawaf Qudum (sunnah), lalu tunggu amalan haji
Next: Tata Cara Thawaf dan Doa-Doa yang Dibaca...
Kalau bermanfaat, jangan lupa share ke teman yang mau berangkat ya!
“Nggak Cuma Ngelulusin Anak, Tapi Ngebekalin Hidupnya”
Oleh: Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Pembuka:
Bismillah...
Teman-teman..., para orang tua, guru, dan semua yang punya andil dalam mendidik anak—hari ini kita hidup di zaman di mana orang tua bangga kalau anaknya lancar bahasa Inggris, jago coding, lulus kuliah luar negeri, atau viral di TikTok.
Tapi... ada satu pertanyaan penting:
Udah sekuat apa tauhid anak kita? Udah semirip apa akhlaknya sama akhlak Nabi?
Karena sepintar apa pun anak kita, kalau nggak kenal Tuhannya dan nggak punya adab, maka dia hanya akan jadi “robot canggih”—pintar, tapi bisa salah arah. Bisa sukses, tapi nggak tahu untuk apa hidupnya.
1. Tauhid: Pondasi Hidup Anak yang Gak Boleh Retak
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzāriyāt: 56)
Tauhid bukan cuma bab pertama di buku PAI. Tauhid adalah alasan utama kenapa kita dan anak-anak kita dilahirkan.
Makanya, Nabi Ya’qub ‘alaihissalām menjelang wafat, yang beliau tanyakan bukan:
“Kalian kerja di mana?” Tapi:
Inilah warisan terbaik: tauhid yang murni.
Harta bisa habis, gelar bisa dilupakan, tapi iman adalah bekal yang menyertai sampai mati.
2. Akhlak Nabawi: Karakter yang Nggak Lekang Zaman
Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam bukan cuma guru terbaik, tapi juga pendidik sejati. Beliau memulai dari tauhid, lalu menanamkan akhlak dalam hati para sahabat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh berkata:
"جَمِيعُ الخَيْرِ أَصْلُهُ تَوْحِيدُ اللَّهِ وَعِبَادَتُهُ، وَطَاعَةُ رَسُولِهِ، وَجَمِيعُ الشَّرِّ أَصْلُهُ الشِّرْكُ وَمَعْصِيَةُ الرَّسُولِ."
“Seluruh kebaikan bersumber dari tauhid kepada Allah dan ibadah kepada-Nya serta ketaatan kepada Rasul-Nya, dan seluruh keburukan bersumber dari syirik dan maksiat kepada Rasul.”
(Majmū‘ al-Fatāwā, 15/25)
Maka tugas kita bukan sekadar ngajarin anak cara sukses, tapi ngajarin untuk siapa kita hidup.
Bukan cuma ngajarin jadi anak pintar, tapi ngajarin jadi hamba Allah yang taat, santun, dan takut berbuat dosa.
3. Pola Asuh Islam Itu Bertahap, Bukan Instan
Syaikh Ibn Bāz rahimahullāh berkata:
"يُغْرَسُ فِي قَلْبِ الْوَلَدِ أُصُولُ الْأَشْيَاءِ الْعَظِيمَةِ، ثُمَّ تُفَصَّلُ لَهُ الْأُمُورُ شَيْئًا فَشَيْئًا، فَإِذَا ثَبَتَ الْأَصْلُ تَبِعَتْهُ الْفُرُوعُ، فَمَتَى صَلُحَ الْأَصْلُ اسْتَقَامَتِ الْفُرُوعُ."
“Tanamkan ke dalam hati anak prinsip-prinsip besar terlebih dahulu, kemudian rincikan kepadanya sedikit demi sedikit. Jika akarnya kuat, cabangnya akan menyusul. Maka apabila pondasinya benar, bagian lainnya akan lurus.”
(Majmū‘ Fatāwā Ibn Bāz, 2/319)
Jadi, jangan buru-buru pengen anak jadi “sholeh instan.”
Mulailah dari pondasi: tauhid yang kuat, akhlak yang lembut.
Satu demi satu, sabar. Seperti Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam membina para sahabat—bukan sehari dua hari, tapi dengan kesabaran dan cinta.
Penutup:
Teman-teman...
Jangan cepat bangga kalau anak kita juara kelas, hafal rumus, atau punya penghasilan.
Tapi banggalah saat dia:
Shalat tepat waktu karena takut kepada Allah.
Minta maaf karena tahu itu ajaran Rasulullah.
Menjaga pandangan, menjaga ucapan, dan tahu batasan pergaulan.
Karena pola asuh hari ini akan menentukan wajah umat di masa depan.
Maka, mulai dari sekarang:
Rawat tauhidnya. Bentuk akhlaknya. Didik dengan cinta, bukan cuma dengan target.
Kita bukan sekadar pengasuh.
Kita adalah penerus misi kenabian.
Wallāhu al-Musta‘ān.
Referensi:
Al-Qur’anul Karīm: QS. Adz-Dzāriyāt: 56 dan QS. Al-Baqarah: 133.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, Majmū‘ al-Fatāwā, 15/25.
Syaikh ‘Abdul ‘Azīz bin Bāz, Majmū‘ Fatāwā Ibn Bāz, 2/319.
<strong>"Mau Anakmu Shalih?</strong>
<strong>Mulai dari Namanya Dulu!"</strong>
Oleh: Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Pembuka:
...Bismillah...
Salah satu hadiah pertama orang tua buat anaknya adalah nama.
Dan jangan salah—nama bukan sekadar panggilan. Tapi itu identitas, doa, dan bekal hidup.
Jangan asal kasih nama yang terdengar keren tapi kosong makna.
Jangan juga kasih nama yang nanti bikin anakmu susah sendiri—malu, diejek, bahkan jadi bahan candaan tak pantas.
Nama Itu Doa
Orang Arab punya kaidah:
الأسماء تُفَاءَلُ بِهَا
Al-asmāʾ tufāʾal bihā
"Nama-nama itu membawa harapan dan optimisme."
Artinya, nama bukan cuma label, tapi bisa jadi doa seumur hidup.
Bahkan dalam mimpi pun, nama yang baik bisa jadi pertanda baik.
Seperti mimpi Rasulullah صلى الله عليه وسلم berikut ini:
"Aku bermimpi suatu malam, seolah kami berada di rumah 'Uqbah bin Rāfi', lalu dibawakan kurma dari jenis 'Ibnu Ṭāb'. Maka aku takwilkan bahwa itu adalah kemuliaan bagi kita di dunia, akhir yang baik bagi kita di akhirat, dan bahwa agama kita telah menjadi baik."
Nama Bisa Berdampak Seumur Hidup
Dalam sebuah hadits, Nabi صلى الله عليه وسلم mengganti nama yang artinya buruk:
"Nabi bertanya: 'Apa namamu?' Dia menjawab: 'Ḥuzn (Kesusahan).' Nabi berkata: 'Kamu (lebih baik) Sahl (Kemudahan).' Tapi dia menolak: 'Aku tidak akan mengubah nama yang diberikan ayahku.' Maka cucunya, Sa‘īd bin al-Musayyib, berkata: 'Kesusahan terus menetap di keluarga kami setelah itu.’"
Nama Bisa Mencerminkan Harapan atau Kutukan
Nabi صلى الله عليه وسلم pernah menyebut dua kabilah:
YukNgaji Parenting
📌 Keren Menurut Siapa?
Gaya Hidup Dimulai dari Kepala
✍🏻 Nuruddin Abu Faynan
---
Dan ini penting banget buat diingat…
... />
📌 Nabi ﷺ pernah melarang model cukur yang aneh dan nggak rapi — yang disebut “qaza’”.
Yaitu: mencukur sebagian rambut anak, tapi sisanya dibiarkan.
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Sayangnya, gaya yang dilarang Nabi ﷺ ini justru sekarang dianggap keren.
Padahal bukan soal keren atau nggaknya — tapi soal taat atau nggak sama Rasul ﷺ.
🚫 Lebih dari itu, anak juga nggak boleh dibebaskan ikut-ikutan gaya rambut orang-orang kafir —
seperti model Barat, potongan nyentrik, ala Inggris atau Prancis, yang seringkali lekat sama gaya hidup yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Ingat… gaya itu bukan cuma soal penampilan.
📌 Tapi bisa pelan-pelan bentuk cara pikir dan gaya hidup juga.
Na’udzubillāh min dzālik.
---
💡 Jadi, daripada sibuk nyari tren rambut terbaru buat kamu atau anakmu…
Kenapa nggak cari tahu aja: kayak apa sih gaya rambut Rasulullah ﷺ?
👉 Lalu tirulah sebagaimana beliau.
Karena ini bukan sekadar gaya, tapi bentuk cinta dan ketaatan kita pada Nabi ﷺ.
---
📖 Allah Ta’ala berfirman:
> "Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian — bagi siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah dan hari akhir, serta yang banyak mengingat Allah."
(QS. Al-Ahzab: 21)
Dan juga:
> "Jika kalian menaati beliau (Nabi ﷺ), niscaya kalian akan mendapat petunjuk."
(QS. An-Nur: 54)
---
📚 Disarikan dari: Fiqh Tarbiyatul Abna’ – Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hlm. 59 (dengan penyesuaian gaya bahasa)
---
🧠 Ingat: rambut boleh tumbuh lagi —
tapi nilai yang salah bisa tertanam selamanya.
💇♂️ Gaya rambut bisa kelihatan sekilas,
tapi gaya hidup akan menetap lebih lama.
📲 Yuk ikuti Channel Resmi Marhaban TV di WhatsApp!
Dapatkan berbagai konten eksklusif dari NAF:
– Artikel Ust. Nuruddin Abu Faynan
– Live kajian rutin
– Potongan ceramah pendek
– Info-info islami dan bermanfaat lainnya
🔗 Klik untuk bergabung:
https://whatsapp.com/channel/0029VaXuIEP30LKFpdKkoy2x
🍼 YukNgaji Parenting
"Tau Gak? Pipis Bayi Laki-Laki Gak Harus Dicuci!"
🗣️ Nuruddin Abu Faynan
Kalau baju kena pipis bayi laki-laki (yang masih ASI / belu...m MPASI), cukup diperciki air aja.
Tapi kalau yang ngompol bayi perempuan (juga masih ASI), wajib dicuci seperti biasa.
🧼 Nah… kalau dua-duanya udah mulai makan makanan padat, maka kencingnya dianggap najis berat dan harus dicuci penuh — gak cukup disemprot!
---
📖 Dalilnya?
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya dari sahabat Abu Samh radhiyallāhu ‘anhu:
"Aku pernah membantu Nabi ﷺ. Saat beliau hendak mandi, beliau berkata: 'Lindungi aku dari belakang,' maka aku pun memunggunginya.
Suatu hari, Hasan atau Husain radhiyallāhu ‘anhuma dibawa ke Nabi ﷺ, lalu pipis di dada beliau!
Aku langsung hendak mencucinya, tapi Nabi ﷺ bersabda:
> “Kalau bayi perempuan, dicuci. Tapi kalau bayi laki-laki, cukup diperciki air.”
(HR. Abu Dawud, shahih)
---
📌 Catatan Penting:
✅ Berlaku khusus untuk bayi yang belum makan makanan padat
✅ Kalau sudah MPASI → najisnya dianggap berat (harus dicuci)
✅ Ini bukan soal laki atau perempuan lebih ringan, tapi bedanya tekstur dan sifat urin bayi yang dijelaskan langsung oleh Nabi ﷺ
---
📝 Sumber rujukan:
Fiqh Tarbiyatul Abna’ – Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hlm. 58
(Dengan penyesuaian gaya bahasa dan penjelasan kekinian)
Ceramah#4
Anak, Cerminan hubungan kita dg Allah/ Teladan atau Tuntutan?
🗣️ Ust. Nuruddin Abu Faynan
---
🕌 Pembukaan
بسم الله الرح...من الرحيم.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang memberi kita amanah besar: menjadi orang tua, guru, dan pendidik generasi.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ — suri teladan utama dalam mendidik, membina, dan membentuk manusia.
---
Saudaraku yang dirahmati Allah…
Setiap dari kita tentu ingin anak-anak kita tumbuh jadi anak saleh:
🕌 Rajin salat,
📖 Cinta Qur’an,
💬 Lembut lisannya,
❤️ Kokoh imannya.
Tapi…
Kadang kita terlalu fokus pada hasil — tapi lupa proses.
Kita terlalu banyak memberi tuntutan, tapi lupa memberi teladan.
> Anak itu bukan hanya pendengar…
Tapi peniru paling cepat.
Mereka mungkin lupa nasihat kita,
tapi mereka hafal cara bicara kita, gaya hidup kita, bahkan ekspresi wajah kita saat marah.
---
Anak Saleh
💎 1. Dimulai dari Orang Tuanya
Allah mengabadikan kisah dua anak yatim dalam QS. Al-Kahfi ayat 82:
> وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا
“Karena ayah mereka adalah orang shalih.”
Bayangkan…
Si ayah sudah wafat, tapi keshalihannya masih melindungi anak-anaknya.
💬 Sa’id bin al-Musayyib berkata kepada anaknya:
> “Nak, aku menambah salat malam… demi kamu.”
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
(QS. An-Nisā’: 9)
📌 Artinya:
Takwa dan amal saleh kita hari ini adalah investasi spiritual untuk anak-anak kita kelak.
➡️ Mau anak kita kuat?
➡️ Maka kita yang harus lebih dulu kuat di hadapan Allah.
---
👩👧👦 2. Ibu Shalihah: Fondasi Sebelum Anak Lahir
Banyak yang ingin anak jadi penghafal Qur’an, tapi ibunya dipilih asal-asalan.
Padahal Nabi ﷺ sudah mewanti-wanti:
"Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang kuat agamanya, niscaya engkau akan beruntung."
(HR. Bukhari & Muslim)
Karena ibu adalah guru pertama.
Dialah yang pertama kali mengenalkan:
🧕 Wudhu
🛏️ Doa tidur
🗣️ Adab
📿 Zikir
Bahkan sejak malam pertama Islam sudah ajarkan doa:
"Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami (yakni anak)."
HR. Bukhārī no. 141, Muslim no. 1434
Doa ini dianjurkan dibaca sebelum jima’ agar keturunan yang dihasilkan terjaga dari gangguan setan, dengan izin Allah.
📌 Artinya, pendidikan anak itu dimulai bahkan sebelum dia lahir.
➡️ Bahkan sejak memilih pasangan.
---
🤲 3. Doa: Tameng Harian Anak-anak
Banyak orang tua terlalu sibuk menegur, tapi lupa berdoa.
Padahal Nabi ﷺ mendoakan cucunya, Hasan dan Husain:
"Aku mohon perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap setan dan binatang yang berbahaya, serta dari setiap mata yang jahat (hasad)."
📌 Doa ini juga bisa dibaca untuk anak-anak kita setiap pagi dan sore, sebagai bentuk penjagaan dan cinta yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ.
📖 Nabi Ibrahim berdoa:
> “Ya Rabb, jadikan aku dan anak keturunanku orang yang mendirikan salat…”
(QS. Ibrahim: 40)
📌 Doa bukan pelengkap.
Tapi inti dari tarbiyah para Nabi.
➡️ Bukan pelarian saat panik.
Tapi rutinitas penuh cinta.
---
🌙 4. Sunnah Perlindungan Harian yang Sering Terlupa
Banyak orang tua lupa bahwa Islam memberi sistem perlindungan spiritual harian untuk anak-anak.
Kalau belum hafal doa panjang, cukup bacakan:
📖 Surat Al-Ikhlāṣ, Al-Falaq, dan An-Nās — tiap pagi dan sore.
مَا تَعَوَّذَ مُتَعَوِّذٌ بِمِثْلِهِنَّ
"Tidak ada orang yang memohon perlindungan dengan sesuatu yang lebih utama daripada tiga surat ini (Al-Ikhlāṣ, Al-Falaq, dan An-Nās)."
HR. Aḥmad no. 20139
📌 Hadits ini menunjukkan keutamaan membaca tiga surat terakhir Al-Qur’an sebagai perlindungan terbaik, terutama untuk anak-anak, setiap pagi dan sore.
📌 Tiupkan ke tangan, usapkan ke tubuh anak, pagi dan sore.
"Jika malam telah datang atau kalian memasuki waktu sore, tahanlah anak-anak kalian, karena setan sedang menyebar saat itu."
(HR. al-Bukhārī no. 3280, Muslim no. 2012)
📌 Hadits ini adalah peringatan sekaligus bimbingan dari Nabi ﷺ agar melindungi anak-anak menjelang malam — bagian dari sunnah dalam tarbiyah dan perlindungan ruhani.
➡️ Ini bukan mitos.
Ini iman kepada yang ghaib.
Ini proteksi syar’i.
---
🧠 5. Anak Butuh Teladan, Bukan Ceramah
Anak itu lebih jago meniru daripada mendengar.
🔹 Kita pengin anak disiplin salat — tapi kita sendiri suka tunda-tunda.
🔹 Kita pengin anak jujur — tapi kita sering ingkar janji.
🔹 Kita pengin anak cinta Qur’an — tapi mushaf kita berdebu.
> “Nak, nanti Ayah beliin es krim ya…”
Padahal gak niat sama sekali.
Bohong kecil, tapi anak sedang belajar jadi kita.
📌 Mereka gak hafal nasihat kita,
Tapi mereka merekam ekspresi wajah kita.
---
🎯 6. Anak Gak Butuh Guru Sempurna, Tapi Tulus
Anak-anak gak butuh orang tua atau guru yang sempurna.
Tapi mereka butuh:
✅ Yang sabar ketika mereka lambat paham
✅ Yang jujur saat salah
✅ Yang minta maaf ketika khilaf
📌 Kadang yang paling anak ingat…
Bukan isi pelajaran, tapi cara kita bersikap saat mereka salah.
---
🔒 Penutup: Anak Saleh Itu Buah dari Amal Hari Ini
Kalau kita ingin anak kita cinta Qur’an…
➡️ Maka kita dulu yang harus akrab dengan mushaf.
Kalau kita ingin anak kita jujur…
➡️ Maka kita dulu yang harus berhenti bohong.
📌 Karena kelak, yang ditanya Allah bukan anak kita dulu.
Tapi kita — orang tuanya.
---
✅ Rangkuman Kilat
1. Anak adalah peniru, bukan sekadar pendengar.
2. Pendidikan dimulai dari siapa yang kita nikahi.
3. Doa adalah senjata utama orang tua.
4. Sunnah perlindungan harus jadi rutinitas harian.
5. Anak tidak butuh guru hebat, tapi teladan nyata.
6. Tarbiyah bukan instan — tapi proses panjang dan konsisten.
---
🤲 Doa Penutup
اللهم اجعلنا قدوةً حسنةً لأبنائنا…
Ya Allah, jadikan kami teladan bagi anak-anak kami…
Teguhkan kami di atas tauhid, akhlak, dan ilmu.
Jadikan anak-anak kami penyejuk mata, penerus dakwah, penjaga Al-Qur’an, dan pejuang kebenaran.
Assalamualaikum, teman-teman yang dirahmati Allah…
Kadang, semangat ibadah membuat kita lupa untuk tetap merendah. .../>
Padahal… ibadah yang diterima Allah, bukan hanya karena banyaknya rakaat,
tapi karena hadirnya hati yang penuh kasih, bukan tinggi diri.
“Bangun malam itu mulia… tapi bukan alasan buat meremehkan orang lain yang tidur.”
Imam Asy-Syirazi waktu kecil suka tahajud. Suatu malam dia berkata ke ayahnya,
“Lihat mereka, tidur kayak orang mati! Nggak ada yang shalat dua rakaat!”
Ayahnya menjawab,
“Nak… kalau kamu tidur malam ini, itu lebih baik… daripada kamu mencela makhluk Allah.”
(Sumber: Jannatul Ward, hal. 102)
Tahajud itu keren, tapi hati yang merendah lebih berharga.
Jangan bangun malam sambil merasa paling benar.
Karena bisa jadi, orang yang tidur karena lelah bekerja… lebih dicintai Allah daripada kita yang tahajud tapi sombong.
kawan
Yuk kita terus berdoa agar Allah karuniakan kita bukan hanya kekuatan untuk bangun malam…
tapi juga kelembutan untuk tidak menjatuhkan orang lain yang belum sekuat kita.
Karena seindah-indah tahajud…
adalah tahajud yang membuat kita makin sayang pada sesama.
Semoga Allah bangunkan kita… dan juga mereka, dalam cinta-Nya.
#YukNgajiIbadah
"Bukan Cuma Kain Putih: Ini Awal Perjalanan Hati!"
Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Apa Itu Ihram?
Ihram itu bukan sekadar ganti baju, t...api niat masuk ke dalam ibadah haji atau umrah.
Dan menariknya: ibadah ini tidak dimulai dari Ka’bah, tapi dari niat yang benar di miqat — setelah mandi, bersih-bersih, dan siap secara lahir batin.
Kapan Niat Dilafalkan?
Disunnahkan melafalkan niat saat sudah naik kendaraan menuju Mekkah.
Dalil:
“Nabi berihram setelah shalat, saat sudah di atas tunggangan.”
(HR. Muslim no. 1218)
Perlu Shalat Khusus Sebelum Ihram?
Tidak ada shalat khusus ihram.
Tapi disunnahkan berihram setelah shalat wajib (misalnya shalat Zuhur jika waktunya pas).
Dalil:
“Nabi berihram setelah shalat.”
(HR. Bukhari no. 1551)
Ihram Pakai Syarat? Boleh Banget!
Kalau khawatir gak bisa lanjut karena haid, sakit, atau halangan lainnya, kita boleh berihram dengan syarat.
Lafal niat bersyarat:
"لَوْ حَبَسَنِي حَابِسٌ فَمَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي"
"Kalau aku terhalang, maka tempat tahallulku adalah tempat aku tertahan."
Faidahnya:
Kalau beneran gak bisa lanjut, boleh membatalkan tanpa kena dam (denda).
Tenang, syariat ngerti kondisi umatnya.
Catatan Penting!
Miqat itu titik serius.
Kalau langkah awalnya udah lurus, insya Allah ibadahnya sampai finish dengan tenang.
Karena setiap perjalanan besar, selalu dimulai dengan niat yang ikhlas dan ilmu yang jelas.
Next: Larangan Saat Ihram
Kalau bermanfaat, jangan lupa share ke teman yang akan berangkat ke Baitullah!
#HajiItuIlmu
#JanganAsalBerangkat
#ManasikKekinian
Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Cinta Imam Ahmad kepada Pemimpin
Nuruddin Abu Faynan
Dalam keheningan malam dan hiruk pikuk siang,
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah terus memanjatkan doa,
bukan u...ntuk dirinya,
tetapi untuk pemimpin umat.
قال إمام أهل السنة والجماعة
الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله:
"إني لأدعو له (أي السلطان)
بالتسديد والتوفيق في الليل والنهار
والتأييد وأرى ذلك واجباً علي."
(As-Sunnah karya Al-Khallal, hal. 38)
Beliau berkata:
"Saya mendoakan agar Allah memberikan petunjuk dan bimbingan kepada pemimpin (sultan), baik di malam maupun siang hari.
Saya juga berdoa agar dia mendapat dukungan, karena saya merasa itu adalah kewajiban saya."
Dari Imam Ahmad kita belajar,
bahwa mencintai pemimpin bukan berarti membenarkan semua kekurangannya,
tetapi tetap mendoakannya agar Allah membimbing dan meneguhkan langkahnya.
Karena, ketika pemimpin lurus, seluruh umat pun akan turut dalam kebaikan.
Doamu untuk mereka, adalah bagian dari doamu untuk umat.
Ceramah#6
🎙️ “Anak, Titipan Penuh Perasaan”
🗣️ Ust. Nuruddin Abu Faynan
Bismillāhirrahmānirrahīm…
Alhamdulillāh, segala puji hanya milik... Allah.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umat Islam yang setia menapaki jejak beliau hingga akhir zaman.
🌱 Hari ini, kita bahas tema yang sangat dekat dengan peran kita sebagai orang tua:
Mendampingi Anak dengan Cinta — Bukan Sekadar Mengejar Target.
Karena… 👶 Anak bukan robot hafalan.
Mereka bukan proyek ambisi, apalagi konten untuk dipamerkan.
Mereka adalah titipan penuh jiwa — punya rasa, punya lelah, punya dunia kecil yang ingin dipahami.
Mereka perlu: 💬 Didengar,
❤️ Disayang,
🤲 Didoakan,
…dan yang paling penting: dimanusiakan, sebelum dituntut untuk jadi sempurna.
📌 Maka yuk, kita mulai dengan hati…
Karena anak yang dibesarkan dengan cinta, akan lebih mudah mengenal Allah sebagai Maha Pengasih.
🧸 Bercanda & Mendampingi Anak Sesuai Usia
Kunci Anak Tumbuh Jadi Baik?
Cinta, Bukan Bentakan.
Salah satu rahasia agar anak tumbuh jadi pribadi yang baik adalah:
➡️ Didekati dengan cinta, bukan dimarahi terus.
➡️ Ditemani dengan kelembutan, bukan ditekan dengan tuntutan.
Karena dunia anak itu bukan dunia hafalan…
📌 Tapi dunia bermain dan rasa ingin tahu.
Kalau orang tua mau anaknya baik, maka masuklah dulu ke dunia mereka — bukan langsung menjejali mereka dengan mimpi yang belum tentu mereka pahami.
📖 Lihat teladan Nabi ﷺ…
Suatu hari, datang seorang lelaki dari Bani Tamim. Ia heran melihat Rasulullah ﷺ mencium anak-anak. Lalu dia berkata:
> “Aku punya 10 anak, tapi belum pernah mencium satu pun dari mereka!”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda tegas:
> "Apa dayaku jika Allah telah mencabut kasih sayang dari hatimu?"
(HR. Bukhari & Muslim)
MasyaAllah… Nabi ﷺ bukan cuma guru dan pemimpin.
Beliau juga sahabat bagi anak-anak:
🌱 Menyapa mereka,
🌱 Mencium dan mendekap mereka,
🌱 Bahkan bermain bersama mereka.
📌 Jadi sebelum berharap anak jadi shalih, pastikan dulu kita hadir sebagai orang tua yang penuh kasih.
Karena cinta yang hangat lebih mengena daripada amarah yang keras.
---
📚 “Nabi dan Anak Kecil:
Pelajaran Lembut dari Abu ‘Umair”
Anas bin Malik رضي الله عنه pernah cerita tentang adiknya, Abu ‘Umair —
seorang anak kecil yang punya burung kecil kesayangan.
Setiap kali Nabi ﷺ datang ke rumah mereka, beliau selalu menyapa:
> “Yā Abā ‘Umair! Mā fa‘alan-nughair?”
“Wahai Abu ‘Umair, gimana kabar burung kecilmu?”
📌 Bayangin...
Nabi ﷺ ingat nama burung milik anak kecil.
Beliau juga memanggil si kecil dengan kunyah kehormatan — “Abu ‘Umair” —
padahal dia belum menikah.
Itu artinya… Nabi sangat menghargai dan memperhatikan perasaan anak-anak.
Tapi suatu hari, burung kecil itu mati.
Abu ‘Umair sedih. Dan apa yang Nabi ﷺ lakukan?
➡️ Bukan ceramah panjang.
➡️ Bukan bilang, “Udah gede, gitu aja nangis.”
Tapi beliau hadir... dengan empati, kasih sayang, dan perhatian.
Karena dunia anak-anak itu… butuh dimengerti, bukan ditekan.
---
🌱 Apa pelajaran penting buat kita sebagai orang tua?
✅ Anak-anak butuh teman bicara, bukan sekadar pengawas.
✅ Mereka butuh panggilan yang baik, bukan ejekan yang merendahkan.
✅ Kalau mau dinasehati, sentuh dulu hatinya, baru arahannya akan mudah diterima.
Dan jangan lupa juga bentuk cinta lewat sunnah:
📖 Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Untuk anak laki-laki dua kambing, dan untuk anak perempuan satu kambing.”
(HR. Abu Dawud)
🍼 Itu adalah sunnah ‘aqiqah —
bukan cuma syukuran, tapi juga bentuk cinta dan pengakuan atas amanah dari Allah.
---
🎯 Jadi, yuk…
💞 Jadilah orang tua yang dicintai, bukan ditakuti.
💞 Jadilah pelindung yang dekat, bukan penekan yang jauh.
Karena anak-anak kita bukan kertas kosong yang bisa ditulis seenaknya.
Mereka adalah jiwa yang tumbuh — dan cinta adalah tanah terbaik untuk menanamnya. 🌱
---
📍"Jangan Padamkan Rasa Ingin Tahunya"
Ada anak-anak yang cepat tanggap, aktif bertanya, atau bahkan langsung ambil inisiatif.
Tapi sayangnya…
Seringkali mereka malah dipatahkan dengan kata-kata seperti:
Padahal... itu benih kecerdasan dan keberanian yang sedang tumbuh.
Kalau dimatikan, bisa jadi mereka tumbuh ragu — takut salah, takut bicara.
---
📖 Yuk belajar dari kisah Mu’awiyah bin al-Ḥakam as-Sulami رضي الله عنه:
Suatu hari, ia menampar budak perempuannya karena lalai.
Tapi Nabi ﷺ tidak langsung marah atau menghakimi.
Beliau justru bertanya lembut:
> “Ayna Allah?” — “Di mana Allah?”
Budak itu menjawab: “Fissamā’” — “Di atas langit.”
Nabi ﷺ pun berkata:
“A‘tiq-hā, fa innahā mu’minah.”
“Bebaskan dia, karena dia adalah wanita beriman.”
(HR. Muslim)
---
📌 Ujian dari Nabi ﷺ itu singkat, tapi penuh hikmah.
✔️ Tidak menjatuhkan, tapi membangun.
✔️ Tidak mempermalukan, tapi mengarahkan.
✔️ Orang yang menjawab dengan benar — dihargai, bahkan didoakan.
---
🌱 Maka, untuk para orang tua dan guru:
✅ Hargai anak yang berani bertanya atau menjawab.
✅ Jangan cepat mencela, apalagi di depan umum.
✅ Buka ruang dialog, bukan sekadar ruang interogasi.
Karena anak-anak yang tumbuh dalam suasana cinta dan dihargai,
akan lebih percaya diri untuk mencari kebenaran dan menyuarakan kebaikan.
---
🤲 5. Anak yang Suka Membantu, Layak Didukung
🧒 Ibnu Abbas — saat masih kecil — pernah menyiapkan air wudhu untuk Nabi ﷺ.
Beliau bertanya, “Siapa yang meletakkan ini?”
Jawab sahabat, “Abdullah bin Abbas.”
Lalu Nabi ﷺ pun berdoa:
> “Ya Allah, berikan dia pemahaman dalam agama dan ajarkan tafsir.”
📌 Lihat… satu tindakan kecil, disambut dengan doa besar!
Kalau anak kita ringan tangan, bantu di rumah, rajin belajar —
➡️ Jangan dicuekin, apalagi dikritik.
➡️ Sambut dengan doa dan pelukan.
---
👦 6. Anak Boleh Mandiri Sejak Dini (±4–5 menit)
Zaman Nabi ﷺ, anak-anak dilibatkan langsung dalam kehidupan nyata:
🔹 Anas bin Malik — jadi pelayan pribadi Nabi ﷺ sejak kecil
🔹 Ibnu Abbas — bantu ambil air wudhu
🔹 Anak-anak ikut menuang minuman (sebelum turunnya larangan khamr)
📌 Ini bukan eksploitasi, tapi latihan tanggung jawab dan kemandirian.
Anak bukan cuma disuruh diam dan duduk manis —
➡️ Tapi ikut aktif, terjun, dan tumbuh jadi manusia bermanfaat.
---
📚 7. Umar & Ibn Abbas: Anak Cerdas Perlu Ruang
Suatu hari, Umar bin Khattab mengajak Ibnu Abbas yang masih remaja duduk bersama para sahabat senior.
Ada yang heran dan bertanya:
> “Kenapa anak muda ini ikut duduk di sini?”
Umar menjawab:
> “Dia bukan anak biasa. Nabi ﷺ sudah mendoakannya.”
Lalu Umar mengujinya dengan tafsir Surah An-Naṣr.
Ibnu Abbas berkata:
> “Itu isyarat bahwa ajal Rasulullah ﷺ sudah dekat.”
Umar pun membenarkan tafsirnya.
📌 Anak cerdas jangan dibatasi.
➡️ Berikan ruang. Berikan tantangan.
➡️ Karena bisa jadi, mereka adalah pemimpin umat di masa depan.
---
📝 Penutup & Doa
Wahai para orang tua…
➡️ Masuklah ke dunia anak-anak, jangan hanya menyuruh dari jauh.
➡️ Hadirkan senyum dan pelukan — bukan hanya perintah.
➡️ Dan yang paling penting: doakan mereka setiap hari.
> Satu doa tulus dari orang tua...
bisa jadi penyelamat dan penyemangat sepanjang hidup anak-anak kita.
Karena anak bukan robot hafalan.
Mereka makhluk penuh cinta, rasa, dan potensi yang harus ditumbuhkan — dengan sabar dan cinta.
---
🤲 Penutup
Wallāhu a‘lam.
Semoga Allah membimbing kita menjadi orang tua yang penuh kelembutan, hikmah, dan kesabaran — sebagaimana Nabi ﷺ telah mencontohkan.
Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan para sahabat beliau.
YukNgaji Ibadah
🕋 Hari Arafah: Waktu Emas untuk Doa & Dzikir!
📢 Nuruddin Abu Faynan
Hari Arafah itu bukan hari biasa.
Ini hari di mana doa paling mustajab..., dan dzikir paling utama bisa jadi jalan penghapus dosa dan pembuka rahmat. 🌧✨
Nabi ﷺ bersabda:
"Doa terbaik adalah doa di hari Arafah." (HR. Tirmidzi)
Dan dzikir paling utama adalah:
🕊 Laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariikalah, lahul mulk wa lahul hamd wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir.
🧎🏽♂ Jadi… yuk manfaatkan!
📿 Banyakin dzikir,
🙏 Banyakin istighfar,
🕊 Banyakin doa dan curhat ke Allah.
🎯 Gak perlu nunggu sempurna untuk mulai mendekat.
📌 Kesempatan ini langka, sayang banget kalau cuma dipakai buat keliling atau ngobrol ngalor-ngidul.
💬 Tag temanmu yang pengen maksimalkan hari Arafah tahun ini!
oleh Ust. Nuruddin Abu Faynan
(Kisah Bayi Bisa Bicara, Nabi Sulaiman, dan Ibu yang Gak Liat Dunia dari Casingnya Doang)<...br />
Pembuka
Assalāmu‘alaikum, Ayah Bunda, Om Tante, Kakak-kakak semua…
Coba deh jujur, waktu tahu anak kita perempuan, apa yang langsung muncul di hati?
Kalau senang dan syukur sih alhamdulillāh...
Tapi kalau langsung ngomong, "Yah… cewek?" atau "Semoga adiknya cowok ya..."—hati-hati. Bisa jadi kita sedang kufur nikmat tanpa sadar.
Padahal, anak perempuan itu bukan sekadar anugerah biasa.
Bisa jadi dia tiket kita ke surga, penolong di akhirat, dan sebab Allah turunkan rahmat.
Yuk, kita bahas bareng-bareng, dengan kisah seru dan dalil yang menyejukkan hati.
Anak Perempuan? Jangan Sedih, Bisa Jadi Dia Tiket Surga!
Kamu baru dikaruniai anak perempuan?
Terus ada yang komentar, "Yah… cewek toh? Gak apa-apa deh, yang penting sehat..."
Atau, "Gak apa-apa, semoga adiknya cowok."
Tahan. Jangan buru-buru ikut sedih. Bisa jadi, justru anak perempuan itulah rezeki terbesar yang Allah kasih.
Kisah Bayi yang Bisa Ngomong Saat Masih Menyusu
Suatu hari Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ...»
"...Tidak ada yang berbicara saat masih dalam buaian kecuali tiga orang..."
(HR. al-Bukhārī no. 3461 dan Muslim no. 2550)
Beliau pun menyebut salah satunya:
"Seorang wanita sedang menyusui bayinya. Lewatlah seorang lelaki tampan, berkuda dengan pakaian mewah. Si ibu pun berdoa:
'اللَّهُمَّ اجْعَلِ ابْنِي مِثْلَ هَذَا'
‘Ya Allah, jadikan anakku seperti orang ini.’
Tapi si bayi meninggalkan susuan, memandang orang itu, lalu berkata:
«اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ»
‘Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.’"
Lalu lewatlah seorang wanita yang dipukuli orang-orang. Mereka berkata:
‘Kamu pezina! Kamu pencuri!’
Ibunya pun berdoa:
"Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti wanita ini."
Tapi si bayi justru berkata:
"Ya Allah, jadikan aku seperti dia."
Pelajaran:
Yang tampak keren belum tentu benar.
Yang terlihat hina bisa jadi mulia.
Jangan nilai dari casing-nya doang. Allah tahu isi hati dan amal hamba-Nya.
Nabi Ajarin: Lihat ke Bawah, Biar Gak Kufur Nikmat
Kita sering banding-bandingin anak sendiri dengan anak orang lain:
"Itu anak putih, anakku item."
"Anaknya cowok, anakku cewek."
"Anaknya pinter, anakku biasa aja."
Padahal Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam sudah wanti-wanti:
«انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ»
"Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian (dalam urusan dunia), dan jangan lihat kepada yang lebih tinggi, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian."
(HR. Muslim no. 2963)
Contoh:
Kamu dikasih anak perempuan?
Alhamdulillāh, banyak yang bahkan belum dikasih keturunan.
Anakmu sehat? Alhamdulillāh, ada yang harus bolak-balik rumah sakit.
Kamu dikasih anak dengan tubuh lengkap? Lihat kisah Nabi Sulaiman.
Nabi Sulaiman Aja Pernah Diuji Soal Anak
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ: لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى سَبْعِينَ امْرَأَةً، تَحْمِلُ كُلُّ امْرَأَةٍ فَارِسًا يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ...»
"Sulaiman bin Dawud berkata: ‘Malam ini aku akan mendatangi 70 wanita, masing-masing akan melahirkan seorang pejuang di jalan Allah.’ Tapi ia tidak mengucapkan ‘Insya Allah’..."
Akhirnya tak seorang pun dari mereka yang melahirkan kecuali satu wanita, itupun hanya melahirkan setengah manusia.
Nabi pun bersabda:
"Seandainya dia mengucapkan ‘insya Allah’, niscaya mereka semua akan melahirkan pejuang di jalan Allah."
(HR. al-Bukhārī no. 5242 dan Muslim no. 1654)
Pelajaran:
Bahkan Nabi sekelas Sulaiman pun diuji dalam urusan keturunan.
Kita? Baru dikasih anak cewek, sudah galau?
Anak Cewek Bukan Musibah, Tapi Amanah!
Dulu, orang jahiliah kalau punya anak perempuan langsung stres. Bahkan sampai tega mengubur hidup-hidup bayinya.
Allah tegur keras mereka dalam Al-Qur’an:
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ. يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي ٱلتُّرَابِ ۗ أَلَا سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ
"Dan apabila seseorang diberi kabar tentang kelahiran anak perempuan, wajahnya menjadi hitam karena sangat marah.
Ia menyembunyikan diri dari orang banyak karena berita buruk tersebut. Apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan, atau menguburnya ke dalam tanah? Sungguh buruk apa yang mereka putuskan!"
(QS. An-Nahl: 58–59)
Tapi Islam datang dan memuliakan anak perempuan.
Dekat Surga Karena Anak Perempuan
Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ» وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
"Barang siapa mengasuh dua anak perempuan hingga baligh, maka aku dan dia akan (berdekatan) di hari kiamat seperti ini.”
(Beliau merapatkan jari-jarinya)
(HR. Muslim no. 2631)
Kesimpulan: Syukuri, Didik, dan Doakan
Anak perempuanmu bisa jadi:
Penolongmu di akhirat
Pemberi syafaatmu di hari kiamat
Penghapus dosamu lewat sabar dan ikhtiar mendidiknya
Jadi…
Jangan sedih.
Jangan minder.
Jangan banding-bandingin.
Tapi syukurilah, peluk dia, doakan dia, dan tanamkan tauhid dalam hatinya.
Penutup
Jangan pernah merasa kurang ketika Allah memberi kita anak perempuan.
Karena Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam sendiri menjanjikan:
"Siapa yang sabar dan sayang saat membesarkan anak perempuan, dia akan dekat dengan Nabi di surga."
Lihat kisah bayi yang bisa bicara, kisah Nabi Sulaiman, dan peringatan Allah dalam Al-Qur’an—semuanya ngajarin kita satu hal:
Jangan nilai sesuatu dari kelihatannya. Lihat dari maknanya.
Semoga kita termasuk orang tua yang bersyukur atas setiap anak yang Allah titipkan.
Semoga anak-anak kita, laki-laki maupun perempuan, menjadi jalan menuju ridha dan surga-Nya.
Wallāhu al-Musta‘ān.
Catatan:
Disarikan dari Fiqh Tarbiyatul Abnā’ karya Syaikh Musthafa al-‘Adawi (hlm. 38–40), dengan penyesuaian bahasa agar mudah dipahami.
#YukNgajiIbadah
Mau Berangkat Haji? Pahami Dulu Jenisnya!
Ust. Nuruddin Abu Faynan
Haji itu ibadah yang agung—bukan sekadar “ikut rombongan”, lalu selesai. ...r />
Sebelum berangkat, penting banget untuk paham:
Jenis manasik haji itu beda-beda.
Ada ifrād, qirān, dan tamattu’.
Beda niat, beda pelaksanaan, beda juga aturannya.
1. Haji Ifrād (الإفراد)
Jenis yang paling simpel.
Niatnya: dari awal hanya untuk haji, tanpa umrah sebelumnya.
Nggak wajib sembelih hewan kurban (hadyu).
Cocok buat yang mau fokus ke ibadah haji saja.
Dalil:
Dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā:
"Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam berihram untuk haji (ifrād), sementara sebagian sahabat berihram untuk umrah dan haji bersama."
(HR. Bukhari & Muslim)
2. Haji Qirān (القِرَان)
Gabungkan haji dan umrah dalam satu niat, satu ihram.
Tidak ada tahallul setelah umrah.
Cocok untuk yang membawa hadyu (hewan kurban) dari awal.
Wajib menyembelih hadyu.
Dalil:
"Aku telah menggiring hadyu dan berniat qirān."
(HR. Muslim)
3. Haji Tamattu’ (التَّمَتُّع)
Paling umum diikuti jamaah Indonesia.
Umrah dulu, lalu tahallul (boleh cukur dan pakai baju biasa).
Nanti, saat 8 Dzulhijjah, ihram lagi untuk haji.
Wajib menyembelih hadyu juga.
Dalil:
"Barangsiapa melakukan umrah lalu berhaji, maka hendaklah menyembelih hadyu."
(QS. Al-Baqarah: 196)
Intinya…
Sebelum berangkat, coba tanya ke diri sendiri:
Udah tahu perbedaan jenis haji?
Siap ikut bimbingan ustadz?
Mana yang paling sesuai dengan kondisi fisik dan kemampuan?
Karena haji itu bukan sekadar perjalanan,
tapi ibadah besar yang butuh ilmu dan tuntunan.
Yang paling penting:
Ikhlas. Niat karena Allah. Sesuai sunnah Rasulullah.
Kalau bermanfaat, yuk bantu share.
Berangkat haji itu mahal,
tapi ilmu haji harusnya murah dan mudah.
#YukNgajiIbadah
#HajiItuIlmu #JanganAsalBerangkat #ManasikKekinian
“Madinah: Kota Nabi ﷺ, Bukan Tempat Liburan Biasa”
Nuruddin Abu Faynan
Pernah nggak sih... ngerasa adem banget waktu pertama kali nginjekin kaki di Madinah?
Udaranya... beda. Suasananya tenang. Hatinya kayak ditenangkan.
Tapi... Madinah itu bukan cuma kota yang cantik buat selfie atau healing.
Ini kota Nabi ﷺ. Tanah wahyu. Tanah perjuangan. Dan setiap yang datang ke sini—mau warga, pelajar, atau peziarah—bukan cuma jadi tamu. Tapi punya amanah: menjaga kehormatan kota ini.
Pertama: Cintai Madinah sebagaimana Rasulullah ﷺ mencintainya.
Anas bin Malik رضي الله عنه bilang, setiap kali Nabi ﷺ pulang dari safar dan lihat dinding-dinding Madinah, beliau langsung mempercepat tunggangannya—saking rindunya.
> (HR. al-Bukhari)
Itu bukan cinta biasa. Itu cinta dari hati yang dalam.
Kalau kita ngaku cinta Madinah, jangan cuma nunjukin lewat caption dan story... tapi lewat adab.
Kedua: Jaga niat. Jaga lisan. Jaga langkah.
Di kota ini, kebaikan dilipatgandakan...
Tapi dosa? Dampaknya juga lebih besar.
Jangan sampai datang ke Madinah bawa maksiat, bid’ah, atau kegaduhan.
Karena dosa di tanah suci itu bukan cuma salah—tapi melukai kehormatan kota Nabi ﷺ.
Ketiga: Daganglah dengan Allah, bukan cuma dagang barang.
Gunakan waktu di Madinah untuk cari amal. Shalat di Masjid Nabawi pahalanya... 1000x dibanding masjid biasa—kecuali Masjidil Haram.
> (HR. Bukhari & Muslim)
Sayang banget kalau cuma numpang lewat tanpa amal.
Keempat: Kalau kamu tinggal di Madinah, kamu bukan penduduk biasa. Kamu tuan rumahnya tamu-tamu Allah.
Tunjukkan akhlak Rasulullah ﷺ. Sambut tamu dengan senyum.
Bantuin yang bingung. Jangan sampai orang pulang kecewa—bukan karena Madinah, tapi karena kita.
Kelima: Madinah itu kota ilmu. Tempat turunnya wahyu. Tempat Nabi ﷺ ngajarin sahabat.
Salah satu amal paling mulia di kota ini adalah... menuntut ilmu.
Ilmu itu cahaya. Bukan cuma buat kita, tapi buat banyak orang.
Dan kalau belajarnya di Masjid Nabawi? Dengerin nih...
> “Barangsiapa masuk ke masjid kami ini untuk belajar atau mengajarkan kebaikan, maka dia seperti mujahid di jalan Allah. Tapi kalau masuk bukan buat itu, dia cuma seperti penonton yang nonton sesuatu yang bukan miliknya.”
(HR. Ahmad, Ibnu Majah)
Masya Allah...
Belajar di masjid ini bisa setara jihad fi sabilillah.
Dan ini bukan kalimat dari motivator—tapi sabda Nabi ﷺ sendiri.
Penutup:
Kalau hari ini Allah kasih kita kesempatan ada di Madinah...
Jangan cuma jadi pejalan kaki. Tapi jadilah penempuh jalan surga.
Dengan adab. Dengan ilmu. Dengan amal.
Semoga setiap langkah kita di kota Nabi ﷺ ini...
jadi langkah menuju ridha Allah.
Aamiin.
“Sentuhan Pertama Menuju Surga”
Oleh: Ust. Nuruddin Abu Faynan
Pembuka:
Bismillah…
Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, sejak... detik pertama ia hadir di dunia.
Tapi… tahukah kita?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberikan "sentuhan pertama" yang sangat istimewa kepada bayi-bayi yang baru lahir.
Sebuah tradisi yang tak hanya menyentuh fisik… tapi juga menyentuh hati, iman, dan masa depan.
Salah satu kebiasaan Rasulullah yang penuh cinta dan keberkahan adalah mentahnik bayi yang baru lahir.
Apa itu tahnik ?
Itu tradisi mulia dalam Islam, di mana seorang bayi diberi kunyahan kurma dari orang saleh—biasanya ayahnya, gurunya, atau orang yang dicintai karena imannya—lalu dimasukkan sedikit ke mulut si bayi.
Ini bukan sekadar tradisi, tapi simbol doa, keberkahan, dan harapan baik untuk awal hidup sang anak.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, disebutkan:
"أن رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ كانَ يُؤتى بالصِّبيانِ فيُبرِّكُ عليهم ويُحنِّكُهم"
(HR. Muslim)
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa didatangkan bayi-bayi, lalu beliau mendoakan keberkahan untuk mereka dan mentahnik mereka."
Bahkan saat Asma’ bintu Abi Bakr melahirkan Abdullah bin Az-Zubair di Quba, ia langsung membawanya ke Rasulullah:
"فوضعه في حجرِه، ثمَّ دعا بتمرةٍ فمضغَها، ثمَّ تفلَ في فيهِ، فكان أوَّلَ شيءٍ دخلَ جوفَهُ ريقَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ"
(HR. Bukhari & Muslim)
"Beliau meletakkannya di pangkuannya, mengunyah kurma, lalu meletakkan kunyahan itu di mulut si bayi. Maka cairan pertama yang masuk ke perut Abdullah adalah air liur Rasulullah."
Ini bukan hanya sunnah, tapi pesan kehidupan:
Awal hidup seorang anak dimulai dengan nama yang baik, makanan yang halal dan thayyib, serta doa yang penuh berkah.
Saat anak Abu Talhah meninggal dunia, lalu Allah menggantinya dengan anak yang baru, Nabi pun yang langsung mentahnik anak itu:
"فأخذها النبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فمضغها ثمَّ جعلها في في الصَّبيِّ وحنَّكهُ وسمَّاهُ عبدَ اللَّهِ"
(HR. Bukhari & Muslim)
"Beliau mengunyah kurma, meletakkannya di mulut bayi, mentahniknya, lalu menamainya: Abdullah."
Sahabat…
Ini bukan cuma tentang kurma dan mulut bayi.
Ini tentang harapan. Tentang cinta. Tentang mengawali hidup anak-anak kita dengan nilai-nilai tauhid, keberkahan, dan sunnah.
Karena anak bukan sekadar titipan…
Tapi ladang amal jariyah yang akan terus mengalir sampai hari kiamat.
Penutup:
Sahabat…
Di saat dunia sibuk memilih nama modern dan metode parenting dari barat,
Islam sejak dulu sudah menanamkan prinsip yang paling mendasar:
Awali hidup anakmu dengan iman. Dengan sentuhan sunnah. Dengan doa dan keberkahan.
Karena bisa jadi…
Dari kunyahan kecil itulah, akan tumbuh seorang hamba yang besar di sisi Allah.
Semoga anak-anak kita tumbuh bukan hanya sehat fisiknya…
tapi juga kuat imannya, dan penuh keberkahan dalam setiap langkah hidupnya.
Aamiin.
Disarikan dari kitab Fiqh Tarbiyatul Abnā’ karya Syaikh Musthafa al-‘Adawi (hlm. 43–46), dengan penyesuaian bahasa.
YukNgaji Mutiara Salaf
🌤 Yang Paling Parah Justru yang Nggak Yakin Allah Mau Ampuni
🎙 Sufyan ats-Tsauri, via Ibnul Mubarak
✍ Nuruddin Abu Faynan
Arafah sore... itu...
Tangis di mana-mana.
Tapi kata Sufyan ats-Tsauri:
"Yang paling buruk bukan yang paling banyak dosanya…
tapi yang nggak yakin Allah mau ampuni."
Jangan remehkan rahmat Allah.
Tapi jangan juga sombong sama ampunan-Nya.
🤲 Percaya deh…
Ampunan Allah itu lebih dekat daripada rasa bersalahmu.
Asal kamu datang dengan hati yang jujur.
Tauhid: Bukan Sekadar Satu, Tapi Satu-Satunya
Oleh Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sahaba...t-sahabat yang dirahmati Allah,
Kalau mendengar kata tauhid, mungkin yang langsung terlintas di benak kita adalah:
“Oh, itu pelajaran akidah… yang penting percaya bahwa Allah itu satu.”
Padahal, tauhid bukan sekadar tentang angka “satu”.
Tauhid adalah keyakinan mendalam dalam hati, dan komitmen hidup sehari-hari,
bahwa Allah itu satu-satunya — bukan hanya “satu dari sekian banyak”.
Dalam syariat, tauhid mencakup empat hal penting:
- Esa dalam Dzat-Nya
- Esa dalam Rububiyah-Nya (kepengurusan-Nya atas segala sesuatu)
- Esa dalam Sifat-sifat-Nya yang sempurna
- Esa dalam Uluhiyah dan Ibadah (hanya Dia yang disembah dan ditujukan ibadah)
Kenapa Islam disebut sebagai agama tauhid?
Karena pondasi utamanya adalah keyakinan bahwa:
- Allah satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta
- Satu-satunya yang Maha Sempurna dalam Dzat dan sifat
- Satu-satunya tempat kita beribadah dan bersandar
- Satu-satunya yang layak kita harapkan dan kita cintai setulusnya
🎙 Jadi Mukmin Seperti Pohon Kurma
Oleh: Ust. Nuruddin Abu Faynan
Assalamu’alaikum, teman-teman!
Pernah dengar sabda Rasulullah ﷺ ini?
> مَثَ...ُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ النَّخْلَةِ، مَا أَخَذْتَ مِنْهَا مِنْ شَيْءٍ نَفَعَكَ
"Perumpamaan orang beriman itu seperti pohon kurma; apa pun yang kamu ambil darinya, pasti bermanfaat."
(HR. Ath-Thabrani; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Kenapa sih, mukmin diibaratkan seperti pohon kurma? Yuk, kita bahas:
1. Kokoh dalam Iman
Pohon kurma punya akar yang kuat. Begitu juga mukmin, imannya harus kuat dan nggak mudah goyah.
2. Selalu Memberi Manfaat
Dari buah, daun, hingga batangnya, pohon kurma bermanfaat. Mukmin juga harus begitu—selalu membawa kebaikan di mana pun berada.
3. Konsisten dalam Kebaikan
Pohon kurma berbuah secara teratur. Mukmin pun diharapkan konsisten dalam beramal saleh dan menyebarkan kebaikan.
4. Semakin Tua, Semakin Berkah
Semakin tua pohon kurma, semakin banyak manfaatnya. Semoga kita juga begitu—semakin bertambah usia, semakin banyak kebaikan yang kita lakukan.
Jadi, yuk kita jadi mukmin yang seperti pohon kurma: kuat, bermanfaat, dan konsisten dalam kebaikan.
Semoga kita semua bisa jadi pribadi yang selalu memberikan manfaat bagi orang lain.
---
📚 Catatan:
Tulisan ini disarikan dari Mauqi' Resmi Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah berjudul "مماثلة المؤمن للنخلة" yang membahas perumpamaan mukmin dengan pohon kurma secara mendalam.
Artinya: "Kelak akan dikatakan kepada seseorang: ‘Bangkit, ambil hakmu dari si Fulan.’
Dia berkata, ‘Aku gak merasa dia punya salah ke aku.’
Dijawab: ‘Dia pernah ngomongin kamu di hari ini dan itu, dengan kata begini dan begitu.’”
Kaget Gak?
Kita lupa, dia dateng di akhirat nuntut pahala. Bukan karena utang uang, tapi karena utang omongan.
Jangankan ghibah berat,
Sindiran, candaan, atau story nyindir pun bisa jadi masalah kalau nyakitin hati orang.
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam."
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Diam itu bukan kalah. Tapi menangin pahala.
Penutup:
Jaga mulut. Jangan sampai satu kalimat jadi tiket dia ke surga, dan jadi tagihan kita di neraca akhirat.
Kalau gak yakin manfaat — lebih baik diam.
Wallāhu al-Musta‘ān.
Masjid Quba, Pondasi Peradaban
Nuruddin Abu Faynan
Begitu tiba di Madinah setelah hijrah panjang yang penuh haru, langkah pertama Rasulullah ﷺ bukan membangun rumah, bukan juga... mencari penghidupan. Tapi... mendirikan masjid!
Ya, Masjid Quba—masjid pertama yang beliau bangun. Allah menyebutnya sebagai masjid yang didirikan di atas dasar takwa sejak hari pertama.
Itulah prioritas Rasul ﷺ: tempat ibadah dulu, urusan dunia belakangan.
Karena masjid bukan cuma tempat shalat. Ia adalah pusat ilmu, ruang memperkuat ukhuwah, dan markas perubahan sosial.
Dari sini kita belajar satu hal penting:
Kalau ingin membangun kehidupan yang berkah—entah itu rumah tangga, usaha, atau komunitas—mulailah dari takwa. Sambung dulu koneksi dengan Allah.
Masjid Quba mungkin kecil, tapi dari sanalah cahaya Islam mulai menerangi dunia.
Jangan remehkan awal yang sederhana. Kalau niat dan pondasinya lurus, Allah sendiri yang akan membesarkannya.
🌱 Dampak Kebaikan dan Keburukan Orang Tua terhadap Anak
✍️ Oleh: Nuruddin Abu Faynan
🕌 Pembuka
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, segala puji hany...a milik Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti jalan kebaikan hingga akhir zaman.
📣 Sahabat yang dirahmati Allah...
Kalau kita bicara soal anak, semua orang tua pasti ingin yang terbaik: anak yang saleh, sehat, cerdas, penuh kasih sayang, dan kelak jadi penyejuk mata dunia akhirat. Tapi kadang kita lupa, bahwa jalan menuju anak yang saleh bukan cuma dari “belajar parenting” 📚, tapi dari memperbaiki diri kita sendiri sebagai orang tua.
1. 🌟 Amal Orang Tua: Berkah atau Bala bagi Anak?
Kebaikan orang tua—baik akhlak maupun amal saleh—bisa berdampak besar bagi nasib anak-anak, bahkan hingga generasi setelahnya. Sebaliknya, dosa dan kemaksiatan orang tua 🛑 bisa memberi pengaruh negatif bagi akhlak dan hidup anak-anak.
📖 Allah kisahkan dalam Al-Qur’an, surah Al-Kahfi ayat 82:
“Dan adapun dinding itu adalah milik dua anak yatim di kota tersebut. Di bawahnya ada harta simpanan milik mereka, dan ayah mereka adalah orang yang saleh...”
✨ Karena ayah mereka saleh, Allah utus Nabi Khidr dan Nabi Musa ‘alaihimas salam untuk menjaga harta itu. Bahkan setelah ayahnya wafat pun, keberkahan amalnya tetap menjaga anak-anaknya.
2.Ucapan Lurus, Nasib Anak Terurus
📖 QS.An-Nisa: 9
“Dan hendaklah merasa takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka...”
📌 Maka wahai ayah... wahai ibu... Kalau melihat ketidakadilan—terutama kepada anak yatim dan yang tertindas—jangan diam. 🛑 Angkat suara! 💬 Ucapkan kebenaran.
🛡️ Kalimat jujur yang kita ucapkan hari ini bisa menjadi perlindungan Allah bagi anak cucu kita kelak.
3. 🍽️ Rezeki Halal: Jalan Lurus untuk Doa yang Tembus
🕋 Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Ada seorang lelaki yang berdoa: 'Ya Rabb, ya Rabb...' namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram...” (HR. Muslim no. 1015)
📌 Doa itu butuh jalan masuk yang bersih. Jangan sampai tangan yang pernah menzalimi orang lain 🤲, lisan yang sering berdusta 👅, atau harta yang haram 💰, kita pakai untuk memohon anak yang saleh.
🎯 Jika ingin doa tembus ke langit, bersihkan dulu hati, lisan, dan harta dari yang tidak diridhai Allah.
4. 🏠 Rumah Penuh Rahmat atau Sarang Syaitan?
Kalau rumah kita dipenuhi dengan dzikir, bacaan Qur’an, dan amal saleh 📖💞, maka malaikat akan turun membawa rahmat. Tapi jika penuh dengan maksiat 🎶❌, tontonan tak pantas 📺, dan caci maki 💢—maka jangan heran kalau anak-anak menjauh dari kebaikan.
⚠️ Syaitan tidak cuma lewat—dia betah dan ngajarin maksiat!
☝️ Maka wahai ayah, wahai ibu... Mari isi rumah dengan cahaya Qur’an dan zikir, bukan hal-hal yang mengundang laknat.
5. 📈 Amal Saleh: Tabungan Abadi untuk Anak-anak
Seorang ayah dari kalangan salaf berkata:
“Wahai anak-anakku, aku memanjangkan shalatku demi kalian.”
Ia tahu, sujudnya hari ini bisa jadi penyelamat anaknya besok. Maka jangan remehkan amalan harian di rumah:
📖 Tilawah harian walau 1 halaman
🕊️ Dzikir pagi dan petang
🛐 Doa dalam sujud untuk anak
Menjaga lisan dari ghibah dan keluhan
💧 Semuanya seperti air bersih yang menyirami jiwa anak-anak setiap hari.
✨ Penutup
📣 Sahabat yang dirahmati Allah...
Kalau kita ingin anak-anak tumbuh dalam iman, akhlak, dan keberkahan 🌿, maka mulailah dari diri sendiri.
✅ Bersihkan harta
✅ Jaga lisan
✅ Rajin berdoa
✅ Hidupkan rumah dengan Qur’an dan dzikir
Karena sesungguhnya... anak yang baik bukan lahir dari pendidikan mahal, tapi dari orang tua yang taat, jujur, dan takut kepada Allah. 🤲
Semoga Allah menjadikan kita orang tua yang saleh dan menjadi sebab kebaikan bagi anak-anak kita. Aamiin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
📚 Catatan:
Tulisan ini disarikan dari kitab Fiqh Tarbiyatul Abna’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi (hlm. 19–23), dengan penyesuaian bahasa dan penambahan penjelasan agar lebih mudah dipahami.
YukNgaji Tauhid
🔊 Ngaku Muslim tapi gak paham makna Laa ilaaha illallah?
✍ Oleh: Nuruddin Abu Faynan
Hati-hati… jangan sampai cuma jadi ucapan tanpa bobot!
<...br />
Kalimat ini bukan mantra ajaib, tapi kontrak hidup yang butuh ilmu, iman, dan amal.
✅ Harus dipahami
✅ Harus diyakini
✅ Harus diamalkan
📖 Allah berfirman:
"Yang bisa dapat syafa’at cuma yang bersaksi dengan kebenaran dan tahu apa yang dia ucapkan." (QS. Az-Zukhruf: 86)
Jadi…
🚫 Bukan asal ucap
💡 Tapi harus tahu maknanya
🙏 Dan siap jalanin isinya
Berkah atau Musyrik? Yuk, Ngaji Tabarruk yang Gak Ngawur! (Lanjutan)
Bersama: Ustadz Nuruddin Abu Faynan حفظه الله
Pembuka
Teman-teman yang dirahma...ti Allah,
Mencari berkah (tabarruk) itu boleh—bahkan disyariatkan—asal caranya sesuai dengan ajaran Islam. Tapi kalau caranya ngawur, bisa-bisa malah tergelincir ke syirik! Kali ini, kita akan bahas dua masalah penting:
1. Larangan tabarruk dengan benda mati seperti pohon dan batu.
2. Kisah para sahabat yang nyaris terjatuh dalam praktik tabarruk ala jahiliyah.
Yuk, kita ngaji bareng—biar makin paham, dan gak salah jalan!
Masalah Kelima: Larangan Tabarruk dengan Pohon, Batu, dan Semisalnya
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb rahimahullāh dalam Kitāb at-Tauhīd menjelaskan tentang larangan mencari berkah dari benda mati seperti pohon, batu, atau tempat-tempat yang dianggap keramat, tanpa dasar syariat.
Dalil dari Al-Qur’an:
> {أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ . وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ . أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنثَىٰ . تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ}
"Apakah kalian memperhatikan al-Lāt, al-‘Uzzā, dan Manāt yang ketiga, yang paling akhir? Apakah untuk kalian anak laki-laki dan untuk Allah anak perempuan? Itu pembagian yang tidak adil."
(QS. An-Najm: 19–22)
Penjelasan Ulama:
Makna “al-Lāt”:
Sebagian sahabat seperti Ibnu ‘Abbās dan Mujāhid membaca dengan tasydid: al-Latt (اللَّتّ), dari kata yaluttu (mengaduk adonan). Tapi bacaan yang kuat adalah al-Lāt (اللَّات), berasal dari kata ilāh (sesembahan).
(Lihat: Tafsir al-Qurṭubī, 17/100)
Nama-Nama Berhala dan Sejarahnya:
al-Lāt: Batu putih besar di Ṭā’if, dikeramatkan dan dimintai berkah.
(Tafsir Ibnu Katsīr, 7/455)
al-‘Uzzā: Pohon besar di Nakhlah, dikeramatkan oleh Quraisy.
(Tafsir al-Ṭabarī, 22/48)
Manāt: Berhala tua di daerah al-Mushallal, dijadikan tempat ihram suku Aus dan Khazraj.
Kisah Penghancuran Berhala oleh Para Sahabat:
al-Lāt dihancurkan oleh al-Mughīrah bin Syu‘bah atas perintah Nabi.
al-‘Uzzā ditebang oleh Khālid bin Walīd. Ketika muncul sosok wanita (dari kalangan jin), Khālid menebasnya. Kata Nabi:
"Itulah al-‘Uzzā!"
Terjemah Ringkas:
Dalam perang Hunain, beberapa sahabat yang baru masuk Islam meminta pada Rasulullah agar dibuatkan pohon keramat seperti milik orang musyrik, bernama Dzāt Anwāṭ—tempat mereka menggantung senjata dan berharap berkah.
Jawaban Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam:
> "Allāhu Akbar! Kalian mengucapkan seperti ucapan Bani Israil kepada Musa: ‘Buatkan kami sesembahan seperti mereka punya sesembahan!’ Kalian ini kaum yang belum paham! Pasti kalian akan mengikuti jalan umat-umat sebelum kalian!"
Pelajaran Penting
1. Tabarruk dari benda mati tanpa dalil syar’i = menyerupai kesyirikan.
2. Rasulullah langsung mengingkari, meskipun mereka baru hijrah.
3. Meniru tradisi musyrik, sekecil apa pun, adalah bahaya besar!
Kesimpulan
Tabarruk itu harus pakai ilmu. Jangan asal ikut kebiasaan atau tradisi.
Kalau gak hati-hati, yang diniatkan sebagai mencari berkah malah bisa menyeret pada kesyirikan!
Mari kita jaga tauhid, jaga hati, dan pastikan semua bentuk ibadah hanya tertuju pada Allah semata.
---
Lihat : Tafsir Ibnu Katsīr 7/455, Tafsir al-Ṭabarī 22/48–49, Tafsir al-Qurṭubī 17/100–101, Taysīr al-‘Azīz al-Ḥamīd hlm. 137, I‘ānatu al-Mustafīd 1/158, Sahih Bukhari no. 3039, 4859, Tārīkh Makkah al-Azraqī 2/126, Sunan an-Nasā’ī al-Kubrā no. 11483
P...ernahkah kita merenung, bagaimana perilaku kita sebagai orang tua memengaruhi kehidupan anak-anak kita?
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar pujian kepada anak-anak karena kebaikan orang tuanya. Sebaliknya, perilaku buruk orang tua bisa menjadi beban bagi anak-anak mereka.
Misalnya, jika seorang ayah dikenal sebagai orang yang jujur dan dermawan, anaknya akan dihormati dan dijadikan teladan. Namun, jika seorang ayah dikenal sebagai pencuri atau pelaku zina, anaknya mungkin akan menghadapi ejekan dan hinaan.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kita sebagai orang tua menjaga perilaku dan akhlak kita, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masa depan anak-anak kita.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
> ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
"Wahai keturunan orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba yang banyak bersyukur."
(QS. Al-Isra: 3)
Ayat ini mengingatkan kita untuk meneladani sifat-sifat baik dari para pendahulu kita yang saleh.
Begitu pula dalam kisah Maryam, ketika kaumnya berkata:
> يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا
"Wahai saudari Harun, ayahmu bukanlah seorang yang buruk, dan ibumu bukanlah seorang pezina."
(QS. Maryam: 28)
Ucapan ini menunjukkan bahwa masyarakat menilai seseorang berdasarkan perilaku orang tuanya.
Oleh karena itu, mari kita sebagai orang tua berusaha menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita. Dengan menjaga akhlak dan perilaku kita, kita tidak hanya membangun reputasi baik untuk diri sendiri, tetapi juga memberikan warisan terbaik bagi anak-anak kita.
Semoga kita semua diberikan kekuatan dan keikhlasan untuk menjadi orang tua yang baik dan menjadi teladan yang positif bagi generasi penerus kita.
---
📚 Disarikan dari kitab Fiqh Tarbiyatul Abna’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, (hlm.25-27), dengan penyesuaian agar lebih mudah dipahami.
---
Semoga bermanfaat dan dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.
#YukNgajiIbadah
Kata Nabi: “Jangan Dekat-dekat Tempat Salat Kami Kalau Gak Kurban?”
Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Soal hukum berkurban, para ulama berbeda pendapat menjad...i dua pandangan besar. Dalilnya sama, tapi cara memahaminya yang berbeda:
Pendapat Pertama: Sunnah Muakkadah
Mayoritas ulama menyatakan bahwa kurban hukumnya sunnah muakkadah — sunnah yang sangat dianjurkan.
Salah satu dalil utamanya adalah hadits dari Ummul Mukminin, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika telah masuk sepuluh hari (Dzulhijjah), dan salah seorang di antara kalian ingin berkurban, maka janganlah ia menyentuh sedikit pun rambut atau kulitnya.”
(HR. Muslim no. 1977, syarah An-Nawawi)
Lafaz “ingin berkurban” dipahami oleh para ulama sebagai tanda bahwa hukumnya tidak wajib. Karena kalau wajib, tentu Nabi tidak menyandarkannya pada keinginan.
(Lihat Al-Mughnī karya Ibnu Qudāmah, 11/94)
Pendapat Kedua: Wajib Bagi yang Mampu
Sementara itu, Imam Abu Hanifah rahimahullah dan sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa kurban wajib bagi yang mampu.
Dalilnya, firman Allah:
“Maka dirikanlah salat untuk Rabbmu dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
Menurut kaidah ushul fiqh, perintah pada asalnya menunjukkan kewajiban.
Ditambah lagi dengan hadits tegas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa yang mampu berkurban namun tidak melakukannya, maka jangan sekali-kali mendekati tempat salat kami.”
(HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, 2/82, no. 2549)
Pendapat ini juga didukung oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.
(Majmū‘ Al-Fatāwā, Ibnu Qāsim, 23/162)
Jadi, Kurban Itu Wajib?
Dengan mempertimbangkan kuatnya anjuran dan kerasnya peringatan bagi yang meninggalkannya, maka sikap paling aman bagi orang yang mampu adalah menganggap kurban itu wajib.
Bukan sekadar potong hewan, tapi bentuk nyata cinta, syukur, dan kepedulian sosial.
YukNgaji Tarbiah
📌 Keluarga Dunia–Akhirat? Mulai dari Tauhid dan Teladan
🖊️ Nuruddin Abu Faynan
Orang tua itu punya tanggung jawab besar.
Mereka harus sun...gguh-sungguh berusaha, dan terus minta pertolongan dari Allah buat mendidik anak-anak mereka dengan didikan Islam — yang sesuai dengan ajaran mulia dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi ﷺ.
Dan yang nggak kalah penting:
🌟 Orang tua harus jadi contoh nyata.
Biar anak-anak bisa lihat, bisa bangga, dan punya panutan yang bisa ditiru.
Kalau udah begini, insyaAllah hasilnya:
✅ Anak-anak jadi anak saleh
✅ Orang tua pun dapat pahala besar, dunia dan akhirat.
---
📖 Allah berfirman tentang doa malaikat untuk orang beriman dan anak keturunannya:
> "Ya Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, juga kepada orang-orang saleh dari ayah, istri, dan keturunan mereka. Sungguh Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(QS. Ghafir: 8)
📖 Dan Allah juga berfirman tentang betapa berharganya iman dan amal saleh untuk anak-anak:
> "Orang-orang yang beriman, lalu anak keturunannya mengikuti mereka dalam iman — Kami hubungkan mereka dengan anak-anaknya. Dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala mereka. Setiap orang tetap bertanggung jawab atas amalnya."
(QS. Ath-Thur: 21)
---
💬 Intinya: Yuk, didik anak-anak kita dengan serius, penuh doa, dan jadi teladan buat mereka.
Karena hasilnya bukan cuma terlihat di dunia, tapi bisa menyatu sampai ke surga. 🤲✨
📝 “Sesungguhnya Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba di surga.”
Lalu hamba itu bertanya:
“Ya Rabb, dari mana aku dapat ini?”
Allah menjawab:
“Dari istighfar anakmu untukmu.”
(HR. Ahmad & Ibnu Majah)
---
📌 MasyaAllah…
Kebaikan anak bisa jadi tangga surga untuk orang tuanya — bahkan setelah mereka wafat.
Anak saleh itu bukan cuma anugerah dunia,
tapi investasi langit — yang terus mengalirkan pahala meski kita sudah berada di dalam kubur.
---
✅ Kalau anak kita:
sering istighfarin kita,
rajin doain kita,
taat ibadah, ngaji, dan jaga akhlak...
💡 Maka semua itu ngalir balik ke orang tuanya.
---
📢 Jadi orang tua itu bukan sekadar ngasih makan dan nyekolahin anak.
Tapi menanam iman dan mendidik mereka agar:
🕋 Kenal Allah,
💖 Cinta Rasul,
🤝 dan jadi generasi manfaat buat umat.
---
📎 Yuk, kita niatkan ulang:
🎯 Mendidik anak bukan cuma buat masa depan dunia, tapi demi akhirat kita... dan mereka.
🕌 YukNgaji Tarbiah
Ngaji Aqidah: Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan
🗣️ Ust. Nuruddin Abu Faynan
---
🎯 Imam Ibn Bāz رحمه الله bilang:
&...gt; “Umat tanpa aqidah yang benar, meski modern — tetap umat yang tersesat.”
📚 (Majmū‘ Fatāwā 2/316)
📌 Aqidah itu pondasi. Tanpa itu, agama runtuh.
---
📖 Dalilnya jelas:
✅ Amal baru sah kalau lahir dari aqidah yang lurus.
❌ Aqidah salah = amal sia-sia.
> “Jika engkau berbuat syirik, maka semua amalmu akan gugur.”
(QS. Az-Zumar: 65)
---
🧠 Kesimpulan Nge-jleb:
🔧 Aqidah itu fondasi.
🏠 Fondasi retak = bangunan ambruk.
📌 Perbaiki aqidah = langkah pertama jadi hamba yang lurus & keluarga yang lurus.
YukNgaji Ibadah
Labbayk: Saat Kita Menyerahkan Diri Sepenuhnya
Nuruddin Abu Faynan
Talbiyah bukan sekadar lantunan lisan.
Ia adalah seruan hati—sebuah janji dan p...engakuan.
"Labbayk Allahumma labbayk..."
Adalah kalimat yang menggugah jiwa:
■ Dimulai dengan niat,
■ Dijalani dengan tunduk,
■ Dituju hanya kepada Allah.
Setiap ucapannya adalah:
■ Janji kesetiaan,
■ Cinta dan kepasrahan,
■ Komitmen untuk kembali kepada-Nya.
Talbiyah bukan sekadar bacaan pembuka,
tapi pelajaran tauhid pertama yang kita kumandangkan lantang.
Di sanalah haji dimulai:
bukan dari Mina, bukan dari Arafah,
tapi dari hati yang berserah.
Karena haji sejatinya bukan soal kuat berjalan,
tapi paham makna perjalanan.
Bukan soal logistik,
tapi soal logika hati—
dari diri yang lelah, menuju Tuhan yang Maha Penyayang.
Dan orang yang mengerti talbiyah,
akan pulang bukan cuma dengan oleh-oleh,
tapi dengan jiwa yang lebih lembut,
hati yang lebih bersih,
dan iman yang lebih kokoh.
Itulah haji.
Perjalanan batin dari diri menuju Ilahi.
🌸 Kasih Sayang Rasulullah ﷺ dalam Doa-doanya
Oleh: Nuruddin Abu Faynan
🖋️ Bismillah.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan kepada kita a...nak-anak sebagai amanah sekaligus ladang amal yang besar.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ — suri teladan terbaik dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam mendidik generasi penerus umat ini.
🌿 Kasih Sayang Rasulullah ﷺ dalam Doa
Sahabat yang dirahmati Allah,
Rasulullah ﷺ adalah sosok yang penuh kasih sayang.
Kasih sayang beliau tidak hanya terlihat dari sikapnya, tapi juga tersirat dalam doa-doanya.
Beliau senantiasa mendoakan kebaikan, bahkan kepada anak-anak kecil.
🤲 Doa-doa Penuh Kasih Rasulullah ﷺ
1. Untuk Hasan bin Ali رضي الله عنهما
"Ya Allah, aku mencintainya, maka cintailah dia."
(HR. Bukhari & Muslim)
Cinta beliau ﷺ begitu agung, hingga beliau memohonkan cinta Allah untuk cucunya.
2. Untuk Usamah bin Zaid رضي الله عنهما
Usamah berkata:
"Aku menjenguk Rasulullah ﷺ saat beliau sakit berat. Beliau mengangkat kedua tangannya ke langit, lalu menunjukkannya kepadaku. Aku tahu, beliau sedang mendoakanku."
(HR. Ahmad)
Dalam kondisi sakit parah, Rasulullah ﷺ tetap mendoakan sahabat mudanya.
3. Untuk Abdullah bin Ja’far رضي الله عنهما
"Ya Allah, gantilah Ja’far dalam keluarganya, dan berkahilah Abdullah dalam setiap urusannya."
(HR. Ahmad)
Beliau ﷺ tak hanya berbelasungkawa atas gugurnya Ja’far, tapi juga mendoakan keberkahan untuk keturunannya.
4. Untuk Ummu Khalid رضي الله عنها
Melihat anak kecil bernama Ummu Khalid memakai baju kuning, beliau ﷺ bersabda:
"Bagus, bagus." (dalam bahasa Habasyah).
Lalu beliau mendoakan:
"Semoga kamu panjang umur, hingga bajumu menjadi usang karena lamanya dipakai."
(HR. Bukhari)
Begitu lembut dan hangat cara beliau ﷺ memperlakukan anak-anak.
5. Untuk Anas bin Malik رضي الله عنه
Anas bin Malik, yang melayani Rasulullah ﷺ sejak kecil, sering didoakan agar mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.
Doa beliau ﷺ mencakup Anas dan keluarganya.
🚫 Larangan Mendoakan Keburukan
Rasulullah ﷺ sangat melarang umatnya untuk mendoakan keburukan.
Suatu ketika, seorang sahabat memaki untanya:
"Celaka engkau! Semoga Allah melaknatmu!"
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
"Turunlah darinya!
Jangan ajak bepergian binatang yang telah dilaknat.
Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, anak-anak kalian, atau harta kalian.
Bisa jadi doa kalian bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa, lalu Allah kabulkan apa yang kalian ucapkan."
(HR. Muslim no. 3009)
🧠 Pelajaran:
Jagalah lisan!
Taburkan doa-doa kebaikan, meski sedang marah atau kecewa.
Karena kita tidak tahu, bisa jadi saat itu adalah waktu mustajab doa.
📌 Penutup
Mari kita biasakan mendoakan yang baik-baik:
Untuk diri sendiri
Untuk anak-anak
Untuk keluarga
Untuk seluruh kaum Muslimin
Semoga Allah memperbaiki hati kita, menjaga lisan kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang lisannya selalu dipenuhi doa-doa kebaikan.
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن
📚 Catatan:
Tulisan ini disarikan dari Kitab Fiqh Tarbiyatul Abna’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi (hlm. 15–19), dengan sedikit penyesuaian bahasa agar lebih akrab dan mudah dipahami.
Ceramah#1
"Hidayah itu dicari bukan di nanti”
Ust Nuruddin Abu Faynan Al-Makky
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah.
kemudian terima kasih khusus kepada ....... — semoga Allah membalas beliau dengan sebaik-baik balasan. Karena melalui beliau jugalah, kita bisa duduk bersama malam ini membahas tema yang penting: fiqih dalam mendidik anak.
Salah satu bagian penting dalam pendidikan yang perlu kita pahami adalah
□□ bahwa keshalihan anak itu anugerah dari Allah. Bukan sekadar hasil kerja keras, tapi buah dari taufiq dan hidayah-Nya.
Maka malam ini, kita akan membahas satu hal besar yang sering luput dari perhatian:
“Hidayah itu dicari, bukan dinanti.”
Bukan kita cari dari teori-teori Barat.
Bukan pula dari tren parenting yang berseliweran di media sosial.
Tapi kita gali dari wahyu Allah dan tuntunan Rasulullah ﷺ —
pedoman hidup paling lurus, yang tak akan pernah usang sepanjang zaman.
Kenapa? Karena yang menciptakan anak-anak kita adalah Allah. Maka aturan-Nya pasti paling pas. Firman Allah:
> {مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ}
“Tidaklah Kami luputkan sesuatالحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات
Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.”
الصلاة والسلام على نلينا محمد وعلى آله وصحبه اجمعين
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kitu muhammad, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman. [ durasi 1 menitu pun dalam Kitab ini.” (QS. Al-An‘ām: 38)
> {أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak tahu?” (QS. Al-Mulk: 14)
Maka, kalau kita ingin sukses mendidik anak:
✅ Telusuri jejak Rasulullah ﷺ.
✅ Lihat adab yang diajarkan beliau.
✅ Ikuti praktik para sahabat dan generasi awal Islam.
Kita tak cukup hanya dengan pengalaman atau kisah viral.
Kita butuh dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama salaf. Karena Rasulullah ﷺ bersabda:
> خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم
“Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, lalu setelah mereka, lalu setelah mereka.” (HR. Bukhari & Muslim)
Teman-teman yang dirahmati Allah…
Mendidik anak itu penting.
● Tapi yang lebih penting lagi adalah menundukkan hati dalam doa.
Karena sehebat apa pun ilmu dan usaha kita, yang bisa membimbing hati anak-anak kita hanyalah Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Makanya, sebelum bicara tentang tips atau teori parenting, kita perlu tanamkan satu prinsip dasar:
● Hidayah itu datangnya dari Allah.
Bukan dari kita. Bukan dari sekolah favorit. Bukan juga dari konten-konten motivasi.
Kalau Allah nggak kasih hidayah, sekeras apa pun kita berusaha, hasilnya bisa jauh dari harapan.
Allah ﷻ berfirman:
> وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا...
“Kalau Kami menghendaki, pasti Kami beri setiap jiwa petunjuknya...”
(QS. As-Sajdah: 13)
> يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nahl: 93)
Artinya?
Soal siapa yang dapat hidayah dan siapa yang tidak, itu hak prerogatif Allah.
Bahkan, sejak seseorang masih di dalam perut ibunya, takdirnya sudah ditulis. Kata Nabi ﷺ:
> “Malaikat diperintahkan mencatat empat hal: ajalnya, rezekinya, amal perbuatannya, dan apakah dia bahagia atau celaka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan tentang anak kecil yang dibunuh Khidr, Nabi ﷺ bersabda:
> "الغلام الذي قتله الخضر طُبع كافراً"
"Anak itu memang diciptakan sebagai orang kafir."
(HR. Muslim)
Ini semua bukan untuk membuat kita putus asa, tapi supaya kita sadar:
● Kunci utama dalam mendidik anak adalah doa dan tawakal kepada Allah.
Makanya, orang-orang beriman selalu menyertakan doa untuk anak-anak mereka.
Salah satunya yang sangat indah ada dalam QS. Al-Furqan ayat 74:
> رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ
"Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata kami."
Apa sih arti “penyejuk mata”?
Itu bukan sekadar anak yang pintar atau populer…
Tapi anak yang bikin hati tenang, adem, dan nggak bikin iri lihat anak orang lain.
Sama kayak suami yang punya istri cantik lahir-batin—matanya nggak lagi cari-cari yang lain. Karena hatinya udah cukup.
Begitu juga orang tua…
Kalau punya anak yang beradab, santun, dekat sama Allah—itu udah cukup.
Nggak perlu pembanding. Nggak perlu iri.
Makanya,
● doa orang beriman dalam Al-Qur’an itu spesial banget:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ
“Ya Rabb kami, anugerahkan kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk mata…”
(QS. Al-Furqan: 74)
Dan yang luar biasa, di akhir doa itu mereka juga minta:
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“…dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
● Begitu juga saat usia menginjak 40 tahun,
biasanya mulai muncul rasa:
"Aku harus jadi lebih baik. Aku harus lebih dekat sama Allah."
Itulah usia matang. Usia muhasabah.
Dan Allah abadikan doa orang yang sampai di usia ini:
> {رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ التى انعمت علي وعلى والدي وان اعمل صالحا ترضاه. وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي...}
“Ya Rabb-ku, bimbing aku untuk selalu bersyukur atas nikmat-Mu… dan perbaikilah untukku keadaan anak keturunanku.”
(QS. Al-Ahqaf: 15)
Lihat, dia nggak cuma minta untuk dirinya.
Tapi juga minta agar Allah yang memperbaiki anak-anaknya.
○ Karena dia tahu, sebaik-baik usaha manusia… tetap Allah yang punya kuasa atas hati mereka.
Makanya, jadi orang tua itu nggak cukup hanya kerja keras mendidik.
Kita juga harus doa keras.
Minta sama Allah dengan sungguh-sungguh—karena cuma Allah yang bisa menyentuh hati mereka.
Contohnya:
■ Nabi Ibrahim ‘alayhis salām.
Ketika beliau meninggalkan sebagian keturunannya di tanah tandus dekat Ka'bah, apa yang beliau minta?
> رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ
“Ya Rabb, agar mereka menegakkan shalat…”
(QS. Ibrahim: 37)
Doa beliau bukan cuma tentang makan atau tempat tinggal. Tapi agar anak-anaknya tetap nyambung sama Allah.
Bahkan beliau juga minta:
> “…jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka.”
Bukan cuma soal tempat tinggal, tapi juga lingkungan yang mencintai agama.
■ Begitu juga dengan Nabi Zakariya ‘alayhis salām.
Saat beliau belum punya anak, padahal usianya sudah lanjut dan istrinya mandul, beliau tetap berdoa:
> "رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً"
“Berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu…”
(QS. Ali 'Imran: 38)
Jadi jelas ya teman-teman…
●●● Anak yang baik itu anugerah dari Allah, bukan hasil murni dari kerja keras kita.
Kita bisa capek ngatur jadwal, ngasih nasehat, ngurus sekolah...
tapi tetap harus sadar:
●Yang bisa menanamkan iman,
● menjaga akhlak, dan
● membimbing langkah mereka itu cuma Allah.
Sahabat sekalian…
Yuk kita lihat sejenak kisah
1- Nabi Yūsuf ‘alayhis salām.
Beliau tumbuh bukan di lingkungan pesantren, bukan di rumah orang shalih.
Tapi… di mana?
Di istana penguasa kafir Mesir, dan sempat masuk penjara—bersama pencuri, peminum, dan para kriminal.
Lingkungannya keras. Tapi… apa yang terjadi?
🛡️ Allah sendiri yang jaga beliau.
Padahal Yūsuf itu luar biasa tampannya.
Nabi ﷺ sampai bilang:
> "أُوتِيَ يُوسُفُ شَطْرَ الْحُسْنِ"
“Yūsuf diberi separuh dari seluruh ketampanan dunia.”
(HR. Muslim)
Separuh ketampanan dunia, ada di satu orang!
Tapi tetap… Allah jaga.
Tangannya tak pernah menyentuh yang haram. Lisannya tak ikut bicara dusta. Hatinya tetap bersih.
📌 Apa pelajaran dari sini?
Lingkungan itu penting, tapi penjagaan Allah jauh lebih penting.
Karena kalau Allah yang jaga, bahkan penjara pun bisa jadi tempat tumbuhnya iman.
---
Lihat juga
2- kisah anak dalam cerita Ashḥābul Ukhdūd (Kisah Parit di QS. Al-Burūj).
Anak ini bukan dari keluarga shalih.
Orang tuanya bahkan kafir.
Ia dikirim belajar sihir, bukan belajar Al-Qur’an. Tapi di tengah jalan… Allah pertemukan dia dengan seorang rahib.
Dia belajar iman.
Dia tinggalkan sihir, dan justru jadi penyebab hidayah satu negeri!
💡 Siapa yang membelokkannya dari sihir menuju tauhid?
Bukan orang tua, bukan guru sihir.
Jawabannya: Allah.
> "يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ"
“Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”
(QS. Al-Baqarah: 213)
---
🌟 Maka sahabat sekalian…
Kalau kita mau anak kita selamat dari fitnah zaman, dari pergaulan rusak, dari konten toxic di internet…
✅ Bukan cuma soal sekolahnya di mana,
✅ Bukan cuma soal screen time-nya dibatasi,
✅ Tapi yang lebih penting:
●● doa dan tawakal kita pada Allah.
Setiap hari. Setiap waktu. Kita minta:
> “Ya Allah… jaga anak-anak kami. Bimbing hati mereka. Jangan Engkau serahkan mereka pada diri mereka sendiri, walau sekejap mata.”
Karena pelajarannya jelas:
🌱 Kalau Allah beri hidayah, anak dari keluarga kafir bisa jadi pejuang tauhid.
🔥 Tapi kalau Allah tak beri hidayah, anak dari keluarga ustaz pun bisa tersesat.
---
Jadi tugas kita
□ bukan cuma capek mendidik… tapi juga kuat dalam berdoa dan berharap.
□ Bukan sekadar pengen anak kita sukses dunia,
tapi semoga mereka jadi penyejuk mata—anak-anak yang bikin hati tenang,
● karena dekatnya mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta‘ālā.
Jadi yuk derasin temen2 bapak ibu semua doanya buat anak-anak kita
■ Kenapa sih doa itu penting banget buat anak-anak kita?
Karena… hidayah itu bukan di tangan kita.
● Bahkan seorang Nabi pun nggak bisa jamin hidayah buat anaknya.
Lihat kisah Nabi Nuh ‘alaihis salām.
Beliau adalah Rasul pilihan, ulul ‘azmi—tapi anaknya sendiri memilih jalan kufur.
□ Saat banjir besar datang,
Nabi Nuh masih berusaha menyelamatkannya:
> يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُن مَعَ الْكَافِرِينَ
“Wahai anakku! Naiklah bersamaku, dan jangan bersama orang-orang kafir.”
(QS. Hūd: 42)
Tapi apa jawab sang anak?
> سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ
“Aku akan naik ke gunung, dia akan lindungi aku dari banjir.”
○ Sombong, keras kepala, dan menolak nasihat ayahnya sendiri.
Nuh ‘alaihis salām menjawab:
> لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ
“Hari ini tidak ada yang bisa selamat dari azab Allah, kecuali yang diberi rahmat oleh-Nya.”
Lalu gelombang besar memisahkan mereka. Dan sang anak… tenggelam.
(QS. Hūd: 43)
🎯 Bayangin...
Seorang Nabi.
Seorang ayah terbaik.
Tapi kalau Allah belum berkehendak memberi hidayah… gak akan terjadi.
---
💡 Maka dari itu, sahabat…
Sebagus apapun metode parenting kita, sehebat apapun sekolah dan lingkungan anak, tetap gak cukup tanpa doa.
Doa itu bukan formalitas.
Tapi itulah ●●● jantungnya ikhtiar orang tua.
Karena yang bisa membolak-balik hati mereka,
yang bisa menguatkan iman mereka…
hanya Allah, Rabbul ‘Alamin.
---
📌 Jadi, apa tugas kita?
Hidayah itu dicari, bukan dinanti.
✅ Berdoa siang dan malam, minta agar Allah jaga anak-anak kita.
✅ Mendidik dengan ilmu, bukan asumsi—pakai Qur’an dan Sunnah.
✅ Ngasih teladan, bukan cuma omelan.
✅ Bikin rumah jadi tempat zikir, bukan cuma tempat nonton.
✅ Arahkan anak ke guru & teman yang shalih.
🌱 Karena di tengah zaman yang makin bebas ini…
anak shalih bukan hasil dari kerja keras semata.
Tapi dari doa yang keras juga. 🫶
🌱 Mendidik anak itu…
□ bukan cuma soal doa, tapi juga soal ikhtiar yang sungguh-sungguh.
Kita kadang terlalu berharap hasil besar,
● tapi lupa menanam bibitnya dengan sabar.
Allah ﷻ sudah menetapkan: siapa yang menempuh jalan kebaikan, Allah sendiri yang akan bukakan jalannya, bahkan tambahkan hidayah.
Dengar firman-Nya di Surah Al-Lail:
> فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ • وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ • فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ
“Barang siapa yang memberi, bertakwa, dan membenarkan kebaikan, maka Kami akan mudahkan dia menuju kemudahan.”
(QS. Al-Lail: 5–7)
✨ Ini kode keras buat para orang tua:
Kalau kita rajin menanam nilai baik di rumah, menjauhi dosa, dan percaya sama janji Allah, maka Allah sendiri yang bantu anak-anak kita menuju jalan kebaikan.
💬 Jadi bukan cuma berharap anak jadi saleh… tapi juga bergerak dan terus berusaha!
Tapi sebaliknya, Allah juga kasih peringatan:
> وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ • وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ • فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ
“Barang siapa yang pelit, merasa cukup (tak butuh Allah), dan mendustakan kebaikan, maka Kami akan mudahkan dia menuju kesulitan.”
(QS. Al-Lail: 8–10)
🛑 Artinya, kalau kita cuek, sombong, dan gak mau ngikutin petunjuk, Allah bisa biarkan kita — dan anak-anak kita — terseret ke jalan yang susah dan gelap. Na’udzubillah…
---
🔑 Tapi tenang… Allah juga janji:
> وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabūt: 69)
🎯 Jadi kuncinya simpel:
➕ Usaha
➕ Doa
➕ Istiqamah
Kalau kita sungguh-sungguh ingin berubah, ingin anak kita lebih baik, Allah pasti bantu.
---
🧠 Sekarang kita lihat contoh dari para Nabi…
📌 Nabi Musa ‘alaihis salam
> وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَىٰ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Ketika Musa mencapai kedewasaan sempurna, Kami anugerahkan hikmah dan ilmu. Begitulah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-Qashash: 14)
Musa itu baik, dan Allah balas dengan ilmu dan hikmah.
⚠️ Ini sunnatullah: siapa yang berbuat baik, Allah akan kasih yang lebih baik.
---
📌 Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
> وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا
“Ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dan ia menunaikan semua perintah itu, Allah berfirman: Aku jadikan engkau pemimpin bagi manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 124)
Ibrahim lulus ujian. Allah angkat jadi pemimpin. Tapi saat beliau berharap anak cucunya ikut mulia, Allah langsung tegaskan:
> لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
“Janji-Ku tidak berlaku untuk orang-orang yang zalim.”
⛔ Bahkan keturunan Nabi sekalipun, tidak otomatis mulia.
●●● Harus ada perjuangan, iman, dan akhlak.
---
📌 Bani Israil
> وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, karena mereka sabar dan yakin terhadap ayat-ayat Kami.”
(QS. As-Sajdah: 24)
Kapan mereka jadi pemimpin?
Setelah sabar dan yakin.
---
📌 Bahkan Allah juga tegaskan:
> وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُّبِينٌ
“Di antara keturunan mereka ada yang berbuat baik, ada juga yang zalim pada dirinya sendiri.”
(QS. Ash-Shaffāt: 113)
🧬 Artinya, keturunan orang baik belum tentu jadi baik, kalau tidak ditanam nilai iman, tidak diarahkan, dan tidak dikawal dengan doa.
---
💡 Kesimpulan sementara:
✔️ Hidayah, ilmu, dan kemuliaan itu gak datang tiba-tiba.
✔️ Harus ada usaha.
✔️ Harus ada kesabaran.
✔️ Harus ada perjuangan dan amalan nyata.
Dan siapa yang sungguh-sungguh mencari…
✨ Allah pasti bukakan jalan.
Bukan cuma untuk dirinya, tapi juga buat anak-anaknya.
📍 Contoh nyata dalam Al-Qur’an:
● Nabi Lūṭ ‘alaihis salām.
Yang diselamatkan bukan karena hubungan darah. Tapi karena ketaatan dan rasa syukur kepada Allah.
Allah berfirman:
> نِعْمَةً مِّنْ عِندِنَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ شَكَرَ
“Sebagai nikmat dari Kami. Begitulah balasan Kami bagi orang yang bersyukur.”
(QS. Al-Qamar: 35)
🎯 Artinya, keselamatan itu nggak diwariskan. Tapi diperjuangkan, dengan iman dan syukur yang hidup.
---
⚠️ Tapi beda nasibnya dengan orang yang menolak peringatan dan berpaling dari hidayah…
Allah berfirman:
> ثُمَّ انصَرَفُوا صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُم
“Mereka berpaling, maka Allah palingkan hati mereka.”
(QS. At-Taubah: 127)
> فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ
“Ketika mereka menyimpang, Allah pun menyimpangkan hati mereka.”
(QS. Ash-Shaff: 5)
> فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ
“Ketika mereka melupakan peringatan, Kami bukakan untuk mereka semua pintu (kenikmatan)… lalu Kami siksa mereka secara tiba-tiba.”
(QS. Al-An‘ām: 44)
😱 Serem banget…
Orang yang berpaling dari nasihat dan ilmu, bisa jadi malah dipalingkan lebih jauh. Bahkan dunia diberikan, bukan sebagai nikmat, tapi sebagai istidraj — jebakan agar makin lalai.
---
🎯 Kesimpulan penting:
✅ Hidayah itu dijemput, bukan ditunggu.
✅ Perubahan butuh langkah nyata, bukan hanya niat di hati.
✅ Siapa yang sungguh-sungguh, Allah bukakan jalan.
❌ Tapi siapa yang cuek, Allah bisa palingkan hatinya. Na’udzubillāh.
---
✨ Jadi…
🎈 Jangan cuma berharap jadi baik. Mulailah bergerak walau dengan langkah kecil.
🎈 Jangan cuma niat hijrah. Tapi mulai ambil tindakan—meski satu ayat, satu doa, satu langkah menjauhi maksiat.
Karena Allah janji:
> إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
---
💡 Semoga Allah beri kita taufiq untuk mau berubah, dan beri anak-anak kita hati yang lembut untuk menerima hidayah. Aamiin.
Tambahan
Kunci anak saleh
---
💎 1. Orang Tua Duluan Taat, Baru Anak Mengikut
🌱 Salah satu kunci terbesar agar anak tumbuh jadi pribadi yang shalih adalah: kita sebagai orang tua yang lebih dulu serius dalam ketaatan.
Banyak orang tua mengeluh:
> “Kenapa anak saya susah diatur ya?”
“Anak saya kok gak suka ngaji?”
Tapi kadang kita lupa…
Anak itu cerminan.
Dia belajar dari melihat, bukan sekadar dari mendengar.
---
📌 Kalau tiap hari anak melihat kita:
rajin shalat tepat waktu,
hati-hati dalam urusan uang halal-haram,
jujur dalam ucapan,
maka itu semua nempel di benaknya… dan pelan-pelan membentuk karakternya.
---
📖 Allah sebutkan dalam QS. Al-Kahfi ayat 82 tentang dua anak yatim:
> {وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا}
“…dan ayah mereka adalah orang yang shalih.”
Karena keshalihan ayah mereka, Allah kirim Musa dan Khidr untuk jaga harta anak-anak itu sampai mereka dewasa.
Subhanallah… bahkan setelah ayahnya wafat pun, keberkahannya masih terasa.
---
💬 Dulu, Sa‘īd bin al-Musayyib — ulama besar di kalangan tabi’in — pernah bilang ke anaknya:
> "Wahai anakku, aku akan menambah jumlah rakaat shalatku demi kebaikanmu."
Karena beliau paham, amal baik orang tua bisa jadi tabungan berkah untuk anak-anaknya.
---
📖 Dalam QS. An-Nisā’ ayat 9, Allah juga beri warning:
> {فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا}
“Maka bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
✅ Takwa kita hari ini, ucapan kita yang jujur hari ini — bisa jadi sebab keselamatan anak-anak kita di masa depan.
---
📌 Jadi, kalau kita mau anak yang kuat imannya,
✔️ Kita harus duluan kuat dalam ibadah.
✔️ Kalau mau anak jujur,
✔️ Kita harus duluan menjaga lisan.
Anak-anak meniru, bukan sekadar mendengar.
---
💍 2. Ibu yang Shalihah, Madrasah Pertama Anak
🔑 Kunci kedua adalah: memilih ibu yang shalihah.
Ini bukan cuma soal jatuh cinta.
Tapi soal siapa yang akan jadi madrasah pertama buat generasi masa depan.
---
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, kecantikannya, keturunannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang agamanya kuat, niscaya kau akan beruntung.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Kenapa agama yang paling ditekankan?
Karena istri yang shalihah adalah pendidik pertama anak-anak kita.
---
Dan jangan lupa, sebagian sifat ibu juga bisa nurun ke anak:
📌 Kecantikan,
📌 Kecerdasan,
📌 Kelembutan hati…
Bahkan Mu’awiyah radhiyallāhu ‘anhu pernah menjodohkan budak perempuan berkulit putih dengan lelaki berkulit gelap, lalu berkata:
> “Nikahilah dia, agar anak-anakmu lahir seputih dirinya.”
📌 Artinya: bukan cuma faktor cinta, tapi faktor genetik dan ruhani juga penting.
---
💭 Maka sebelum tanya:
> “Aku cocok gak ya sama dia?”
Coba tanya juga:
> “Anakku nanti akan punya ibu seperti apa?”
Karena istri bukan sekadar teman tidur.
Dia adalah ibu dari generasi masa depan.
---
🛡️ 3. Doa: Tameng Terbaik untuk Anak
🌱 Kunci ketiga agar anak tumbuh dalam kebaikan adalah membiasakan doa-doa perlindungan.
Dan ini dimulai bahkan sebelum anak lahir.
---
📖 Lihat bagaimana ibunda Maryam berdoa saat melahirkan putrinya:
> {وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ}
“…aku mohon perlindungan kepada-Mu untuknya dan keturunannya dari godaan setan.”
(QS. Ali ‘Imrān: 36)
Doa ini dikabulkan.
Maryam tumbuh jadi wanita suci.
Dan dari rahimnya lahirlah Nabi Isa ‘alaihis salām.
---
🌙 Setelah anak lahir, doa terus dilanjutkan.
Rasulullah ﷺ selalu mendoakan cucunya, Hasan dan Husain, dengan doa:
> “Ayah kalian (Ibrahim) juga membacakan doa ini untuk Ismail dan Ishaq.”
📌 Jadi, ini sunnah para nabi dalam melindungi anak.
---
📌 Belum hafal? Gak masalah.
Cukup bacakan 3 surat pelindung:
Al-Ikhlāsh
Al-Falaq
An-Nās
✅ Bacakan setiap pagi dan sore.
✅ Tiupkan ke anak-anak — yang kecil maupun yang sudah besar.
Ini adalah tameng dari sihir, ain, dan bisikan setan.
---
📖 Nabi ﷺ juga pernah menjenguk istri Ja’far setelah beliau gugur syahid.
Melihat anak-anaknya kurus, beliau bertanya:
> “Kenapa anak-anak ini kurus begitu?”
Istrinya menjawab:
> “Mereka sering kena ain (mata hasad), ya Rasulullah.”
Maka Nabi ﷺ berkata:
> “Kalau begitu, ruqyahlah mereka.”
(HR. Muslim)
---
✅ Penutup: Kita Gak Bisa Jagain Anak 24 Jam. Tapi Allah Bisa.
Anak-anak kita bukan cuma butuh makanan dan pendidikan.
Mereka juga butuh perlindungan spiritual.
Karena dunia ini penuh gangguan yang tak terlihat mata, tapi bisa menghancurkan jiwa.
---
🎯 Maka, bentuk perlindungan terbaik adalah:
✔️ Doa yang terus mengalir.
✔️ Zikir yang rutin.
✔️ Bacaan Qur’an yang kita biasakan.
✔️ Sunnah Nabi ﷺ yang kita amalkan.
📌 Karena pendidikan bukan hanya soal ilmu,
tapi juga menumbuhkan iman dan menjaga ruh anak dari dalam.
---
Semoga Allah jadikan kita sebagai orang tua yang benar-benar serius menjaga amanah anak.
Dan semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang shalih, kuat imannya, dan membawa manfaat untuk umat.
📌 “Anak Itu Cerminan Orang Tua”
🖊️ Nuruddin Abu Faynan
---
🔹 Pembukaan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wab...arakatuh.
الحمد لله الذي بنعمته تتمّ الصالحات، والصلاة والسلام على من بعثه الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Amma ba’du...
Ayah… Ibu…
Para guru dan orang tua yang saya cintai karena Allah…
Hari ini kita bahas tema yang dekat sekali dengan kita semua.
Bukan cuma sebagai orang tua. Tapi juga sebagai pendidik.
Tema kita:
> “Anak Itu Cerminan Orang Tua”
Kenapa penting?
Karena kadang kita sibuk “perbaiki anak”,
tapi lupa: anak itu bukan kertas kosong.
Dia itu pantulan dari siapa kita di rumah.
---
🔹 1. Anak Lahir Bukan Langsung Tahu Benar-Salah
Nabi ﷺ bersabda:
> «كل مولود يُولد على الفطرة...»
“Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah (suci).” (HR. Bukhari dan Muslim)
🌿 Kata Syaikh Bin Baz رحمه الله:
> “Ini dalil besar bahwa orang tua punya peran sentral. Pendidikan pertama dan utama ada di tangan mereka.”
(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah)
Anak itu ibarat benih murni.
Tinggal siapa yang menyiramnya?
Apa yang masuk ke telinganya?
Apa yang dia lihat tiap hari?
Kalau kita tiap hari kasih tontonan emosi,
suara keras, bentakan, gadget tanpa kontrol,
maka jangan heran kalau dia tumbuh keras kepala,
ketergantungan layar, dan minim empati.
Jadi jangan berharap anak akan tumbuh baik kalau rumahnya minim keteladanan dan penuh pertengkaran.
---
🔹 2. Didik Anak Itu Nggak Cuma dengan Kata-Kata
Anak itu nggak belajar dari ceramah kita di rumah.
Anak belajar dari:
Nada suara kita waktu marah
Cara kita minta maaf kalau salah
Cara kita memperlakukan ibu mereka
Cara kita memperlakukan pembantu, tukang parkir, sopir ojol
📝 Maka, ingat satu kalimat penting:
> “Anak itu tidak butuh orang tua yang sempurna.
Tapi dia butuh orang tua yang mau belajar dan jadi teladan.”
Ada syair Arab klasik yang menggambarkan betapa cepatnya anak menyerap perilaku orang tuanya:
> وينشأ ناشئُ الفتيانِ فينا
على ما كان عوّدهُ أبوهُ
> “Anak-anak tumbuh dalam kebiasaan,
sesuai apa yang dibiasakan oleh ayahnya.”
Jadi kalau orang tuanya suka berkata jujur — anak ikut.
Kalau orang tuanya hobi ngegas — anak juga belajar marah.
---
🔹 3. Orang Tua & Guru Itu Satu Tim
Kadang ada orang tua bilang:
🗣️ “Ustadz dong yang ngajarin akhlak, kan sekolah mahal.”
Tapi guru bilang:
🗣️ “Lho, itu tanggung jawab orang tua di rumah.”
Kalau dua-duanya saling lempar,
anak-anak akan bingung dan jadi korban.
Orang tua dan guru itu bukan saling menyalahkan,
tapi harus jadi tim yang kompak.
> Karena akhlak itu bukan cuma pelajaran.
Tapi hasil dari lingkungan, keteladanan, dan konsistensi.
Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah menulis:
> “Banyak orang tua melarang anaknya sesuatu, tapi mereka sendiri melakukannya. Ini bukan pendidikan, tapi penghancuran.”
(Fiqh Tarbiyatul Abna’, hlm. 22)
🧠 Anak itu cepat merekam.
Bukan cuma mendengar, tapi mengamati.
Kalau kita bilang:
🗣️ “Nak, jangan bohong ya…”
Tapi anak lihat kita bohongin tukang parkir atau debt collector,
ya dia akan tiru.
---
🔹 4. Rumah Itu Sekolah Pertama, dan Orang Tua Itu Ustadz Pertama
Di rumahlah anak pertama kali belajar:
🗣️ berbicara,
🧠 bersikap,
💖 berakhlak,
dan mengenal siapa Rabb-nya dan siapa Nabinya ﷺ.
---
📖 Syaikh Ibnu Baz رحمه الله berkata:
> “Nasihatilah anakmu, bimbing ia ke jalan kebaikan, dan jangan lupa doakan ia dalam salat dan di waktu-waktu mustajab.”
📚 Majmū‘ Fatāwā 5/245
🏡 Rumah itu madrasah,
dan ayah-ibunya ustadz dan ustadzah-nya.
Jangan serahkan semua ke sekolah.
Rumah adalah markas utama pendidikan.
Kalau di sekolah dia belajar tentang adab,
tapi pulang ke rumah,
yang dia dengar tiap hari adalah teriakan, sindiran, dan perbandingan:
> “Tuh lihat anak tetangga, ranking terus!”
Anak akan bingung:
Mana yang benar?
Maka rumah harus jadi tempat aman,
bukan tempat tekanan.
Kalau rumah isinya:
TV non-stop
Gadget bebas
Omelan setiap hari
Lalu kita heran: “Kok anak saya susah diatur ya, Ustadz?”
💡 Para ulama sepakat: ada tiga poros utama pendidikan Islam yang menjadi fondasi tumbuhnya generasi rabbani:
1️⃣ Rumah – tempat anak pertama kali mengenal kasih sayang dan tauhid,
2️⃣ Masjid – tempat anak belajar tunduk dan mencintai ibadah,
3️⃣ Sekolah – tempat adab dan ilmu ditanam secara disiplin dan bertahap.
📌 Tapi ingat…
Kalau satu kosong, dua lainnya bisa rapuh.
Masjid tak bisa menggantikan peran ayah,
Sekolah tak bisa menggantikan pelukan ibu,
Dan rumah tak cukup kalau tak diisi dengan ilmu dan iman.
🎯 Maka, tarbiyah dan dakwah harus hidup di ketiganya.
Bukan soal megahnya bangunan, tapi tentang siapa yang hadir dengan niat lillah.
Karena generasi robbani tak lahir dari ruang kosong,
tapi dari tempat yang penuh cinta, ilmu, dan keteladanan.
📚 Al-Imam Ibnu Baz رحمه الله pernah mengingatkan:
> “Setiap tempat bisa jadi medan dakwah.”
📖 Al-Ibrāziyyah, hlm. 153
Dakwah tak terbatas di masjid atau sekolah saja.
📖 Bahkan perkemahan dan pelatihan Islam pun, kata beliau, adalah ladang untuk menanam kebaikan.
(Majmū‘ al-Fatāwā, 2/236)
---
🔹 5. Tugas Kita: Tumbuhkan Jiwa, Bukan Cuma Nilai
Tarbiyah bukan cuma soal anak ranking.
Tarbiyah itu menumbuhkan jiwa.
Banyak yang mengira tarbiyah itu sekadar ngajarin pelajaran. Padahal lebih dari itu, tarbiyah berarti menumbuhkan jiwa, memupuk iman, dan membentuk karakter.
Makanya disebut "Ar-Rabb", karena Allah menumbuhkan kita dari satu fase ke fase lain sampai matang.
Yuk, didik anak-anak bukan cuma untuk bisa “jawab soal”, tapi juga supaya bisa “jawab di hadapan Allah.”
Tanya ke diri kita:
Apakah anak saya kenal Allah lebih dekat setelah hidup bersamaku?
Apakah dia merasa dimengerti, atau cuma disuruh?
Apakah rumah ini jadi tempat dia tumbuh atau malah tertekan?
> Jangan sampai anak tumbuh jadi anak pintar, tapi hatinya kosong.
☆☆
Makna Bahasa Tarbiyah
Secara bahasa, tarbiyah berasal dari kata kerja rabba—yang artinya: menumbuhkan, memelihara, dan mengembangkan.
Ar-Rāghib al-Aṣfahānī menjelaskan dalam Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān:
الرَّبُّ: هو المُنْشِئُ لِلشَّيْءِ حَالًا فَحَالًا إِلَى أَنْ يَبْلُغَ إِلَى كَمَالِهِ
“Ar-Rabb adalah yang membentuk sesuatu dari satu keadaan ke keadaan berikutnya sampai mencapai kesempurnaan.”
(Al-Mufradāt, hlm. 184)
Makanya Allah disebut Ar-Rabb, karena Dialah yang mendidik dan membina makhluk dari nol sampai sempurna.
Ibnu Manzhūr juga berkata dalam Lisān al-‘Arab:
رَبَّ الوَلَدَ: أَدَّبَهُ وَقَوَّمَهُ، وَرَبَّاهُ، أَيْ سَاسَهُ وَقَامَ بِمَصَالِحِهِ
“Rabba al-walad berarti mendidik anak, mengajarinya adab, membimbing, dan mengurus semua urusannya.”
(Lisān al-‘Arab, 1/399)
Jadi jelas, tarbiyah bukan sekadar ngajarin pelajaran, tapi membentuk akhlak, mengarahkan hati, dan menemani pertumbuhan jiwa.
Tarbiyah dalam Islam
Dalam buku Asās at-Tarbiyah al-Islāmiyyah fī as-Sunnah an-Nabawiyyah dijelaskan:
“Tarbiyah adalah proses pembentukan kepribadian manusia secara menyeluruh dan seimbang—ruhiyah, aqliyah, dan jasadiyah—agar mampu menjalani kehidupan dengan nilai-nilai Islam.”
Artinya, tarbiyah bukan cuma transfer ilmu, tapi juga transformasi jiwa.
---
🔹 6. Anak Bukan Musuh yang Harus Dikalahkan
Kadang kita kehilangan kesabaran.
Teriak. Mencubit. Bahkan memaki.
Tapi kita lupa:
Anak itu bukan musuh yang harus dikalahkan.
> Dia adalah amanah yang harus diarahkan.
Nabi ﷺ bersabda:
> «ليس منا من لم يرحم صغيرنا»
"Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda." (HR. Ahmad)
🧪 tapi juga ujian dari Allah.
> “Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian.”
(QS. At-Taghabun: 15)
📌 Dan ujiannya beda-beda di tiap keluarga...
👶 Saat masih kecil:
Tangis tengah malam, rewel seharian, orang tua begadang.
Capek jasmani & rohani—sabar jadi kuncinya.
🧑🦱 Saat mulai remaja:
Ngeyel, susah diarahkan, kadang mulai membantah.
Ujian emosional yang sering bikin lelah hati.
💔 Ada juga yang diuji dengan anak yang sakit, tumbuh lambat, atau punya keterbatasan fisik dan mental.
Berat… tapi penuh pahala kalau dijalani dengan ikhlas.
🌿 Nah, di sinilah iman orang tua diuji:
✅ Masihkah sabar?
✅ Masihkah jaga kata dan sikap?
✅ Masihkah bertahan di jalan yang halal demi anak?
Karena hakikatnya…
🌱 Ujian bukan buat menjatuhkan, tapi buat menguatkan iman dan memperdalam cinta di dalam keluarga.
---
🔹 7. Anak Belajar dari Bahasa Tubuh Kita
Kita bisa aja bilang:
🗣️ “Nak, sabar ya…”
Tapi kalau kita sendiri:
Ngomel di jalan pas macet
Update status sambil sindir-sindir
Ribut sama pasangan di depan anak
Ya anak belajar dari situ.
Maka penting untuk kita:
Perbaiki diri, bukan hanya mengatur anak.
Syair Arab: Jangan Harap Anggur dari Duri
> إذا كان ربُّ البيتِ بالطَّبلِ ضاربًا
فلا تلُمنَّ الصِّبيانَ في الرَّقصِ
> “Jika kepala rumah main genderang,
jangan salahkan anak-anak menari.”
Kalau orang tua suka teriak,
anak belajar keras.
Kalau orang tua suka menyindir,
anak jadi ahli sarkasme.
Kita nggak bisa tanam durian, lalu berharap panen anggur.
---
🔹 8. Didik Anak Itu Investasi Akhirat
Nabi ﷺ bersabda:
> «إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاَثٍ...»
“Jika anak Adam meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Kalau kita ingin pahala nggak berhenti,
maka didiklah anak agar jadi orang yang mengenal Allah, mencintai sunnah, dan mendoakan kita saat kita tiada.
Anak Bukan Fotokopi, Tapi Amanah
Maka jangan bentuk anak sesuai ego kita:
Harus jadi dokter!
Harus ranking 1!
Harus bisa hafal 30 juz di umur 5!
➡️ Bentuk anak sesuai fitrah dan potensinya, bukan obsesi kita.
☆☆
Islam datang, ngajarin bagaimana jadi manusia kuat. Kuat imannya, kuat jiwanya, kuat akhlaknya.
Pendidikan Islam: Membangun Karakter Tangguh
Dalam kitab Asās at-Tarbiyah al-Islāmiyyah fī as-Sunnah an-Nabawiyyah, disebutkan dengan sangat indah:
> “التربية الإسلامية تهدف إلى تكوين شخصية المؤمن الكاملة، الإيجابية في نظرتها إلى الحياة، لا تخدعه النجاحات، ولا تهزمه الإخفاقات...”
Pendidikan Islam itu, kata para ulama, bukan cuma mencetak siswa yang pinter jawab soal ujian. Tapi mencetak pribadi yang kalau dikasih rezeki, dia bersyukur dan makin dekat ke Allah. Kalau lagi diuji, dia sabar, gak ngeluh terus di status. Dia tetap melangkah dengan harapan kepada Allah. Inilah mukmin yang tangguh.
Tauhid: Akar dari Segalanya
Makanya, fondasi pendidikan Islam itu tauhid.
Syaikh ‘Abdul ‘Azīz bin Bāz rahimahullah menjelaskan:
> “Tujuan utama penciptaanmu, wahai hamba Allah, adalah untuk mentauhidkan-Nya...”
Jadi, pendidikan Islam bukan semata transfer ilmu. Tapi transfer makna hidup. Anak dididik bukan cuma buat “tahu”, tapi buat “tunduk”. Tauhid itu bukan cuma di lisan, tapi di sikap sehari-hari.
Allah Ta‘ālā berfirman:
> وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)
Nah, di sinilah letaknya. Pendidikan yang Islami itu selalu mengarah ke satu tujuan: membentuk hamba yang mengenal Allah, tunduk kepada-Nya, dan hidup dengan nilai-nilai tauhid.
Syaikh Ibn Bāz rahimahullāh pernah berpesan:
> “من أهم المهمات تربية الناشئة من صغرهم...”
Salah satu tugas terbesar adalah mendidik anak-anak kita sejak kecil. Bukan nanti, tapi sekarang. Bukan tunggu sekolah tinggi, tapi dari rumah. Dari pangkuan ibu. Dari teladan ayah. Dari suasana di masjid. Dari obrolan makan malam. Dari doa sebelum tidur.
Kadang kita sibuk nyari sekolah terbaik, tapi lupa rumah kita jadi tempat belajar terpenting. Padahal, anak-anak itu lebih banyak nyerap dari apa yang mereka lihat, bukan cuma yang mereka dengar. Maka rumah yang Islami, itu bukan yang temboknya banyak tulisan Arab, tapi yang di dalamnya penuh dengan zikir, sabar, kasih sayang, dan doa.
---
🔹 9. Dunia Boleh Modern, Tapi Anak Tetap Butuh Nilai
Hari ini anak-anak hidup di zaman serba cepat.
Apa-apa tinggal klik.
Tapi jiwa mereka tetap butuh kasih sayang,
batasan, dan ketegasan dengan cinta.
Bukan gadget yang salah.
Tapi saat gadget menggantikan kehadiran kita.
Jangan Wariskan Luka, Wariskan Tauhid
Banyak anak tumbuh dengan luka batin dari orang tuanya.
Bukan karena orang tua jahat.
Tapi karena nggak sadar,
bahwa kata-kata tajam dan tekanan berlebihan bisa jadi luka abadi.
> Didik anakmu dengan cinta yang mendidik,
bukan dengan cinta yang menyakiti.
Dan yang paling utama:
> Wariskan tauhid, bukan cuma uang dan gelar.
---
🔹 10. Jadi Orang Tua Itu Belajar Seumur Hidup
Yuk, kita jujur…
Kadang kita lelah.
Kadang kita juga masih menyimpan luka dari pola asuh di masa kecil.
Tapi itu bukan alasan untuk berhenti belajar.
> Mendidik anak bukan soal menjadi orang tua yang sempurna,
tapi tentang menjadi orang tua yang terus belajar dan tumbuh.
Anak tidak butuh orang tua yang selalu punya jawaban benar.
Mereka butuh orang tua yang sabar, jujur, dan tulus.
Karena sering kali, yang mereka kenang bukan isi nasihat kita…
Tapi sikap dan kelembutan yang mereka rasakan.
---
📝 Kita Sedang Mencetak Generasi, Bukan Cuma Mengejar Nilai
Sering kali, kita sibuk mengejar:
Nilai ujian,
Ranking kelas,
Sertifikat lomba.
Padahal, tujuan tarbiyah bukan sekadar mencetak anak pintar,
tapi anak yang kuat imannya, dan mulia akhlaknya.
Nilai tinggi itu bagus.
Tapi kalau tidak dibarengi adab dan tauhid,
maka itu hanya angka tanpa makna.
> Anak yang membawa keberkahan bukan cuma yang hebat di atas kertas,
tapi yang tangguh di hadapan dunia dan lembut di hadapan Rabb-nya.
---
🔹 Doa Orang Tua, Senjata Rahasia
Kalau kita merasa sudah berusaha maksimal,
tapi anak belum juga berubah seperti harapan…
> Jangan lelah untuk terus berdoa.
Lihatlah doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam:
> ﴿رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي﴾
“Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak keturunanku sebagai orang-orang yang mendirikan shalat.”
(QS. Ibrahim: 40)
🌙 Menangislah dalam sujud untuk anakmu,
sebagaimana dulu kamu menangis bahagia saat ia lahir ke dunia.
Karena bisa jadi, air matamu di malam hari
lebih didengar Allah daripada semua teriakan dan omelanmu di siang hari.
---
🔹 Penutup
Ayah… Ibu…
Anak itu bukan miniatur harapan kita,
tapi amanah dari Allah yang harus kita jaga.
Bukan sekadar pintar,
tapi harus bertauhid, berakhlak, dan mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Kalau hari ini belum ideal,
jangan putus asa.
Mari mulai dari:
Perbaiki hubungan dengan Allah
Bangun komunikasi yang jujur dengan anak
Bangun kerja sama dengan sekolah
Semoga Allah menjadikan anak-anak kita:
> قُرَّةَ أَعْيُنٍ
penyejuk mata kita di dunia,
dan syafaat bagi kita di akhirat.
---
🎯 Penutup Doa:
اللهم اجعل أولادنا من الصالحين...
اللهم أصلحهم واهدهم وبارك لنا فيهم...
اللهم اجعلهم من حملة القرآن، وممن يحبك ويحب نبيك صلى الله عليه وسلم...
اللهم اجعل أبناءنا قرة أعين لنا في الدنيا،
وشفعاء لنا في الآخرة،
وارزقنا برهم في الحياة وبعد الممات،
آمين...
"Ayah Ibu Pergi, Apa yang Tertinggal?”
🗣️ Ust. Nuruddin Abu Faynan Al-Makky
(Alumni Universitas Ummul Qura Makkah)
---
🌱 1. ...Pembukaan
Bismillāhirraḥmānirrahīm.
Segala puji bagi Allah, Rabb yang Maha Mendidik hamba-hamba-Nya dengan hikmah dan kasih sayang. Shalawat dan salam tercurah untuk Nabi Muhammad ﷺ — guru terbaik sepanjang masa, yang mendidik bukan cuma dengan kata, tapi dengan keteladanan.
🗣️ Teman-teman sekalian…
Hari ini kita mau ngobrolin tentang warisan terbaik buat anak./ Ayah Ibu Pergi, Apa yang Tertinggal?”
Bukan soal tabungan emas, bukan juga soal rumah megah,
dan bukan juga deretan piagam atau ranking.
Tapi tauhid dan adab.
📌 Tauhid: agar anak tahu siapa Rabb-nya.
📌 Adab: agar anak tahu cara hidup yang Allah ridhai.
Karena sehebat apapun anak kita di mata manusia…
Kalau dia gak kenal Allah, gak kenal Rasul-Nya, dan gak tahu cara bersikap yang benar…
Maka itu bukan sukses, tapi celaka yang tertunda.
➡️ Maka sebelum kita sibuk ngajarin anak baca A-B-C…
Yuk, kita pastikan mereka tahu: A-nya adalah Allah, dan B-nya adalah bertauhid.
💖 2. Anak Itu Amanah, Bukan Aset
Saudaraku, anak itu bukan aset dunia yang bisa kita cetak jadi "versi upgrade" dari ambisi pribadi kita.
Bukan juga proyek pamer prestasi.
Anak adalah amanah dari Allah, titipan yang harus dijaga, bukan dipaksa jadi seperti yang kita mau.
Allah ﷻ berfirman:
> "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…"
(QS. At-Tahrīm: 6)
📌 Tugas utama kita bukan cuma nyari sekolah favorit atau les terbaik.
Tapi menyelamatkan mereka dari neraka, membimbing mereka menuju surga.
Jangan sampai sibuk ngejar ranking, tapi lupa mengajarkan mengenal Rabb-nya.
Jangan sampai bangga saat anak masuk olimpiade, tapi gagal menanamkan shalat dan tauhid ke dalam hatinya.
➡️ Karena pada akhirnya, Allah tak tanya ranking anak kita... tapi siapa yang dia sembah, dan bagaimana akhlaknya.
---
🧠 3. Prioritas Pendidikan: Tauhid Dulu, Baru yang Lain
Saudaraku…
Kalau kita lihat pola dakwah Nabi ﷺ, ada satu hal yang sangat jelas:
📌 13 tahun di Makkah, Rasulullah ﷺ fokus mendidik umat tentang tauhid.
Belum ada perintah zakat, belum puasa, belum ada pembahasan waris, ekonomi, atau fiqih-fiqih detil.
Kenapa?
Karena tauhid itu pondasi.
➡️ Mau bangun rumah sebagus apa pun, kalau pondasinya rapuh, pasti roboh.
Begitu juga hidup: mau anak hafal rumus matematika, jago bahasa asing, atau masuk jurusan favorit…
Tapi kalau pondasi akidahnya rapuh, semua itu nggak ada harganya di sisi Allah.
📌 Tauhid itu bukan sekadar pelajaran agama.
Tauhid itu identitas, arah hidup, dan bekal mati.
Coba ingat…
Ada 3 pertanyaan kubur yang pasti ditanyakan:
1. Siapa Rabbmu?
2. Siapa Nabimu?
3. Apa agamamu?
➡️ Dan jawabannya bukan dihafal malam sebelum ujian.
Jawabannya tergantung seberapa dalam hal itu hidup di hati dan amal anak kita.
Jadi, kalau anak kita ranking 1, tapi gak kenal Allah…
Itu bukan prestasi, tapi peringatan.
Kalau anak kita jago debat, tapi gak cinta Rasulullah ﷺ…
Berarti ada yang salah dalam prioritas pendidikan kita.
📌 Maka yuk ubah mindset:
Bukan cuma pengen anak jadi cerdas, tapi jadi beriman.
Bukan cuma ngejar anak jadi sarjana, tapi jadi hamba Allah yang kenal Tuhannya.
---
🍽️ 4. Ajari Tauhid Lewat Adab Sehari-hari
📌 Tauhid bukan cuma materi pelajaran. Tauhid bisa diajarkan lewat adab kecil sehari-hari.
Contoh: Adab makan.
> "Wahai anak, ucapkan bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makan dari yang dekat denganmu."
(HR. Bukhari-Muslim)
Bayangkan, ini disampaikan langsung oleh Nabi ﷺ ke anak kecil!
📌 Bahkan Nabi ﷺ menahan tangan anak yang menyambar makanan, karena:
> "Setan ikut makan bersama orang yang tidak menyebut nama Allah."
(HR. Muslim)
➡️ Jadi adab itu bukan sekadar sopan, tapi benteng dari gangguan setan.
---
📌 Maka jangan sungkan ngajarin anak sejak dini. Karena seperti kata pepatah:
> "Anak akan tumbuh sesuai kebiasaan yang dibentuk oleh orang tuanya."
Kalau anak diajari Qur’an dan sunnah setiap hari, tentu beda hasilnya dibanding anak yang hanya disuguhi tontonan atau ucapan kasar setiap waktu.
Ikrimah — murid Ibn ‘Abbas — pernah berkata:
> “Aku pernah diikat oleh Ibn Abbas agar aku semangat belajar Al-Qur’an.”
Karena Ibn Abbas melihat potensi besar dalam diri Ikrimah, ia serius membimbingnya — bahkan sampai mengikatnya (dalam konteks mendidik).
📌 Orang tua yang sayang anak, akan serius dalam mendidik… bukan cuma marah saat anak salah, tapi sabar mengajari saat anak belum paham.
🚪 5. Ajari Anak Adab Minta Izin
Zaman sekarang, kita sering fokus ngajarin anak skill: coding, bahasa asing, public speaking…
Tapi satu adab penting ini sering terlewat:
➡️ Adab minta izin sebelum masuk kamar.
Padahal Allah langsung yang ngajarkan hal ini dalam Al-Qur’an:
> "Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah anak-anak kalian yang belum baligh meminta izin kepadamu dalam tiga waktu: sebelum Subuh, saat istirahat siang, dan setelah Isya." (QS. An-Nūr: 58)
📌 Tiga waktu ini disebut waktu aurat, waktu-waktu di mana biasanya orang tua sedang dalam kondisi lebih terbuka, lebih santai, bahkan kadang belum berpakaian lengkap.
🔹 Sebelum Subuh – karena baru bangun tidur
🔹 Saat istirahat siang – biasanya sedang lepas pakaian luar
🔹 Setelah Isya – waktunya istirahat malam
➡️ Anak-anak harus diajari untuk mengetuk pintu dan minta izin sebelum masuk.
Bukan karena kita nggak sayang, tapi justru karena kita sayang dan ingin menjaga fitrah mereka.
Karena kalau anak terbiasa buka kamar sembarangan,
lalu tanpa sengaja melihat sesuatu yang belum layak dilihat,
itu bisa mengganggu hati dan membekas di ingatan.
Dan sekarang, banyak anak yang lebih ngerti privasi orang lain di dunia maya daripada privasi orang tua sendiri di rumah.
📌 Maka yuk mulai dari rumah.
Ajari anak:
🔸 "Kalau mau masuk kamar, ketuk dulu ya…"
🔸 "Kalau pintunya ketutup, berarti lagi pengen sendiri, bukan marah."
➡️ Ini bukan hanya soal sopan santun, tapi pelajaran menjaga kehormatan diri dan orang lain — sejak kecil.
Dan kalau kita mulai disiplin dari sekarang, insya Allah anak akan tumbuh jadi pribadi yang tahu batas, tahu malu, dan tahu adab.
---
📺 6. Jaga Anak dari Tayangan Rusak
Saudaraku…
Hari ini, banyak orang tua berjuang keras beli HP terbaik buat anaknya.
Tapi lupa untuk mengawasi apa yang dilihat lewat layar kecil itu.
Akhirnya…
👀 Anak nonton:
❌ Joget TikTok yang nggak senonoh
❌ Drama cinta-cintaan anak remaja
❌ Video prank kasar dan adegan kekerasan
Awalnya kita pikir: “Ah, cuma hiburan kok…”
Tapi lama-lama?
📉 Nilai adab luntur. Tauhid terkikis. Fitrah rusak pelan-pelan.
Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan:
> “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari-Muslim)
📌 Dan hari ini…
Yang bisa merusak fitrah itu bukan cuma lingkungan luar.
Tapi gadget yang kita belikan sendiri, WiFi yang kita bayar sendiri, dan tontonan yang kita biarkan sendiri.
Kadang, setan nggak perlu masuk lewat pintu…
Cukup lewat iklan YouTube dan explore Instagram. 😢
Lalu kita heran:
🗯️ “Kok anak jadi kasar, suka ngelawan, omongannya gak enak ya?”
🗯️ “Kok anak lebih ngerti tren TikTok daripada hafal surat pendek?”
Jawabannya: Karena itu yang tiap hari dia tonton.
📌 Anak belajar dari yang sering dia lihat, bukan dari yang sesekali kita ucapkan.
Maka kalau kita benar-benar sayang…
➡️ Berani membatasi.
➡️ Berani bilang, “Ini cukup, Nak. Bukan karena ayah/ibu galak, tapi karena kami ingin kamu selamat.”
➡️ Isi harinya dengan Qur’an, kisah sahabat, dan tontonan yang mendidik.
Karena kalau YouTube dan TikTok jadi guru utama, maka ayah dan ibu hanya jadi penonton — di rumah sendiri.
---
---
🥇 7. Tanamkan Jiwa Besar dan Cinta Ilmu
Saudaraku…
Kalau kita lihat generasi sahabat Nabi ﷺ, kita bakal takjub:
Anak-anak mereka punya jiwa besar… meski badan mereka masih kecil.
🔹 Ibnu Umar daftar jihad di usia 14 tahun.
Waktu itu beliau datang ke Nabi ﷺ dan bilang ingin ikut perang. Ditolak karena masih terlalu muda. Tapi setahun kemudian, umur 15, diizinkan ikut perang Khandaq.
➡️ Lihat, anak seusia SMP sekarang… sudah berpikir ingin berjuang di jalan Allah!
🔹 Anas bin Malik jadi khadim (pelayan pribadi) Nabi ﷺ sejak umur 10 tahun.
Bukan disuruh-suruh, tapi beliau bangga dan bahagia bisa dekat dengan Rasulullah ﷺ.
Bayangin… anak 10 tahun zaman sekarang masih sibuk rebutan HP — Anas sudah jadi bagian dari sejarah kenabian.
🔹 Ibnu Abbas, sepupu Nabi ﷺ, dikenal sebagai ulama tafsir paling top di kalangan sahabat.
Kenapa? Karena Nabi mendoakan beliau, dan karena didampingi sejak kecil.
> “Ya Allah, berikan dia pemahaman agama dan ajarkan tafsir kepadanya.”
(HR. Ahmad)
📌 Mereka bukan anak-anak yang hanya bisa main… tapi anak-anak yang disiapkan untuk memimpin.
Sekarang coba kita tanya diri sendiri…
🗯️ Anak kita lebih hapal nama pemain bola… atau nama sahabat Nabi?
🗯️ Lebih paham tentang fitur game… atau isi surat Al-Fatihah?
➡️ Maka tugas kita bukan cuma sekadar menyekolahkan, tapi menumbuhkan semangat besar dalam jiwa mereka.
📌 Arahkan mereka untuk:
Mencintai ilmu — bukan sekadar lulus ujian, tapi karena tahu ilmu itu cahaya.
Mengenal perjuangan Islam — agar punya cita-cita jadi pejuang kebenaran, bukan hanya pegawai sukses.
Mencintai hadits, Al-Qur’an, dan sejarah Islam — bukan cuma sejarah dunia yang dipelajari di sekolah.
🔑 Karena kalau sejak kecil anak sudah biasa mendengar kisah sahabat, ulama, dan para pejuang Islam, maka jiwanya akan tumbuh bukan cuma cerdas, tapi kuat dan berani.
Dan semangat itu tak akan tumbuh dari hiburan yang berlebihan…
Tapi dari pendampingan orang tua, dari doa setiap malam, dan dari waktu yang diberikan dengan cinta.
---
🧭 8. Ajari Akhlak dan Tanggung Jawab
Saudaraku…
Hari ini banyak orang tua bangga luar biasa kalau anaknya juara kelas, hafal kosakata Inggris, bisa presentasi depan umum, atau masuk sekolah favorit.
Tapi…
Giliran anak ngejek ayahnya, malah diketawain.
Anak berani ngomel ke ibunya, malah dibilang “pintar ngomong”.
📌 Awas, ini salah kaprah dalam mendidik!
Kita sering terlalu fokus sama nilai akademik, sampai lupa bahwa akhlak jauh lebih penting di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Bukan dari golongan kami, orang yang tidak memuliakan yang tua, menyayangi yang muda, dan tidak mengenal hak ulama.”
(HR. Ahmad)
Artinya:
➡️ Anak yang pintar tapi tidak tahu adab, itu bukan prestasi.
➡️ Anak yang sopan dan bertanggung jawab, meski nilainya biasa saja, itulah mutiara sejati.
📌 Dan yang perlu kita ingat: Akhlak itu tidak lahir dari omelan… tapi dari keteladanan.
Kita nggak bisa nyuruh anak santun kalau kita sendiri suka kasar.
Kita nggak bisa minta anak jujur kalau kita sering ngibul di depan mereka.
Contoh kecil:
Kalau ada tamu, ajak anak bantu menyambut, suguhkan minuman.
Kalau ada masalah, ajak diskusi, bukan bentak-bentak.
Kalau anak salah, tegur dengan adil — jangan main semprot tanpa penjelasan.
➡️ Akhlak itu butuh pembiasaan, keteladanan, dan ruang belajar.
Dan jangan lupa:
🧠 Akhlak bukan hanya urusan anak.
Tapi cerminan rumah, dan cerminan orang tuanya.
Kalau rumah kita penuh adab, anak pun akan tumbuh dengan akhlak.
Tapi kalau rumah kita penuh teriakan, makian, dan ejekan — ya jangan heran kalau anak tumbuh kasar dan egois.
📌 Maka yuk, mulai dari hal kecil:
Ajari anak berkata “terima kasih” dan “maaf”
Ajari menghormati yang lebih tua
Ajari tanggung jawab sejak dini: beresin mainan, bantu di rumah, jujur kalau salah
Karena dunia ini tidak hanya butuh anak pintar…
Tapi juga butuh anak yang berakhlak, bertanggung jawab, dan tahu cara menghormati orang lain.
---
🔒 9. Ajari Anak Menjaga Rahasia
Saudaraku…
Anak zaman sekarang hidup di era yang serba terbuka.
Apa pun yang terjadi — langsung di-posting.
Baru dimarahin orang tua… masuk story.
Baru berantem sama adik… jadi konten.
Kadang tanpa sadar, aib keluarga sendiri diumbar ke publik.
Padahal Rasulullah ﷺ mendidik sahabat kecilnya — Anas bin Malik — untuk menjaga rahasia.
> Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anhu berkata:
“Nabi ﷺ pernah menyampaikan pesan rahasia padaku. Aku tidak menceritakannya kepada siapa pun, bahkan kepada ibuku sekalipun.”
(HR. Muslim)
📌 Luar biasa…
Anak seusia Anas sudah paham tentang amanah dan tanggung jawab menjaga rahasia.
Bandingkan dengan hari ini:
Anak-anak sering tidak tahu batas —
Semua yang dia dengar, lihat, dan rasakan… langsung disebar.
➡️ Maka orang tua harus mulai menanamkan nilai ini sejak dini.
Ajarkan anak:
🗣️ “Nggak semua yang kamu lihat di rumah, harus kamu ceritain keluar.”
🗣️ “Kalau ada hal pribadi, simpan baik-baik. Itu bukan buat diumbar.”
Karena menjaga rahasia bukan cuma soal sopan santun —
Tapi ini bagian dari karakter amanah, akhlak mulia, dan kedewasaan.
📌 Kalau anak terbiasa menyimpan rahasia yang pantas dijaga…
Maka besar nanti dia akan bisa dipercaya, jadi pribadi yang tidak gampang menyebarkan aib orang lain.
Dan ingat, menjaga rahasia juga berarti:
🔹 Tidak membongkar masalah orang tua
🔹 Tidak menyebar konflik keluarga
🔹 Tidak asal cerita di depan teman atau publik
Karena kadang, yang membuat orang tua malu bukan perbuatannya sendiri… tapi cerita jujur dari anak yang belum diajari adab.
➡️ Maka yuk mulai sekarang, ajarkan batas dan tanggung jawab.
Agar anak-anak kita tumbuh jadi pribadi yang:
✅ Amanah
✅ Bijak bicara
✅ Dan bisa dipercaya oleh Allah dan manusia
.
---
📏 10. Pendidikan Akhlak Butuh Ketegasan
Saudaraku…
Mendidik anak itu nggak cukup hanya dengan lembut dan sayang.
Harus ada ketegasan.
Nabi ﷺ bersabda:
> "Gantungkan cambuk di tempat yang terlihat oleh penghuni rumah."
(HR. Thabrani)
🛑 Ini bukan perintah untuk memukul!
Tapi simbol ketegasan. Sebuah pesan:
📌 “Di rumah ini ada aturan, ada adab, dan ada batas yang harus dijaga.”
Karena kalau rumah terlalu lembek,
➡️ Anak bisa tumbuh jadi manja, keras kepala, dan anti dikoreksi.
Sebaliknya, kalau semua pakai bentakan,
➡️ Anak bisa tumbuh dengan ketakutan, dan kehilangan rasa percaya diri.
📌 Maka yang dibutuhkan adalah keseimbangan:
💗 Ada kasih sayang,
📏 Tapi juga ada aturan yang tegas.
Contoh kecil:
Kalau anak nggak mau sholat, jangan langsung dibentak, tapi juga jangan dibiarkan.
➡️ Tunjukkan bahwa sholat itu wajib, bukan negosiasi.
Kalau anak mulai ngomong kasar, jangan ditertawakan.
➡️ Tunjukkan bahwa ada konsekuensi untuk kata-kata buruk.
❌ Jangan semua pakai lembut — nanti anak mengira semua bisa ditawar.
❌ Jangan semua pakai marah — nanti anak tumbuh dalam tekanan.
✅ Tapi ajarkan disiplin dengan cinta.
✅ Ajarkan adab dengan arahan.
✅ Ajarkan tanggung jawab dengan contoh nyata.
📌 Ketegasan bukan berarti marah-marah,
Tapi jelas aturan, konsisten sikap, dan hadir dalam pembinaan.
Karena anak yang tidak dibiasakan dengan aturan…
Akan sulit membedakan antara kebebasan dan kebablasan.
---
🧓 11. Jadi Teladan Bagi Anak
Saudaraku…
Anak itu lebih cepat meniru daripada mendengar.
Kita bisa kasih ceramah satu jam,
Tapi satu menit perilaku kita yang bertolak belakang, bisa meruntuhkan semua nasihat.
Misalnya...
🗣️ “Nak, jangan kebanyakan main HP ya.”
Tapi anak lihat: ayahnya scroll TikTok dari pagi sampai malam.
🗣️ “Nak, baca Qur’an dulu sebelum main.”
Tapi anak belum pernah lihat ibunya pegang mushaf setelah Subuh.
➡️ Anak akhirnya bingung:
"Ini nasihat… atau tutorial diam-diam?"
📌 Anak belajar lewat contoh, bukan kata-kata.
Kalau kita ingin anak:
Cinta Allah ﷻ ➡️ kita harus lebih dulu menyebut nama Allah dalam keseharian.
Rajin shalat ➡️ jangan cuma nyuruh, tapi barengin mereka ke masjid.
Punya adab ➡️ pastikan ayah dan ibu juga jaga lisan dan sikap.
🌾 Dalam pepatah Arab disebut:
> "Siapa yang menanam, dia yang akan memanen."
Kalau kita menanam teladan, insyaAllah kita akan memanen akhlak yang baik dari anak-anak kita.
Tapi kalau yang kita tanam adalah:
Keluhan
Kata-kata kasar
Ketidakkonsistenan
Jangan heran kalau tumbuhnya adalah anak yang keras hati, labil, dan mudah memberontak.
📌 Rumah itu adalah sekolah pertama.
Dan ayah-ibu adalah guru pertama.
Kita sedang diobservasi setiap hari — tanpa absen.
Anak bisa lupa pelajaran di sekolah,
Tapi nggak pernah lupa gaya hidup orang tuanya.
➡️ Maka mulai sekarang, sebelum mengubah anak…
ubah dulu diri kita.
Karena teladan itu bukan hal besar — tapi hal kecil yang diulang setiap hari.
---
🎁 12. Penutup & Pesan Inti
Saudaraku…
Pendidikan anak itu bukan lomba cepat-cepatan sukses.
Bukan siapa duluan bisa baca, duluan bisa ngoding, duluan masuk kampus favorit.
📌 Tapi ibadah jangka panjang.
Yang butuh kesabaran, istiqamah, dan doa tanpa henti.
Karena yang kita tanam hari ini…
Baru akan kita panen 5, 10, bahkan 20 tahun ke depan.
Jadi jangan kecewa kalau hari ini belum kelihatan hasilnya.
Jangan menyerah saat anak belum sesuai harapan.
🌱 Karena setiap anak itu benih — dan setiap benih butuh waktu.
---
🎯 Maka inilah pesan utamanya:
✅ Ajari anak tentang Allah, bukan cuma alfabet.
Karena mengenal Allah lebih penting daripada sekadar pintar baca.
✅ Ajari adab sebelum ilmu.
Karena ilmu tanpa adab hanya melahirkan kecerdasan yang arogan.
✅ Jauhkan mereka dari tontonan rusak.
Karena satu jam nonton bisa merusak nilai yang kita tanam selama sepekan.
✅ Tanamkan cinta ilmu dan semangat perjuangan.
Agar mereka tumbuh bukan hanya sebagai “anak pintar”, tapi hamba Allah yang bermanfaat.
✅ Dan jadilah teladan, bukan sekadar penceramah.
Karena anak meniru lebih cepat daripada mencerna.
---
🛑 Di akhirat nanti, Allah tidak akan tanya: 📄 “Anakmu ranking berapa?”
🏅 “Anakmu keterima di universitas mana?”
Tapi Allah akan tanya:
🧠 “Apa yang kau ajarkan tentang Aku?”
❤️ “Seberapa dalam tauhid dan akhlak yang kau wariskan?”
📌 Maka jangan jadikan anak sebagai beban ambisi pribadi.
Tapi jadikan mereka ladang amal jariyah yang menyelamatkan kita dunia-akhirat.
---
✨ Mari tutup dengan doa:
> اللهم اجعل أبناءنا من عبادك الصالحين، المحبين لك ولرسولك، الحافظين لكتابك، والناشئين على طاعتك، وبارك لنا فيهم، واجعلهم قرة أعين لنا في الدنيا والآخرة. آمين.
Jangan GR, Semua Karena Allah
Oleh: Ustadz Nuruddin Abu Faynan
Assalamualaikum, teman-teman...
Di zaman sekarang, nggak sedikit kita lihat:
Ada yang baru be...lajar sebentar,
¤ tapi sudah merasa paling paham.
Ada guru yang muridnya sukses,
¤ langsung yakin semua karena metodenya sendiri.
Padahal... hati-hati, ya.
Jangan terlalu percaya diri.
Jangan sampai lupa, bahwa segala keberhasilan itu adalah karunia dan kemudahan dari Allah semata.
Imam As-Sa’di rahimahullah pernah mengingatkan dengan sangat dalam:
“Hendaklah setiap hamba sadar bahwa Allahlah yang menciptakan sebab dan memudahkannya. Maka, waspadalah—jangan sampai engkau kagum pada dirimu sendiri, dengan kecerdasan dan kepandaianmu. Karena itulah awal dari kehancuran.”
Coba renungkan…
● Bisa jadi keberhasilanmu hari ini berkat doa tulus orang tua.
● Atau karena barakah dari orang-orang shalih di sekitarmu, yang bahkan kamu nggak sadar.
● Mungkin juga dari amal kecil yang kamu sudah lupa pernah lakukan.
Tapi kalau Allah mencabut pertolongan-Nya...?
Seketika semua yang kamu banggakan bisa runtuh.
Jadi, yuk tetap rendah hati.
Bersyukur... dan jangan GR.
YukNgaji Tauhid
🎬 “Laa ilaaha illallaah: Kalimat yang Mengubah Segalanya”
📢 Nuruddin Abu Faynan
Bukan sekadar kata, ini kalimat yang jadi pondasi hidup.
L...angit dan bumi diciptakan karena kalimat ini.
Para nabi diutus untuk menyampaikan kalimat ini.
Dan Rasulullah ﷺ paling banyak mengucapkannya… di hari Arafah.
Laa ilaaha illallaah…
Kalimat yang menghubungkan kita langsung dengan Allah.
Kalimat yang jadi kunci surga, dan inti agama.
Kalimat ini bukan cuma buat diucap. Tapi buat dihidupkan.
💡 Yuk, di hari Arafah yang penuh berkah ini…
perbanyak dzikir terbaik: Laa ilaaha illallaah.
Bukan cuma di bibir… tapi juga di hati.
Semoga hidup kita ikut berubah karenanya 🤲
YukNgaji Tarbiah
📝 Sekolah: Ladang Tarbiyah, Bukan Tempat Titip Anak
✍️ Nuruddin Abu Faynan
Di zaman sekarang, sekolah itu bukan sekadar tempat ngumpulin nilai. Tap...i jadi salah satu ladang penting buat numbuhin akhlak, karakter, dan iman.
Makanya, Syaikh Ibnu Baz رحمه الله perhatian banget sama dunia pendidikan.
Beliau nggak cuma dukung dari jauh. Tapi juga:
✔️ Nanyain kabar sekolah
✔️ Semangatin para guru
✔️ Dorong peningkatan kualitas
✔️ Sering turun langsung ke sekolah-sekolah
📖 (Mawāqif Mudhī’ah, hlm. 24)
Bahkan, beliau suka kasih arahan langsung ke para siswa dan guru.
Salah satu nasihat kerennya:
🗣️ "Kalau guru pengen ilmunya nempel di otak murid, dia harus paham banget materinya, ngerti cara ngajarnya, dan bisa bikin murid fokus ke inti pelajaran. Jangan muter-muter ke hal yang nggak nyambung, nanti murid malah bingung dan nggak dapet apa-apa.”
📚 (Majmū’ Fatāwā, 2/319)
⚠️ Nggak cuma itu...
Syaikh Ibnu Baz رحمه الله juga tegas banget soal sekolah campur (laki-laki dan perempuan).
🗣️ "Siapa aja yang ngerti kondisi dunia sekarang, pasti tau betapa rusaknya masyarakat karena ikhtilāṭ—baik di sekolah, tempat kerja, atau lainnya. Dampaknya: rusak moral, makin banyak maksiat, dan kerusakan besar.”
📌 Beliau tutup dengan nasihat penting:
"Ini semua nunjukin indahnya syariat Islam. Maka kewajiban kita: patuhi aturan syariat di semua kondisi, zaman, dan tempat. Dan jauhi semua yang bertentangan dengannya."
🔖 (Diringkas dari fatwa beliau)
📚 Kesimpulannya?
Syaikh Ibnu Baz رحمه الله nggak anggap remeh pendidikan.
Buat beliau, sekolah itu alat tarbiyah paling penting—yang harus dijaga sistemnya, gurunya, siswanya, dan nilai-nilainya.
---
🎯 Sekolah bukan tempat titip anak... tapi tempat bentuk umat!
Kalau sistemnya rusak, jangan kaget kalau generasi ikut kacau.
Yuk, jadi bagian dari perubahan!
YukNgaji Parenting
🌟 <strong>Sunat & Fitrah: Lebih dari Sekadar Budaya</strong>
📝 Nuruddin Abu Faynan
📚 Disarikan dari Fiqh Tarbiyatul Abna’ –... Syaikh Musthafa Al-‘Adawi, hlm. 59
---
Buat laki-laki, sunat itu wajib.
Untuk perempuan, sunat itu dianjurkan.
Dalilnya? Nabi ﷺ bersabda:
> “Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Hadits ini umum, berlaku buat cowok dan cewek.
---
📌 Ada juga hadits lain yang secara khusus menyebut khitan perempuan.
Meski sebagian ulama menilai sanadnya lemah, isinya tetap penting untuk dipahami.
🔹 Nabi ﷺ pernah bilang ke Ummu ‘Aṭiyyah (yang bantu sunat anak perempuan):
> “Kalau menyunat, jangan berlebihan. Itu lebih menyehatkan wajah dan lebih disenangi suami.”
(Diriwayatkan Al-Khaṭīb Al-Baghdādī – sanadnya lemah)
🔹 Riwayat serupa dari Abu Dawud juga menyebut:
> “Jangan berlebihan, itu lebih baik untuk wanita dan lebih disukai suami.”
(Tapi sanadnya juga masih diperselisihkan)
🔹 Ada hadits lain:
> “Khitan itu sunnah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi perempuan.”
Namun ini juga dhaif (lemah).
---
📌 Kesimpulannya?
✅ Sunat itu wajib buat laki-laki
✅ Untuk perempuan: dianjurkan, tapi nggak wajib
📚 Ini pendapat mayoritas ulama.
Dan tetap ada beberapa pandangan lain.
Wallāhu a‘lam.
<strong>Iblis Main Halus: Bikin Kita Lupa Ngaji</strong>
oleh Nuruddin Abu Faynan
بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum, teman-tema...n...
Pernah gak sih ngerasa hati tuh kayak gelap, bingung, gampang meledak emosi, atau malah ngerasa kosong dan hampa?
Bisa jadi... itu karena kita jauh dari cahaya.
Tenang, ini bukan soal ringlight, tapi cahaya ilmu.
Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullah pernah bilang:
> "اعْلَمْ أَنَّ أَوَّلَ تَلْبِيسِ إِبْلِيسَ عَلَى النَّاسِ صَدَّهُمْ عَنِ الْعِلْمِ، لِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ، فَإِذَا أَطْفَأَ مَصَابِيحَهُمْ خَبَطَهُمْ فِي الظُّلْمَةِ كَيْفَ شَاءَ"
"Ketahuilah, bahwa tipuan pertama Iblis terhadap manusia adalah menjauhkan mereka dari ilmu. Sebab ilmu itu cahaya. Jika Iblis berhasil memadamkan cahaya mereka, ia akan menyesatkan mereka dalam kegelapan sekehendaknya."
(Talbis Iblis, hal. 283)
Jadi, iblis itu gak perlu langsung nyuruh kita maksiat.
Cukup bikin kita males belajar.
Selebihnya? Kita nyasar sendiri tanpa sadar.
Coba deh jujur sama diri sendiri…
Udah berapa lama gak buka Al-Qur’an?
Kapan terakhir kali duduk di majelis ilmu?
Kapan terakhir kali dengerin ustadz yang lurus ngajarin tauhid?
Jangan-jangan, kita bukan cuma sibuk…
Tapi memang udah sukses dijebak iblis. Halus, tapi mematikan.
Inget ya, kawan...
Iblis itu gak takut sama status kita, gelar kita, atau hafalan kita.
Yang dia takutin cuma satu:
Kalau kita belajar ilmu syar’i dengan ikhlas.
Maka dari itu, yuk mulai lagi dari sekarang:
Buka Qur’an.
Buka hati.
Cari ilmu.
Karena ilmu itu cahaya.
Tanpa cahaya, kita jalanin hidup ini dalam kegelapan.
Gelap di dunia, dan bisa jadi… gelap juga di akhirat—na’udzubillah.
Pernah nggak kepikiran, kenapa Islam itu ngasih perhatian besar banget ke anak—bahkan sebelum anak itu lahir? Bahkan sebelum proses kehamilan, bahkan sejak malam pertama nikah, Islam udah kasih panduan. Keren, ya?
Artinya: jadi orang tua tuh bukan tiba-tiba. Bukan cuma nunggu garis dua di testpack. Tapi dimulai dari niat, dari doa, dari persiapan spiritual. Karena punya anak itu bukan soal nambah anggota keluarga, tapi nambah amanah dari Allah.
Makanya, judul kita hari ini adalah:
“Start dari Hati: Persiapan Jadi Orang Tua Barokah”
Bukan cuma nunggu anak lahir, tapi siapkan diri sejak dini.
Mukadimah: Niat Jadi Orang Tua, Niat Jadi Hamba
Jadi orang tua bukan sekadar punya anak. Tapi jalan menuju surga—kalau diniatkan dan dijalani dengan benar. Islam membimbing kita sejak sebelum anak hadir ke dunia. Yuk kita lihat langkah-langkahnya:
1. Malam Pertama: Doa & Harapan
Pas pertama kali berduaan sama istri, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam ngajarin kita untuk membuka momen itu dengan doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
"Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan dalam dirinya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan apa yang Engkau ciptakan dalam dirinya."
(HR. Abu Dawud – hasan)
Bahkan hubungan suami istri bisa jadi ibadah, kalau dimulai dengan doa.
2. Doa Saat Jima': Perlindungan untuk Keturunan
Saat berhubungan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan:
بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
"Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami."
(HR. Bukhari & Muslim)
Kalau Allah takdirkan anak dari hubungan itu, kata Nabi, anak itu tidak akan diganggu oleh setan. Luar biasa, ya? Bahkan sebelum anak ada pun, kita sudah jagain mereka dengan doa.
3. Anak Lahir: Ridho Tanpa Syarat
Mau laki-laki atau perempuan, semua karunia dari Allah:
يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ
أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا
"Dia memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan anak laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki."
(QS. Asy-Syura: 49–50)
Jangan kecewa atau pilih-pilih. Siapa tahu anak perempuanmu justru jadi penyelamatmu di akhirat.
4. Anak Laki-laki Bukan Jaminan, Anak Perempuan Bukan Beban
Bandingkan:
Fāṭimah binti Rasulullah: Penghulu wanita surga.
Anak Nabi Nūḥ: Durhaka dan tenggelam dalam kekufuran.
Bahkan dalam kisah Nabi Khidr dan anak kecil yang dibunuh:
وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا
"Adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang beriman, dan kami khawatir dia akan membebani mereka dengan kedurhakaan dan kekafiran."
(QS. Al-Kahfi: 80)
Bukan jenis kelaminnya yang penting, tapi keimanan dan akhlaknya.
5. Hadiah Besar Bagi yang Diuji Anak Perempuan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ – وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
"Siapa merawat dua anak perempuan sampai baligh, maka aku dan dia akan bersama di hari kiamat seperti ini." (Beliau merapatkan dua jarinya)
(HR. Muslim)
Dalam kisah ibu miskin yang berbagi kurma dengan dua anaknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا الْجَنَّةَ، أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ
"Sungguh, Allah telah mewajibkan surga baginya, atau membebaskannya dari neraka."
(HR. Muslim)
6. Anak Itu Ujian, Bukan Simbol Kehebatan
Anak laki-laki bisa jadi sumber ujub dan kebanggaan kosong. Anak perempuan bisa jadi penyejuk dan pengingat akhirat. Semua tergantung bagaimana kamu mendidiknya.
7. Belajar dari Para Nabi: Setiap Anak Punya Cerita
Nabi Ibrāhīm: Punya Ismā‘īl dan Ishāq.
Nabi Lūṭ: Disebut punya anak perempuan.
Nabi Muḥammad: Anak laki-lakinya wafat, tapi Fāṭimah justru yang membanggakan.
Nabi Yaḥyā: Mulia sebagai nabi, tapi tak disebut punya anak.
Setiap anak punya cerita—dan tiap orang tua punya peran besar dalam menuliskannya.
Penutup
Saudaraku yang dimuliakan Allah,
Kalau mau punya anak yang shalih, cinta Al-Qur’an, jujur, santun, takut pada Allah, dan cinta Nabi—semua itu harus dimulai dari kita.
Allah nggak pernah salah kasih anak. Tapi kadang kita yang salah dalam menyikapi anak.
Jangan berharap anakmu jadi seperti Nabi Yūsuf, kalau kamu belum siap jadi orang tua seperti Ya‘qūb.
Mari tutup dengan doa Nabi Ibrāhīm:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
"Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku (anak) yang termasuk orang-orang shalih."
(QS. Ash-Shaffāt: 100)
Tapi sebelum minta anak shalih, pastikan dulu kita siap jadi orang tua yang shalih.
Semoga Allah karuniakan anak-anak yang jadi penyejuk mata dan penuntun langkah menuju surga. Āmīn.
Catatan:
Disarikan dari Fiqh Tarbiyatul Abnā’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawi (hlm. 34–38), dengan penyesuaian gaya bahasa agar lebih mudah dipahami.
YukNgaji Parenting
🪵 Karena Allah Bisa Balikkan Hati Siapa Aja
🎙️ Nuruddin Abu Faynan
Kisah nyata dalam Al-Qur’an...
Tentang seorang anak di cerita Ashḥ...ābul Ukhdūd (QS. Al-Burūj).
📌 Bukan anak ustaz.
📌 Orang tuanya kafir.
📌 Disuruh belajar sihir — bukan ngaji Qur’an.
Tapi di tengah jalan...
🛑 Allah pertemukan dia sama seorang rahib (ahli ibadah).
Dan hidupnya berubah total!
Dari murid tukang sihir → jadi penyeru tauhid satu negeri! 🌟
💡 Siapa yang balikin hatinya?
👉 Bukan ortu. Bukan guru. Tapi Allah.
> "يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ"
(QS. Al-Baqarah: 213)
“Allah beri petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
---
🎯 Pelajaran buat para ortu zaman sekarang:
Mau anak selamat dari fitnah zaman?
Gak cukup cuma:
✅ Sekolahnya bagus
✅ Screen time dibatasi
Yang paling penting:
📍 Doa tulus tiap hari
📍 Tawakal yang dalam
📍 Minta penjagaan Allah, bukan cuma pengawasan kita
> "Yā Allāh, jaga hati anak-anak kami...
Jangan Engkau serahkan mereka pada diri mereka sendiri, walau sekejap."
YukNgaji Tauhid
🟤 Hidup Penuh Tauhid, Gak Cuma di Masjid
Nuruddin Abu Faynan
---
🎯 “Hidup, Mati, Shalat, Sembelih — Semua Buat Allah”
(QS. Al-An...ām: 162-163)
❌ Bukan buat gengsi
❌ Bukan buat tradisi
❌ Apalagi buat nyenengin jin atau manusia 😬
---
🧭 Syarat Ibadah Cuma Dua:
1️⃣ IKHLAS — Hanya untuk Allah
2️⃣ SESUAI TUNTUNAN — Gak ngarang sendiri
⚠️ Jadi kalau sembelih hewan niatnya biar gak diganggu makhluk halus…
➡️ Hati-hati, bisa belok dari tauhid! 🚨
---
💡 TAUHID ITU NYATA
🔸 Bukan cuma teori di buku
🔸 Sembelih kambing pun bisa jadi pahala… atau malah syirik 😳
🔸 Hidup dan mati pun wajib total buat Allah
---
📖 Q.S. Al-An‘ām: 163
﴿وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ﴾
"Dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri."
📝 Qatādah berkata:
> “Setiap nabi pasti lebih dulu masuk Islam sebelum umatnya.”
(Tafsīr ath-Ṭabarī)
🔁 Karena misi semua nabi itu sama:
❗Ngajak manusia buat ibadah hanya kepada Allah.
---
📍 Jangan korbankan tauhid demi rasa gak enakan atau adat lingkungan.
Karena hidup kita — dari shalat, sembelih, sampai napas terakhir —
semua HARUS karena Allah.